TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Airbag merupakan salah satu fitur keselamatan penting pada mobil yang dirancang untuk membantu mengurangi risiko cedera saat terjadi kecelakaan.
Meski keberadaannya kerap luput dari perhatian karena tersembunyi di balik dasbor, setir, atau bagian interior lainnya, pemahaman mengenai cara kerja dan fungsi airbag perlu dimiliki setiap pengendara.
Fitur keselamatan ini telah lama menjadi bagian dari perlengkapan mobil Mitsubishi Motors. Seiring perkembangan teknologi, sistem airbag terus disempurnakan, mulai dari penempatan kantung udara di berbagai bagian kabin hingga penggunaan sensor yang membantu menentukan kapan airbag perlu mengembang.
Namun, perlu diketahui bahwa airbag bukanlah pengganti sabuk keselamatan. Keduanya dirancang untuk bekerja bersama guna memberikan perlindungan optimal bagi pengemudi dan penumpang.
Lantas, apa saja fakta seputar airbag yang perlu diketahui? Berikut penjelasannya.
1. Berawal dari gagasan insinyur Amerika
Konsep airbag pertama kali dicetuskan oleh insinyur asal Amerika Serikat, John W. Hetrick. Dalam perkembangannya, Allen Breed memperkenalkan sistem airbag yang menggunakan sensor pada era 1960-an. Teknologi ini menjadi salah satu tonggak penting dalam pengembangan sistem keselamatan pasif pada kendaraan.
2. SRS Airbag merupakan sistem keselamatan tambahan
Istilah airbag kerap disertai label SRS, singkatan dari Supplemental Restraint System. Artinya, kantung udara merupakan sistem keselamatan tambahan yang dirancang untuk bekerja bersama sabuk keselamatan ketika terjadi kecelakaan tertentu.
Karena itu, pengemudi dan penumpang tetap wajib mengenakan sabuk keselamatan meskipun mobil telah dilengkapi airbag. Tanpa penggunaan sabuk keselamatan yang benar, risiko cedera saat kantung udara mengembang justru dapat meningkat.
3. Airbag tidak hanya berada di dasbor
Penempatan airbag dapat berbeda, tergantung model dan varian kendaraan.
Pada sebagian model Mitsubishi Motors, airbag tidak hanya ditempatkan di bagian depan kabin. Kantung udara juga dapat tersedia di sisi jok, bagian samping kabin, hingga area pilar atap.
Setiap jenis memiliki fungsi perlindungan yang berbeda. Airbag depan membantu mengurangi risiko cedera pada kepala dan dada saat terjadi benturan frontal tertentu. Sementara itu, side airbag dan curtain airbag dirancang untuk membantu melindungi penumpang ketika terjadi benturan dari samping.
Semakin beragam penempatannya, semakin luas pula area tubuh yang berpotensi mendapatkan perlindungan. Meski demikian, jumlah dan posisi airbag tetap bergantung pada model serta varian kendaraan.
4. Airbag mengembang dalam hitungan milidetik
Salah satu fakta menarik tentang airbag adalah kecepatannya saat mengembang. Ketika sensor mendeteksi benturan yang memenuhi kondisi pemicu, sistem akan mengaktifkan mekanisme pengembangan kantung udara dalam waktu sangat singkat, yakni dalam hitungan milidetik.
Setelah mengembang untuk membantu menahan tubuh pengemudi atau penumpang, kantung udara akan mengempis kembali agar tidak menghalangi pergerakan dan pandangan.
Proses ini berlangsung sangat cepat karena airbag dirancang untuk memberikan perlindungan pada momen kritis saat kecelakaan terjadi. Oleh sebab itu, posisi duduk yang benar dan penggunaan sabuk keselamatan tetap menjadi faktor penting dalam memaksimalkan manfaatnya.
5. Airbag depan tidak selalu mengembang saat terjadi tabrakan
Banyak orang mengira airbag akan selalu mengembang setiap kali mobil mengalami kecelakaan. Padahal, sistem ini bekerja berdasarkan sejumlah parameter, termasuk arah benturan, tingkat keparahan, dan karakteristik tabrakan yang terbaca oleh sensor.
Sebagai gambaran, pada kondisi pengujian tertentu, benturan frontal terhadap benda yang tidak mudah berubah bentuk atau bergeser, seperti dinding, pada kecepatan sekitar 25 km/jam dapat memenuhi ambang aktivasi airbag depan. Namun, angka tersebut bukan batas universal untuk semua kendaraan maupun semua jenis tabrakan.
Benturan dengan objek yang dapat menyerap energi atau bergeser, seperti kendaraan lain dan pembatas jalan, dapat menghasilkan karakteristik benturan berbeda. Akibatnya, airbag mungkin memerlukan tingkat benturan yang lebih tinggi untuk mengembang.
6. Benturan bagian bawah mobil juga dapat memengaruhi aktivasi airbag
Selain tabrakan frontal secara langsung, benturan yang menyebabkan kerusakan pada bagian bawah mobil juga dapat memengaruhi respons sistem airbag, bergantung pada karakteristik benturan dan sensor yang digunakan.
Contohnya adalah ketika mobil menghantam trotoar atau gundukan dengan keras maupun terperosok ke dalam lubang. Meski demikian, kejadian tersebut tidak serta-merta membuat airbag depan mengembang. Sistem tetap mempertimbangkan kondisi benturan yang terdeteksi.
