OLEH: ALEX PALIT
Di sini saya tidak ingin mengomentari penganugerahan Jenderal Kehormatan yang disematkan kepada Menhan Prabowo Subianto, dari yang sebelumnya berpangkat Letnan Jenderal TNI kini menjadi Jenderal TNI.
Tapi setidaknya di sini saya mengapresiasi penganugerahan yang diberikan kepada mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad sebagai bentuk penghormatan sekaligus peneguhan untuk berbakti sepenuhnya kepada rakyat, kepada bangsa, dan kepada negara.
Karena penganugerahan Jenderal Kehormatan kepada Menhan Prabowo sekaligus dimaknai sebagai amanah dalam melanjutkan masa baktinya dalam pengabdiannya untuk bangsa dan negara.
Di sini saya diingatkan oleh sebuah nasehat guru bijak mengajarkan;
Diam itu emas!
Ia akan menjadi sahabat pendamping untuk merenung
Ia akan menjadi sahabat sejati yang tidak pernah berkhianat
Ia akan menjadi penasehat ulung di kala kita sedang menimbang sesuatu
Ia adalah cahaya pengetahuan utama manusia yang akan mengajarkan kepada kita kata bijak
Diam itu bukan berarti membisu, ia mendengar, ia mengajak kita untuk merenung sampai tiba saatnya, baru berucap
Dalam diam, ia menuntun kita untuk berjalan dengan pikiran, baru melangkah dan berucap.
Ketika diam itu emas, kata-kata akan menjadi berlian yang memancarkan kemilau sinarnya.
Dalam diam, ia akan menjadi sahabat pendamping yang akan mendampingi dan menuntun kita dalam merenung dan berkontemplasi dalam menentukan langkah kuda politiknya.
Setidaknya itu saja yang ingin saya haturkan dengan meminjam nasehat guru bijak tersebut bahwa diam itu emas, jenderal…!!!
*Alex Palit, jurnalis, penulis buku “2024 Kenapa Harus Prabowo Subianto Notonegoro”

