TEL AVIV, TERMINALNEWS.ID – Sedikitnya lebih dari 100 orang dilaporkan terluka setelah serangan rudal balistik Iran menghantam kota selatan Israel, Dimona dan Arad, pada Sabtu (21/3/2026).
Petugas medis menyebutkan, 11 korban berada dalam kondisi serius setelah sistem pertahanan udara Israel gagal mencegat setidaknya dua rudal tersebut.
Dalam pernyataannya, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Eyal Zamir menegaskan akan terus melanjutkan operasi militer di “semua front” di tengah perang Israel-AS melawan Iran yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Di antara korban luka berat terdapat seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun yang terkena serpihan di Dimona, serta seorang anak perempuan berusia 5 tahun yang terluka dalam serangan di Arad. Serangan ini merupakan bagian dari rangkaian serangan berulang Iran ke wilayah Dimona pada hari yang sama.
Media pemerintah Iran menyebut target serangan adalah fasilitas penelitian nuklir Israel yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Dimona dan 30 kilometer dari Arad. Serangan tersebut diklaim sebagai balasan atas dugaan serangan AS terhadap fasilitas pengayaan uranium Natanz di Iran, meski militer Israel membantah keterlibatan mereka.

Fasilitas nuklir yang dimaksud diyakini adalah Shimon Peres Negev Nuclear Research Center yang selama ini diduga menjadi bagian penting program senjata nuklir Israel.
Rudal balistik yang digunakan membawa hulu ledak konvensional dengan bahan peledak ratusan kilogram. Dampaknya menyebabkan kerusakan besar pada bangunan dan memicu kepanikan warga.
Di Dimona, selain korban luka berat, seorang wanita berusia 30-an mengalami luka sedang akibat pecahan kaca, sementara puluhan lainnya mengalami luka ringan. Banyak korban terluka saat berlari menuju tempat perlindungan.
Sementara itu, di Arad, 71 orang mengalami luka fisik, termasuk 10 orang dalam kondisi serius. Sebanyak 13 orang luka sedang dan 48 lainnya luka ringan. Beberapa korban juga mengalami trauma psikologis akibat serangan tersebut.
Tim penyelamat dan militer langsung dikerahkan ke lokasi untuk mencari korban di bawah reruntuhan, meski pihak kepolisian menyatakan tidak ada laporan orang hilang sejauh ini.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara sebenarnya telah mencoba mencegat kedua rudal tersebut, namun gagal menjatuhkannya. Investigasi pun tengah dilakukan untuk mengetahui penyebab kegagalan tersebut.
Juru bicara militer menegaskan bahwa rudal yang digunakan bukan jenis baru, sehingga insiden ini tidak mencerminkan ancaman baru dari Iran.
Selain menyerang Israel, Iran juga melancarkan serangan drone ke sejumlah negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Kuwait. Sistem pertahanan udara di negara-negara tersebut dilaporkan berhasil mencegat sebagian besar ancaman.

Arab Saudi bahkan mengumumkan telah menembak jatuh sekitar 20 drone Iran, serta mengusir sejumlah staf diplomatik Iran dari wilayahnya.
Pemerintah Israel menetapkan sistem kesehatan dalam kondisi darurat penuh. Sejumlah korban dipindahkan ke rumah sakit di wilayah tengah untuk memastikan penanganan optimal.
Menteri Pendidikan Israel juga mengumumkan penutupan seluruh kegiatan belajar tatap muka pada Minggu dan Senin di seluruh wilayah negara.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel menyatakan intensitas serangan terhadap Iran akan meningkat dalam beberapa hari ke depan.
Di sisi lain, Kepala Staf militer menyebut operasi militer terhadap Iran telah mencapai sekitar setengah dari target yang direncanakan, dan akan terus berlanjut dalam waktu dekat.
Konflik ini juga berdampak ke kawasan lain. Laporan dari Iran menyebutkan serangan balasan Israel dan AS telah merusak rumah sakit dan fasilitas publik di wilayah barat daya Iran, menewaskan setidaknya satu anak.
Selain itu, Iran dilaporkan telah menguji rudal balistik jarak jauh dengan jangkauan hingga 4.000 kilometer—yang berpotensi mengancam kota-kota besar di Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma.
Situasi ini menandai eskalasi besar dalam konflik regional yang kini tidak hanya melibatkan Israel dan Iran, tetapi juga negara-negara Teluk serta kekuatan global seperti Amerika Serikat.


