Oleh : Cocomeo Cacamarica
Bicara sepak bola, maka tak penah ada pangkalnya dan tak pernah menemukan ujungnya. Begitulah, kira-kira kata mBah Coco bersabda. Siapa saja, punya hak bicara permainan sepak bola. Tak ada yang melarang. Tak ada batasnya, harus ngerti filosofi sepak bola, atau tidak?
Sepak bola, sudah seperti makanan dan mungkin agama. Kapan saja, di mana saja, selalu bisa dijadikan obrolan. Entah di rumah ibadah, pucuk gunung, warung remang-remang, atau di istana keperesidenan. Semuanya, football area. Bukan no football, no woman…heheheheh!
Kali ini, mBah Coco masih memberi literasi dari sudut yang selalu berbeda.
Sepak bola Inggris, sebagai kiblat sepak bola modern, penemu aturan main sepak bola yang saat ini, diatur lewat undang-undang FIFA. Gaya dan corak sepak bola Inggris, pernah terkenal dengan julukan “kick and rush.”
Gaya bermain “Kick and Rush” adalah para pemain belakang, selalu memanfaatkan lebar lapangan, sekaligus memberi umpan lambung jauh ke area kotak penalti, secara cepat. Tanpa, memperdulikan para pemain tengah, yang sejatinya, punya karakter sebagai pengatur serangan.
“Kick and rush” yang selalu dipraktikan klub-klub Liga Inggris, sejak awal abad 19, kini sudah kuno dan punah ditinggal jaman. Ketika, karakternya, mudah dibaca lawan, dengan konsep jebakan off set. Sesuai perkembangan aturan main di sepak bola modern.
Ada formasi “Catenaccio” – kunci gembok, yang dilakoni Italia sejak akhir 60-an, dari Inter Milan, ke tim nasional Italia, saat meraih gelar World Cup 1982. Dengan kwartet lini belakang, Claudio Gentile, Giuseppe Bergomi, Antonio Carbini dan Fulvio Collovati. Dan, konsepnya “Catenaccio”, hanya cukup mencari peluang mencuri lewat gol serangan balik, dari Paolo Rossi, Fransisco Graziani dan Alessandro Altobelli
Penggila bola, pasti pernah mendengar dengan istilah “Jogo Bonito” Brasil?
Adalah bentuk permainan yang indah, dan mengutamakan estetika, gaya dan imajinasi individual. Setiap pemain bebas memainkan sepak bola sesuai kesyikannya sendiri. Semua pemain wajib nunjukin diri, bisa bermain dengan karakter keindahan, dan kegembiraan, kalau perlu akrobatik. Filosofinya, “bermain dari hati.” Tak peduli instruksi pelatih.
Masih ingat “Total Football” milik Rinus Michels, arsitek penemu gaya bermain bola, hanya bisa menyerang. Ogah main bertahan. Setiap pemain di tim nasional Belanda, tabu mengoper bola ke belakang. Semuanya, nyerang bareng, dan kemudian nyerang lagi. Sekaligus pressing yang ketat, saat kehilangan bola.
Dari “Total Football”, lahirnya imajinasi baru dalam diri Johan Cruiyff yang dititiskan ke Pep Guardiola, menjadi sebuah permaianan “Tiki-Taka”. Yaitu, bermain menguasai bola selama mungkin. Dan, menomorsatukan passing-passing pendek selama mungkin, dalam menyerang mau pun bertahan. Seandaikan saat mencetak gol pun, juga tidak harus lewat tendangan keras. Melainkan, cukup pelan saja, tapi terarah, presisi, dan sekaligus menipu pertahanan dan kiper lawan.
Sebelum “Tiki-Taka” lahir, ada corak taktik strategi yang ampuh, dalam karakter tim nasional Jerman. Julukannya “Panzer Diesel.” Yaitu, bermain selama mungkin. Dan, saat semua pemain sudah “panas.” Dijamin, taka da yang bisa membendung timnas Jerman, oleh sebanyak mungkin pertahanan lawan. Salah satu kehebatan “Panzer Diesel,” selalu melahirkan pemain yang mampu sebagai “Raja Diving”, seperti Juergen Klinsmann dan Miroslav Klose.
