OLEH: Bramandaru P
JUMAT PAGI tanggal 10 Juli 2026 kami WA grup alumni SMAN 45 angkatan 85 dikejutkan oleh berita rekan kami, sahabat kami M. jupri dikabarkan meninggal dunia sesaat sehabis gowes di Danau Rawa Badak Selatan kecamatan Koja Jakarta Utara.
Kami tentu semua anggota grup bertanya tanya kenapa apakah kecelakaan lalu lintas, atau ada hal yang lain.
Ada berita bahwa almarhum sehabis gowes dan tiba di Danau Rawa Badak Selatan kecamatan Koja Jakarta Utara bertemu pada pesepeda dan biasa setiap pesepeda dengan bersalaman dan minum air pidon bawaannya selang beberapa saat dia ( M. jupri) jatuh dan dinyatakan meninggal dunia.
Bersepeda merupakan olah raga yang menyehatkan dan menyenangkan. Namun setiap pesepeda harusnya mengukur kondisi kesehatannya sebelum dan selama rutin bersepeda.
Ini penting agara aktifitas bersepeda menberikan manfaat yang maksimal tanpa menimbulkan resiko bagi tubuh kita.

Dengan mengetahui kondisi kesehatan, seperti tekanan darah, denyut nadi, kesehatan jantung dan atau riwayat sakit, pesepeda dapat menentukan jarak kilometer yang akan ditempuhnya.
Pemeriksaan kesehatan secara berkala pun harus kita lakukan bagi para pesepeda.
Agar dapat membantu deteksi masalah kesehatan sejak awal sehingga bila mana terjadinya hal yang tidak kita inginkan dapat segera diatasi.
Mengukur kesehatan adalah bentuk kehati hatian, dan juga melakukan langkah yang bijak untuk menjaga keselamatan diri sendiri.
Ada beberapa kemungkinan mengapa seseorang bisa jatuh atau terjatuh dan meninggal setelah selesai gowes ( bersepeda).
Penyebab pastinya hanya dapat diketahui melalui serangkaian pemeriksaan medis.

Beberapa penyebab yang sering terjadi antara lain:
1. Serangan jantung, aktifitas yang berat dapat memicu serangan jantung, terutamanya pada orang yang memiliki penyakit jantung yang belum ( tidak) diketahui.
2. Gangguan irama jantung (aritmia) jantung dapat berdetak tidak normal sehingga menyebabkan pingsan mendadak vdan henti jantung.
3. Stroke, meski jarang olahraga berat dapat bertepatan dengan terjadi stroke pada orang yang beresiko.
4. Dehidrasi atau gangguan elektrolit, kehilangan banyak cairan dan garam tubuh dapat menyebabkan pusing, pingsan, atau memicu gangguan irama jantung.
5. Serangan panas ( heat stroke) bersepeda dalam cuaca sangat panas tanpa pendinginan dan dehidrasi dapat menyebabkan jkegagalan fungsi organ.
6. Cedera akibat jatuh, jika seseorang kehilangan kesadaran lalu terjatuh, cidera kepala atau trauma berat juga dapat menjadi penyebab kematian.
Untuk mengurangi resiko yang tidak dikehendaki bagi pesepeda dapat disarankan
* Memeriksa kesehatan secara berkala terutama jika usia umur pesepeda diatas 40 th atau memeliki faktor resiko penyakit jantung.
* Dapat menyesuaikan intensitas gowes kondisi fisik kita para pesepeda.
* Minum cukup cairan sebelum, selama dan setelah bersepeda.
* Menghentikan aktifitas bersepeda jika muncul nyeri di dada, sesak nafas, pusing, dan segera lah mencari pertolongan medis.
Oleh karenanya , bersepeda bukan hanya soal berapa jauh jarak yang kita tempuh, berapa kuat tenaga kita dalam mengayuh sepeda kita, tetapi kita juga harus memahami soal kemampuan tubuh kita hanya kita pribadi yang tahu tentang kondisi tubuh kita bukan orang lain.
Dengan mengukur kondisi kesehatan secara rutin, pesepeda dapat menikmati olahraga gowes ini dengan lebih aman, lebih sehat dan berkelanjutan.
Semoga dengan kita waspada akan kesehatan kita masing masing kita pesepeda tidak akan kehilangan M. jupri, M. Jupri yang lain….
*Bramandaru P, penggiat pesepeda dari Komunitas Aspal Godidem, pemerhati masalah sosial, Advokat