7. Ada kondisi ketika airbag depan tidak mengembang
Sebaliknya, beberapa kecelakaan tidak selalu memicu airbag depan. Contohnya adalah benturan dari samping, tabrakan dari belakang, kendaraan terguling, atau benturan frontal tertentu yang tidak memenuhi ambang aktivasi sistem.
Tabrakan dengan objek yang relatif sempit, seperti tiang atau pohon, juga dapat menghasilkan pola benturan yang berbeda dari tabrakan frontal penuh. Demikian pula, benturan frontal dengan sudut tertentu atau ketika mobil masuk ke bawah bagian belakang truk belum tentu memicu airbag depan.
Hal ini bukan berarti sistem gagal bekerja. Airbag dirancang untuk mengembang hanya ketika kondisi benturan memenuhi kriteria aktivasi yang telah ditentukan oleh pabrikan.
8. Airbag samping memiliki mekanisme aktivasi tersendiri
Berbeda dari airbag depan, side airbag dirancang untuk merespons benturan samping yang memenuhi ambang aktivasi sistem. Fitur ini membantu mengurangi risiko cedera pada bagian tubuh tertentu, terutama ketika benturan mengarah ke area ruang penumpang.
Namun, airbag samping juga tidak selalu mengembang dalam setiap kecelakaan. Benturan yang terjadi jauh dari ruang penumpang, tabrakan dari sepeda motor atau kendaraan kecil dengan karakteristik tertentu, maupun kejadian mobil terguling tidak selalu memenuhi kondisi pemicunya.
Dengan kata lain, cara kerja dan respons airbag samping berbeda dari airbag depan. Keduanya dirancang untuk menghadapi karakteristik benturan yang berbeda pula.
9. Jangan menghalangi area pengembangan airbag
Karena terpasang tersembunyi di balik sejumlah komponen interior, area pengembangan airbag perlu dijaga agar tetap bebas dari penghalang.
Hindari menempatkan benda di atas dasbor yang dapat mengganggu pengembangan airbag penumpang depan, seperti aksesori tertentu atau barang yang mudah terlempar saat terjadi benturan. Pemasangan aksesori juga harus mengikuti petunjuk pabrikan.
Hal serupa berlaku untuk side airbag dan curtain airbag. Penggunaan sarung jok tambahan, modifikasi trim pintu, atau pemasangan aksesori pada pilar dan atap perlu dipastikan tidak menghalangi kinerja sistem keselamatan.
Khusus untuk kursi keselamatan anak (child seat), pemasangan harus mengikuti petunjuk kendaraan dan kursi anak. Kursi anak yang menghadap ke belakang tidak boleh ditempatkan di depan airbag penumpang aktif, kecuali sistem tersebut telah dinonaktifkan sesuai prosedur yang diizinkan pabrikan.
10. Lampu peringatan menjadi indikator kondisi airbag
Sistem airbag dilengkapi lampu indikator pada panel instrumen untuk memberi tahu pengemudi mengenai status sistem keselamatan tersebut.
Jika lampu peringatan airbag tetap menyala setelah pemeriksaan awal kendaraan atau muncul saat berkendara, kondisi ini perlu diperiksa lebih lanjut. Gangguan pada sistem dapat memengaruhi kesiapan airbag ketika dibutuhkan.
Jangan mengabaikan peringatan tersebut. Segera bawa kendaraan ke bengkel resmi Mitsubishi Motors untuk pemeriksaan dan penanganan sesuai prosedur.
11. Hindari modifikasi yang dapat mengganggu kinerja airbag
Sistem airbag dirancang sebagai bagian dari keseluruhan sistem keselamatan kendaraan. Karena itu, modifikasi pada komponen tertentu berpotensi memengaruhi kinerjanya.
Hindari mengubah setir, sistem retraktor sabuk keselamatan, bumper depan, struktur bodi, maupun komponen lain yang berkaitan dengan sensor dan sistem keselamatan tanpa persetujuan pabrikan.
Perubahan yang tidak sesuai spesifikasi dapat memengaruhi kemampuan sistem dalam mendeteksi benturan atau mengaktifkan perlindungan pada waktu yang tepat. Jika diperlukan penggantian komponen, gunakan suku cadang yang sesuai dan lakukan pengerjaan di bengkel resmi.
Pahami cara kerja airbag, maksimalkan keselamatan berkendara
Airbag merupakan salah satu komponen penting dalam sistem keselamatan mobil. Namun, manfaatnya sangat bergantung pada kondisi sistem, karakteristik benturan, posisi duduk, serta penggunaan sabuk keselamatan yang benar.
Dengan memahami cara kerja dan batasan airbag, pengemudi dapat lebih bijak dalam menjaga kondisi kendaraan dan menghindari modifikasi yang berisiko mengganggu kinerjanya.
Pastikan pula pemeriksaan dan perawatan sistem keselamatan dilakukan sesuai rekomendasi pabrikan. Dengan begitu, berbagai fitur keselamatan pada kendaraan dapat berfungsi sebagaimana mestinya untuk membantu melindungi pengemudi dan penumpang saat menghadapi situasi darurat.

