Disutradarai Archie Hekagery, film bergenre fantasy action ini menjadi tribut bagi tanah leluhur sang sutradara sekaligus upaya mengenalkan sosok pahlawan perempuan Aceh kepada generasi muda.
TERMINALNEWS.ID, JAKARTA — Sosok Laksamana Malahayati, pahlawan perempuan asal Aceh yang dikenal dengan keberanian dan kepemimpinannya, diangkat ke layar lebar melalui film Pasukan 1000 Janda. Film persembahan Manara Films yang disutradarai Archie Hekagery ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 12 November 2026.
Mengusung genre fantasy action, film ini menghadirkan kisah perlawanan perempuan-perempuan Aceh dalam menghadapi penjajah. Selain menawarkan aksi dan petualangan, Pasukan 1000 Janda juga diharapkan dapat memperkenalkan sosok Malahayati kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Dukungan terhadap film ini datang dari Taman Iskandar Muda (TIM), organisasi yang menaungi paguyuban masyarakat Aceh di perantauan. Dukungan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara sutradara Archie Hekagery dan Ketua Umum Pengurus Pusat TIM periode 2026–2030, Ir. H. Muslim Armas.

Dewan Kehormatan PP TIM, Dr. Ir. H. Mustafa Abubakar, menyambut positif pengangkatan kisah Malahayati ke layar lebar. Menurut dia, perjuangan sang laksamana layak mendapat perhatian lebih luas karena memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan rakyat Aceh.
“Kami merasa bangga ada film tentang Malahayati lewat film Pasukan 1000 Janda. Saya merasa gemas, karena Malahayati ini sebenarnya juga tidak kalah dengan Cut Nyak Dhien. Kalau Cut Nyak Dhien itu berjuang di daratan dan pegunungan, sementara Malahayati di pesisir. Semoga film Pasukan 1000 Janda membanggakan warga Aceh dan Indonesia dengan perjuangannya bersama pasukan Inong Balee,” ujar Mustafa.
Senada dengan itu, Ketua Umum PP TIM Muslim Armas mengatakan, dukungan terhadap film ini tidak hanya didasari oleh pengangkatan tokoh sejarah asal Aceh, tetapi juga pendekatan penceritaan yang dinilai dapat menarik minat penonton muda.
“Taman Iskandar Muda sebagai paguyuban masyarakat Aceh di perantauan mendukung penuh film ini, tidak saja karena berlatar belakang pahlawan Aceh, tetapi juga karena film ini memilih pendekatan yang berbeda yang membuat generasi muda penasaran ingin menyaksikan film yang berlatar sejarah tetapi action-nya digarap seperti layaknya film luar negeri,” kata Muslim.

Tribut sutradara untuk tanah leluhur
Bagi Archie Hekagery, Pasukan 1000 Janda memiliki makna personal. Film ini bukan sekadar proyek perfilman, melainkan juga bentuk penghormatan kepada Aceh, tanah leluhur keluarganya.
“Ayah saya, nenek saya orang Aceh asli. Jadi saya membuat film Pasukan 1000 Janda juga untuk kampung halaman nenek saya,” ungkap Archie.
Ia menjelaskan, pemilihan genre fantasy action merupakan salah satu cara untuk menjangkau penonton yang lebih luas, terutama generasi muda. Melalui pendekatan tersebut, ia berharap kisah perjuangan Malahayati dapat dikenal tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia internasional.
“Film Pasukan 1000 Janda menggunakan pendekatan fantasy action, karena diharapkan film ini juga bisa menyentuh ke penonton muda. Semoga film ini bisa membuat pahlawan dari Aceh yang demikian hebat menjadi lebih dikenal oleh generasi muda di seluruh dunia,” ujarnya.
Pesan tentang keberanian perempuan Aceh juga menjadi salah satu hal yang ingin disampaikan melalui film ini. Cut Mini, yang memerankan Maesaroh, salah satu anggota pasukan Inong Balee, menilai film tersebut turut memperlihatkan kekuatan perempuan dalam menghadapi situasi sulit.
“Kami ingin memperlihatkan bahwa Aceh itu indah, kuat, dan kokoh, serta film ini menunjukkan bahwa perempuan-perempuan Aceh itu hebat,” kata Cut Mini.
Atiqah Hasiholan perankan Laksamana Malahayati
Film Pasukan 1000 Janda diproduseri Yuda Wirafianto, dengan Mifta Nur Rizki sebagai ko-produser dan Bunga Mentari sebagai produser eksekutif. Film ini menghadirkan sejumlah aktor dan aktris Indonesia serta aktor laga internasional.
Atiqah Hasiholan dipercaya memerankan Laksamana Malahayati, sosok pemimpin yang berani dan tangguh. Sementara itu, pasukan Inong Balee diperankan antara lain oleh Cut Mini, Tasha Siahaan, Fergie Brittany, dan Ully Triani.

Deretan pemain lainnya meliputi Emil Kusumo, Vincent Verhaag, Hans de Kraker, Dafina Jamasir, Syaura Salsabila, dan Muzakki Ramdhan. Film ini juga melibatkan Ron Smoorenburg, aktor laga asal Belanda yang pernah beradu akting dengan Jackie Chan dalam film Who Am I?.
Terinspirasi dari kisah Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Balee, film ini mengangkat perjuangan para perempuan yang kehilangan suami dan keluarga akibat peperangan, lalu bangkit untuk mempertahankan tanah kelahiran mereka dari serangan penjajah.
Pasukan 1000 Janda dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 12 November 2026. Informasi terbaru mengenai film ini dapat diikuti melalui akun Instagram @pasukan1000janda dan @manara.studios.
Sinopsis Pasukan 1000 Janda
Selat Malaka, 1599. Beberapa tahun sebelumnya, ketika ancaman Portugis mengguncang perairan Selat Malaka, armada Kesultanan Aceh Darussalam di bawah komando Laksamana Malahayati bangkit melawan. Dengan keberanian dan kecerdikannya, Malahayati berhasil menghancurkan armada Portugis dan mengusir mereka dari perairan Aceh.
Namun, setelah kemenangan itu, sang laksamana menghilang tanpa jejak. Kepergiannya menyisakan satu pertanyaan besar: siapa yang akan berdiri menghadapi musuh berikutnya?

Pada 1599, ancaman baru datang dari seberang lautan. Armada Belanda berlayar menuju Selat Malaka untuk merebut jalur perdagangan strategis Nusantara. Di bawah pimpinan Cornelis, seorang laksamana yang kejam dan tak kenal ampun, pasukan Belanda mulai menebar teror di tanah Aceh.
Desa-desa dibakar, rakyat diburu, dan para lelaki gugur di medan perang. Di tengah kehancuran itu, perempuan-perempuan Aceh kehilangan suami dan keluarga mereka. Ketika harapan nyaris padam dan tak ada lagi pasukan yang mampu menghadang penjajah, mereka memilih bangkit dari duka.
Mereka membentuk pasukan yang belum pernah ada sebelumnya: pasukan para janda. Berbekal tekad untuk mempertahankan tanah kelahiran dan orang-orang yang mereka cintai, para perempuan itu bersiap menghadapi kekuatan Belanda yang jauh lebih besar.
Dari laut hingga daratan Aceh, perlawanan pun dimulai. Dan ketika sejarah mencatat Malahayati telah menghilang, mungkin ada satu hal yang belum diketahui dunia: Malahayati tidak pernah benar-benar pergi.

