JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – PT Liga Indonesia Baru (LIB) resmi mengumumkan hasil verifikasi lisensi klub peserta Liga 1 musim ini berdasarkan standar Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
Dari 18 klub yang mengikuti kompetisi kasta tertinggi Indonesia tersebut, seluruhnya dinyatakan lolos lisensi AFC Challenge League (ACGL), namun hanya enam klub yang berhasil memenuhi syarat lisensi Asian Champions League (ACL) tanpa catatan tambahan.
Direktur Utama PT LIB, Ferry Paulus, menjelaskan bahwa lisensi klub mengacu pada lima kriteria utama yang ditetapkan oleh AFC, yaitu aspek olahraga (sporting), infrastruktur, personel dan administrasi, legal, serta finansial.
Dibanding musim sebelumnya, terjadi peningkatan signifikan dalam jumlah klub yang memenuhi persyaratan tersebut.
“Dari 18 klub Liga 1, semuanya lolos lisensi untuk AFC Challenge League. Sementara yang berhasil mendapatkan lisensi untuk AFC Champions League hanya enam klub, yakni PSS Sleman, Borneo FC, Persib Bandung, Persita Tangerang, Persik Kediri, dan Dewa United,” ujar Ferry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (7/5/2025).
Menurut Ferry, pencapaian tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibanding musim lalu. Jumlah klub yang lolos lisensi ACL meningkat dari 62 persen menjadi 89 persen, sedangkan untuk ACGL meningkat dari 55 persen menjadi 87 persen.
Meski demikian, 12 klub lainnya tetap dinyatakan lolos lisensi ACGL, namun belum memenuhi semua persyaratan untuk ACL.
Mayoritas kendala terdapat pada aspek personel, khususnya terkait lisensi pelatih kiper dan pelatih fisik yang seharusnya minimal memegang lisensi A AFC.
“Sebetulnya semua klub Liga 1 lolos untuk ACGL, hanya saja 12 klub belum bisa mengantongi lisensi ACL. Kami harap ke depan hanya tinggal dua atau tiga klub yang belum lolos, atau kalau bisa, semuanya bisa memenuhi syarat langsung,” ujar Ferry menambahkan.
Ia menekankan bahwa sistem lisensi klub ini merupakan bagian dari komitmen federasi dan operator liga untuk meningkatkan profesionalisme dan tata kelola klub di Indonesia.
PT LIB, bersama PSSI dan AFC, menilai lisensi ini bukan sekadar formalitas, melainkan instrumen penting untuk memastikan kesiapan klub dalam berkompetisi di level Asia.
Tidak hanya berlaku bagi klub Liga 1, kebijakan lisensi klub juga diterapkan di Liga 2. Ferry mengungkapkan bahwa dari seluruh peserta Liga 2 musim lalu, hanya empat klub yang lolos lisensi, yaitu Deltras FC, Bhayangkara FC, Persijap Jepara, dan PSIM Yogyakarta.
“Sisanya tidak lolos bukan karena tidak mendaftar, tetapi karena saat verifikasi, banyak dokumen yang belum lengkap atau tidak memenuhi kriteria. Bahkan, ada empat klub yang sama sekali tidak mengajukan pendaftaran lisensi, dan keempatnya kini terdegradasi,” ujarnya.
Sebagai bentuk penegakan disiplin dan dorongan terhadap profesionalisme, PT LIB berencana menerapkan sanksi yang lebih tegas kepada klub yang gagal memenuhi standar lisensi di musim-musim mendatang.
Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah pengurangan poin di klasemen liga.
“Kita akan buat kebijakan yang lebih dinamis. Kalau klub tidak lolos lisensi, akan ada sanksi, termasuk potensi pengurangan poin. Ini untuk memberikan efek jera dan sekaligus mendorong klub lebih serius dalam pembinaan manajerial dan administratif,” tegas Ferry.
Lisensi klub merupakan syarat wajib bagi klub-klub yang ingin tampil di kompetisi antarklub Asia.
Di tingkat lokal, penerapan lisensi juga menjadi bagian dari strategi federasi dalam meningkatkan kualitas liga, memperbaiki tata kelola klub, serta menjamin keberlangsungan kompetisi yang lebih sehat dan kompetitif.
Dengan hasil verifikasi musim ini, PT LIB optimistis tren positif akan terus meningkat. Mereka berharap musim depan semakin banyak klub Liga 1 maupun Liga 2 yang mampu memenuhi lisensi AFC tanpa syarat, sebagai langkah nyata memperkuat posisi Indonesia di level sepak bola Asia.

