SORE ITU di Gedung Pusdatin Kemensos Cawang, pelantikan Pengurus IKA Halut Jabodetabek terasa berbeda.
Bukan hanya karena pelantikan, tapi karena panggung menghadirkan kembali aroma kampung halaman. Tarian Saloi dan Susiru dimainkan. Geraknya mengingatkan bahwa tanah kelahiran bukan sekadar tempat yang ditinggalkan saat merantau, tapi warisan yang harus dijaga.
Lalu puisi dibacakan. Lantang, menggelegar, menggugat. Bukan sekadar kata indah, tapi pertanyaan tajam: untuk siapa organisasi ini dibangun?
Di tengah suasana itu, dua perempuan duduk berdampingan menjadi catatan kecil yang paling jujur.

Ci Fany, pemilik Bangi Coffee, perempuan yang akrab dengan dunia usaha dan pelayanan. Di sebelahnya Ci Tuty, perempuan enerjik, serba bisa, yang kalau sudah dengar musik, umur seperti minta cuti.
Percakapan mereka mengalir di sela tepuk tangan:
“Bagus sekali acara hari ini. Tapi saya berharap setelah pelantikan, organisasi ini benar-benar bergerak. Jangan hanya rame pas hari ini,” kata Ci Fany.
Ci Tuty menyahut, “Batul! Pelantikan itu baru pembukaan. Ibarat musik, ini baru intro. Lagu sebenarnya blom mulai!”
“Kalu bagitu, pengurus harus tahu irama. Jangan sampe samua mau jadi penyanyi utama, tetapi tara ada yang mau pegang alat musik,” timpal Ci Fany.
Dialog itu berlanjut tentang makna rumah. IKA Halut harus jadi rumah nyaman bagi semua, bukan hanya yang punya jabatan atau ekonomi kuat. Yang sederhana juga harus dihargai.

“Orang datang ke organisasi bukan untuk diukur isi dompetnya. Torang datang karena merasa basudara,” ujar Ci Tuty.
“Dan pengurus harus punya kepekaan. Kalau ada anggota sakit, berduka, butuh bantuan pendidikan, organisasi harus hadir,” tambah Ci Fany.
Ci Tuty menukas dengan gaya khasnya: “Jang sampai anggota sakit, organisasi baru tahu setelah orangnya so bae. Itu bukan pelayanan, itu terlambat datang bahoba!”
Tawa pecah, Tapi Pesannya Dalam
Keduanya sepakat, budaya Saloi dan Susiru jangan hanya muncul saat pelantikan. Anak muda harus diberi ruang belajar. Program budaya, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan ekonomi harus nyata.

“Jangan hanya kaki yang bergerak waktu musik babunyi, tetapi tangan diam ketika basudara membutuhkan bantuan!” kata Ci Tuty, yang disambut anggukan.
Mereka juga bicara soal puisi yang menggugat tadi. Kritik itu penting asal membangun. Pengurus jangan alergi kritik, anggota juga jangan hanya menuntut.
“Pengurus bukan tukang sulap. Baru dilantik sore ini, besok pagi samua masalah harus selesai. Tara bagitu juga!”
Di akhir, ada pesan yang mengendap dari ketiganya, termasuk penulis:
“Jangan hanya membangun organisasi yang terlihat besar dari luar. Bangunlah organisasi yang terasa hangat bagi orang-orang di dalamnya.”
“Kalu organisasi so bagus, basudara pasti betah. Sama seperti di rumah. Orang bukan cuma datang karena makanannya enak, tetapi karena merasa diterima,” kata Ci Tuty.
Dan harapan itu ditutup dengan pesan paling kuat untuk pengurus baru:
JANG CUMA RAME KETIKA DILANTIK, TETAPI HADIRLAH KETIKA BASUDARA MEMBUTUHKAN!
JANG CUMA MEMBANGUN NAMA BESAR ORGANISASI, TETAPI BANGUNLAH MANFAAT BESAR BAGI MASYARAKAT!
Karena kelak, yang dikenang bukan megahnya pelantikan, tapi kesaksian sederhana anggota: “Torang pernah punya pengurus yang benar-benar peduli.”
Selamat mengemban amanah, Pengurus IKA Halut Jabodetabek!
Torang Samua Basudara!
Oleh : Wan Kemendes
Editor : Tommy R.Arief

