RABAT, TERMINALNEWS.ID – Final Piala Afrika (AFCON) 2025 berubah menjadi tontonan kontroversial setelah tim nasional Senegal sempat meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes atas keputusan penalti yang diberikan kepada tuan rumah Maroko.
Insiden tersebut terjadi pada laga final yang digelar di Rabat, Minggu (waktu setempat). Ketegangan memuncak di masa injury time babak kedua ketika wasit Jean-Jacques Ngambo Ndala menunjuk titik putih usai melakukan tinjauan VAR.
Keputusan itu diambil setelah Brahim Diaz dijatuhkan oleh bek Senegal, El Hadji Malick Diouf, saat situasi sepak pojok. VAR menilai Diouf melakukan pelanggaran dengan menarik leher Diaz, meski tayangan ulang memperlihatkan insiden yang masih menuai perdebatan.
Kontroversi semakin besar karena beberapa saat sebelumnya, gol Senegal dianulir akibat dugaan pelanggaran terhadap bek Maroko Achraf Hakimi—keputusan yang juga dianggap tidak jelas oleh kubu Senegal.
Sadio Mane Bertahan
Amarah Senegal pun memuncak. Pelatih Pape Thiaw terlihat meminta para pemainnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Hampir seluruh pemain Senegal berjalan menuju ruang ganti, kecuali sang kapten Sadio Mane yang tetap berada di lapangan dan berusaha membujuk rekan-rekannya untuk kembali bermain.
Sadio Mane was instrumental in calling the Senegal players back to the pitch 👏#AFCONFinal | #TotalEnergiesAFCON2025 pic.twitter.com/LV34ZuSoL4
— beIN SPORTS (@beINSPORTS_EN) January 18, 2026
Pertandingan tertunda hingga lebih dari 17 menit. Situasi di stadion semakin memanas setelah suporter Senegal dilaporkan melempar kursi ke lapangan, memaksa aparat keamanan turun tangan.
Akhirnya, para pemain Senegal kembali ke lapangan dan penalti tetap dilanjutkan. Namun, eksekusi Panenka Brahim Diaz berhasil digagalkan kiper Edouard Mendy. Wasit langsung meniup peluit panjang tanda waktu normal berakhir, dan laga dilanjutkan ke babak tambahan.
Senegal Justru Juara
Di babak extra time, Senegal justru tampil lebih tenang. Gol spektakuler Pape Gueye memastikan kemenangan Senegal dan mengantarkan mereka keluar sebagai juara AFCON 2025, di tengah atmosfer laga yang sarat kontroversi.
Sementara itu, ekspresi pemain dan staf Maroko tampak diliputi kebingungan. Pelatih Walid Regragui terlihat meluapkan emosinya kepada Diaz usai kegagalan penalti tersebut, sementara konfeti di stadion bahkan sempat ditembakkan secara keliru saat pertandingan belum benar-benar usai.
Pelatih Maroko: “Ini Memalukan untuk Afrika”
Dalam konferensi pers pascalaga, Regragui melontarkan kritik keras terhadap sikap Senegal.
“Gambaran yang kita tunjukkan kepada dunia sangat memalukan. Pelatih yang meminta timnya meninggalkan lapangan tidak mencerminkan kehormatan Afrika,” ujar Regragui.
Ia juga menyebut laga tersebut sebagai “final dengan skenario ala Hitchcock” dan mengakui tekanan besar yang ia hadapi sebagai tuan rumah. Beberapa jurnalis Maroko bahkan menuntutnya mundur di ruang konferensi pers.
Ketegangan berlanjut ketika media Maroko dilaporkan meninggalkan ruangan saat Pape Thiaw masuk, memicu adu argumen dengan jurnalis Senegal hingga konferensi pers dihentikan lebih awal.
Diaz Dihantui Penalti Gagal
Usai pertandingan, spekulasi bermunculan di media sosial soal dugaan Brahim Diaz sengaja menggagalkan penalti karena merasa keputusan wasit tidak adil. Namun, baik Diaz maupun pihak Maroko membantah tudingan tersebut.
Regragui menyebut penundaan panjang sebelum penalti sangat mengganggu konsentrasi sang pemain. “Tapi itu bukan alasan. Sepak bola memang kejam,” katanya.
Diaz tampak terpukul saat menerima penghargaan top skor turnamen dari Presiden FIFA Gianni Infantino. Ia hanya berpose singkat sebelum meninggalkan podium.
Mantan pemain Maroko Hassan Kachloul menilai momen tersebut akan terus menghantui Diaz. “Dia akan mengalami banyak mimpi buruk setelah final ini,” ujarnya. Mantan striker Nigeria, Efan Ekoku, bahkan menyebut kegagalan itu sebagai “momen yang tak akan pernah bisa dilupakan.”


