ROMA, TERMINALNEWS.ID – Legenda sepak bola Italia, Andrea Pirlo, dikenal sebagai salah satu pemain paling cerdas dalam sejarah sepak bola.
Ia terkenal berkat teknik sempurna, visi kreatif luar biasa, dan kemampuannya mengatur permainan dari lini tengah yang biasanya diisi oleh pemain bertipe bertahan.
Pirlo menjadi bagian dari skuat legendaris AC Milan pada awal 2000-an. Meski kalah dramatis dari Liverpool di final Liga Champions 2005—yang kerap disebut final terbaik sepanjang masa—Pirlo berhasil membawa Milan juara Eropa dua kali.
Setelah meninggalkan San Siro secara gratis pada 2011, ia bergabung dengan Juventus dan meraih empat gelar Serie A berturut-turut serta tampil di final Liga Champions 2015, meski kalah dari Barcelona.
Puncak kariernya tak berhenti di level klub. Pirlo juga menjadi bagian penting dari tim nasional Italia yang menjuarai Piala Dunia 2006. Tak heran jika menjadi rekan setim Pirlo adalah sebuah kehormatan besar.

Dalam wawancara eksklusif bersama GIVEMESPORT mewakili Boomerang, Pirlo mengungkapkan bahwa Ronaldo Nazario—yang dikenal sebagai “R9” atau “Ronaldo asli”—adalah rekan setim terbaiknya.
Meski hanya bermain bersama sebanyak 26 kali, hubungan keduanya meninggalkan kesan mendalam. Delapan laga pertama terjadi di Inter Milan pada musim 1998/99. Saat itu, Pirlo baru datang dari Brescia dan belum menemukan tempatnya, sementara Ronaldo telah menyandang status bintang dunia setelah meraih Ballon d’Or dan Sepatu Emas Eropa.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bermain bersama di AC Milan pada musim 2006/07. Kini peran mereka berbalik: Pirlo adalah gelandang kelas dunia dan juara dunia, sedangkan Ronaldo sudah mulai menurun usai meninggalkan Real Madrid.
Meski demikian, Pirlo tetap kagum pada sang legenda Brasil. Ia menyatakan:
“Ronaldo dari Brasil paling mengesankan saya dalam hal kekuatan fisik dan keterampilan teknis. Saya percaya dia adalah pemain yang mengubah cara bermain sepak bola di generasi saya karena dia adalah yang pertama menggabungkan teknik tinggi dengan kecepatan luar biasa.”
Ronaldo Nazario memang menjadi ikon besar dalam dunia sepak bola. Sebelum cedera-cedera serius menghambat kariernya, ia merupakan penyerang lengkap—mampu menggiring bola melewati bek, menciptakan peluang, dan mencetak gol dengan teknik luar biasa. Gaya mainnya kerap dibandingkan dengan Lionel Messi dan Diego Maradona.

Berkat kecepatannya yang eksplosif dan teknik tingkat tinggi, ia dijuluki “Il Fenomeno”. Mantan rekan setimnya di Barcelona, Oscar Garcia, pernah mengatakan:
“Saya belum pernah melihat siapa pun bermain sepak bola dengan kemampuan teknis, kreativitas, dan presisi seperti itu dalam kecepatan luar biasa. Dia bisa membuat hal sulit terlihat mudah.”
Meski tak ada yang benar-benar menyamai Ronaldo, banyak pemain mencoba menirunya—dari Michael Owen, Thierry Henry, Mohamed Salah, hingga Kylian Mbappé. Amerika Selatan juga terus menghasilkan penyerang berkarakter mirip, seperti Luis Suárez dan Sergio Agüero.
Ronaldo tetap menjadi sosok ikonik meski hanya menikmati puncak kariernya dalam lima hingga enam tahun pertama. Ia tetap bersinar usai kembali dari cedera, membawa Brasil juara Piala Dunia 2002 dan mencetak 104 gol dari 177 laga bersama Real Madrid.
Sir Bobby Robson bahkan pernah menyatakan:
“Ronaldo bisa memulai dari garis tengah dan seluruh stadion akan bergemuruh. Ia pemain tercepat yang pernah saya lihat membawa bola. Jika tak cedera, dia bisa menjadi pemain terbaik sepanjang masa.”

