MUNICH, TERMINALNEWS.ID – Setelah bertahun-tahun dihantui oleh kutukan tak tertulis, Harry Kane akhirnya bisa menghapus namanya dari daftar tokoh-tokoh legendaris yang terkena kutukan, layaknya tokoh-tokoh dongeng klasik seperti Putri Tidur, Si Cantik dan Si Buruk Rupa, hingga Pangeran Katak.
Selama kariernya yang gemilang, Kane dikenal sebagai penyerang tajam namun selalu gagal mengangkat trofi—baik di level klub maupun tim nasional.
Ia bahkan sempat dijuluki “pangeran tanpa mahkota” karena seringkali membawa timnya ke ambang kejayaan tanpa pernah benar-benar meraihnya. Namun musim ini, nasib Kane berubah drastis bersama Bayern Munich.
Setelah Bayer Leverkusen hanya bermain imbang dalam laga terakhir mereka, Bayern Munich dan Harry Kane secara resmi mengunci gelar Bundesliga dengan dua pertandingan tersisa. Trofi ini menjadi gelar utama pertama sepanjang karier Kane.
Satu nama penting yang disebut dalam kisah ini adalah Vincent Kompany. Manajer muda itu berhasil melakukan apa yang gagal dicapai oleh nama-nama besar sebelumnya seperti Mauricio Pochettino, Jose Mourinho, Antonio Conte, hingga Gareth Southgate: memenangkan trofi bersama Harry Kane.
Dalam narasi ala dongeng, kutukan Kane digambarkan seperti mantra jahat yang membuatnya tampil cemerlang di lapangan tapi selalu luput dari kejayaan.
Namun bersama “pasukan merah-putih” Bayern Munich, perlahan-lahan kutukan itu mulai memudar. Hingga akhirnya, di bawah langit Bavaria yang dipenuhi sorak-sorai dan konfeti, Kane mengangkat trofi Meisterschale dengan penuh kebanggaan.
Dari hari itu, kisah Harry Kane bukan lagi tentang kegagalan di garis akhir, melainkan tentang seorang pejuang sejati yang tak pernah menyerah hingga akhirnya menaklukkan takdirnya.
Dan seperti dalam dongeng klasik, setelah itu mereka semua minum bir, dan hidup bahagia selamanya.

