WASHINGTON, TERMINALNEWS.ID – Masa depan konflik Iran kini semakin terfokus pada sebuah pulau kecil seluas kurang dari 9 mil persegi di Teluk Persia, yakni Pulau Kharg.
Pulau yang terletak sekitar 30 kilometer dari daratan Iran dan sekitar 500 kilometer dari Selat Hormuz ini merupakan terminal ekspor utama bagi sekitar 90 persen pengiriman minyak Iran ke dunia.
Dalam konteks perang yang telah berlangsung empat pekan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Republik Islam Iran, Kharg Island dinilai sebagai titik strategis yang dapat menentukan arah konflik selanjutnya.
Iran Ancam Jalur Pelayaran
Aliran energi melalui Selat Hormuz kini menjadi isu utama. Iran disebut mencoba meningkatkan tekanan global dengan menyerang dan mengancam jalur pelayaran, sehingga biaya energi melonjak dan memicu tekanan politik terhadap Presiden AS, Donald Trump, untuk mengakhiri perang.
Upaya tersebut tampaknya mulai berdampak. Trump sempat mengumumkan bahwa pemerintahannya sedang melakukan pembicaraan “sangat baik” dengan Iran untuk mencapai resolusi penuh konflik. Namun, pernyataan dari pemerintah AS masih berubah-ubah terkait peluang tercapainya kesepakatan.
Utusan khusus AS, Steve Witkoff, menyebut ada “tanda-tanda kuat” bahwa Iran dapat diyakinkan untuk menerima rencana damai Washington. Namun, beberapa hari kemudian Trump justru menyatakan keraguan.
“Saya tidak tahu apakah kita bisa melakukannya. Saya tidak peduli membuat kesepakatan,” kata Trump dalam rapat kabinet, seraya menegaskan bahwa masih ada target lain yang ingin diserang.
Kharg Island Target Strategis
Salah satu target yang dimaksud diyakini adalah Pulau Kharg. Mantan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, menyebut pulau itu sebagai “bidak berikutnya” dalam papan catur strategis perang.
Menurutnya, jika langkah militer diambil, maka harus dilakukan segera karena bisa menjadi penentu hasil konflik.
Meski Amerika Serikat memiliki keunggulan militer besar, serangan ke pulau tersebut tetap berisiko tinggi. Pasukan AS akan menjadi target empuk, sementara tekanan terhadap Iran juga bisa dilakukan dengan cara lain, seperti memutus ekspor minyaknya tanpa invasi langsung.
Operasi Militer Langsung AS
Pengamat Iran dari Institute for National Security Studies, Raz Zimmt, memperkirakan eskalasi konflik bisa berujung pada operasi militer langsung oleh AS, termasuk pengerahan pasukan darat.

Trump sendiri belum secara terbuka menutup opsi untuk merebut Pulau Kharg—sebuah gagasan yang pernah ia suarakan sejak era perang Iran-Irak pada 1980-an.
Secara teori, penguasaan pulau tersebut dapat melumpuhkan ekonomi Iran yang sangat bergantung pada ekspor minyak. Tanpa pemasukan utama itu, rezim Teheran diyakini akan terpaksa menerima syarat AS atau menghadapi tekanan domestik besar.
Namun, operasi tersebut bukan tanpa hambatan. Iran telah memperkuat pertahanan pulau dengan sistem rudal pertahanan udara dan menyiapkan berbagai skenario serangan balasan.
Iran Masih Mampu Luncurkan Drone
Setelah invasi awal, ancaman terbesar justru datang dari serangan balasan Iran. Negara itu masih memiliki kemampuan meluncurkan drone dan rudal, termasuk drone bunuh diri yang selama ini juga digunakan dalam konflik lain seperti perang Rusia-Ukraina.
Iran diperkirakan akan menggunakan taktik serupa—mengirim gelombang drone untuk membanjiri pertahanan AS dan menyerang target secara presisi.
Selain itu, posisi Pulau Kharg yang dekat dengan daratan Iran membuatnya berada dalam jangkauan artileri roket dan berbagai sistem senjata lainnya.
Iran Masih Mampu Jual Minyak
Meski penguasaan Pulau Kharg berpotensi memutus ekspor minyak Iran, dampaknya tidak akan langsung terasa. Iran diketahui masih mampu menjual lebih dari 1,5 juta barel minyak per hari selama perang berlangsung.

Pengalaman sebelumnya menunjukkan Iran mampu bertahan meski ekspor minyaknya anjlok akibat sanksi, sehingga tekanan ekonomi bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Selain invasi, AS juga memiliki opsi lain yang lebih rendah risiko, seperti menghentikan kapal tanker Iran atau menghancurkan fasilitas energi dari udara.
AS Miliki Peluang Lemahkan Rezim
Sebagian analis menilai bahwa alih-alih mencapai kesepakatan dengan Iran, AS justru memiliki peluang untuk melemahkan rezim secara signifikan dengan memutus total ekspor minyaknya.
Langkah tersebut dinilai bisa mengubah keseimbangan kekuatan dalam jangka panjang, meski juga berisiko memperpanjang konflik.
Dengan negosiasi yang belum pasti dan opsi militer yang semakin terbuka, Pulau Kharg kini menjadi titik krusial yang dapat menentukan arah perang di kawasan Teluk dalam waktu dekat.


