JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Suasana hangat penuh makna menyelimuti pertemuan silaturahmi yang digelar pada Kamis (19/3/2026).
Momen ini menjadi ruang kebersamaan untuk merayakan ulang tahun Irjen Pol (Purn) Herry Dahana bersama Endah, Ninik, Sininayati, dan Mariana, sekaligus memperingati hari jadi pernikahan Calvin dan Eifie.
Kegiatan diawali dengan misa syukur yang dipimpin Romo Riki Maulana dan Romo Yos Bintoro, Pr. Nuansa khidmat terasa sejak awal, ketika para tamu diajak merenungkan makna kesetiaan dalam kehidupan, baik dalam keluarga maupun relasi sosial.
Dalam homilinya, Romo Riki Maulana mengangkat sosok Santo Yusuf sebagai teladan kesetiaan yang tidak hanya taat pada nilai, tetapi juga berani mengambil keputusan besar dalam hidup. Menurutnya, kesetiaan bukan sekadar bertahan, melainkan keberanian untuk menempatkan cinta dan tanggung jawab di atas kepentingan diri.
“Santo Yusuf menunjukkan bahwa kesetiaan adalah kekuatan yang lahir dari kasih dan keberanian, bahkan di tengah situasi yang tidak mudah,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keutuhan rumah tangga melalui sikap saling menerima dan mencintai tanpa syarat. Nilai tersebut dinilai nyata tercermin dalam perjalanan panjang pernikahan yang dirayakan malam itu—sebuah bukti komitmen yang terus dirawat dari waktu ke waktu.
Sementara itu, dalam refleksinya, Romo Yos Bintoro mengingatkan bahwa kesetiaan merupakan panggilan hidup setiap umat beriman. Ia menegaskan bahwa kesetiaan bukan hanya hasil usaha manusia, tetapi juga rahmat Tuhan yang perlu dipelihara melalui iman dan ketekunan.
“Kesetiaan adalah anugerah yang harus dijaga, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.
Lebih dari sekadar perayaan, acara ini juga menjadi ruang doa bersama. Doa dipanjatkan tidak hanya bagi mereka yang tengah berbahagia, tetapi juga untuk anggota keluarga yang telah berpulang serta mereka yang sedang menghadapi berbagai tantangan hidup.
Kebersamaan yang terjalin terasa semakin kuat karena momen ini berlangsung di tengah suasana prapaskah, menghadirkan refleksi spiritual yang mendalam.
Para tamu pun larut dalam nuansa syukur yang menyatukan berbagai peristiwa kehidupan—ulang tahun, peringatan pernikahan, hingga perenungan iman.
Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah dan santap bersama. Canda, tawa, dan obrolan hangat menjadi penutup yang mempertegas nilai persaudaraan, sekaligus mengingatkan bahwa di tengah dinamika hidup, kebersamaan dan rasa syukur adalah hal yang tak ternilai.