Sampai di situ, versi mBah Coco, gaya, corak, karakter, taktik dan strategi yang pernah ditulis di atas, sudah punah, dan nyaris tidak ada sebuah tim negara atau klub, memainkan formasi “Kick and Rush”, atau “Catenaccio,” atau “Total Football,” atau Panzer Diesel,” atau pun, “Tiki-Taka.”
SEJARAH FORMASI
mBah Coco, mengupas jejak sejarah formasi permainan sepak bola.
Tahukan Anda, penggila, pencinta dan penggemar sekaligus supporter sepak bola. Bahwa, sejak era profesionalisme dicanangkan FA, tahun1885, pengelolaan kompetisi dan teknik pemain di Liga Inggris, mulai ditangani secara serius.
Formasi dua full backs di belakang (formasi 2 – 8, biasanya penjaga gawang tak diikutkan dalam penyebutan formasi) ditinggalkan, karena kesadaran perlunya keseimbangan antara lini belakang (defense) dan depan (offense).
Mula-mula, satu pemain depan (forward), ditarik kebelakang (2-1-7), kemudian dua pemain (2-2-6), yang akhirnya sejak 1900-an, menggunakan tiga pemain gelandang (2-3-5).
Ini yang sering disebut formasi klasik (atau system piramida), yang bertahan lumayan lama di Inggris, yakni, dua back, tiga gelandang (right, centre dan left half ), serta lima penyerang (right wing, inside right, centre forward, inside left dan left wing).
Dengan lima penyerang, orientasi pemain sepak bola sejak awal memang dengan pola menyerang. Sayangnya, tugas penjaga gawang dan dua back dibelakng 90% bertahan. Belum banyak diarahkan untuk mendukung serangan. Tugas menyerang sekaligus bertahan dibebankan, kepada tiga gelandang, yang zaman dulu disebut helf backs.
Pada 1925, agar pemain menyerang tak ngendon di sekitar gawang lawan, keluarlah ketentuan off side. Inilah awal kehancuran formasi 2 – 3 – 5. Dua pemain belakang kalang kabut mengatur jebakan off side yang mereka pasang sendiri. Ini terbukti dengan statistik gol yang tercipta, semakin banyak dalam setiap pertandingan.
Akibatnya, banyak klub menarik dua pemain menyerangnya ke belakang. Satu menjadi bek dan satu lagi gelandang, sehingga formasi tim menjadi 3 – 4 – 3. Formasi yang dikenal dengan nama formasi W-M. Dan, setersunya, sudah semakin modern, formasi 3 – 5 – 2, yang biasa dilakukan tim nasional jerman, sejak juara World Cup 1990, di Italia hingga hari ini.
EURO 2004
Dari 50 pertandingan, sepanjang Piala Eropa 2024, hingga menjelang final antara Spanyol vs Inggris, yang akan berlangsung, Senin dini hari, 15 Juli 2024, pukul 02.00 waktu Rawamangun, ada catatan mBah Coco.
Bahwa, dari 24 negara yang lolos putaran di Jerman, nyaris rata-rata 70% kekalahan setiap negara, dilakukan oleh kesalahan para pemainnya (10 diantaranya, melakukan gol bunuh diri). Ada 24% kesalahan VAR – Video Assistant Referre, serta 6% akibat ada keberuntungan.
mBah Coco, tak perlu memberi satu persatu kesalahan setiap tim, saat bermain di penyisihan Grup A, B, C, D, E dan F di EURO 2024.
PERTAMA
Kroasia, dalam dua partai teakhir di B, menghadapi Spanyol, 15 Juni, dan lawan Italia di partai terakhir, 24 Juni. Melakukan kesalahan dua kali. Yaitu, saat dua kali dapat hadiah penalti. Petrovic gagal cetak gol, menit 78. Rodri harusnya kena kartu merah, tapi tidak dikasih oleh wasit Michael Oliver. Begitu saat Luca Modric, juga gagal eksekutif penalti, menit 55.
Kesalahan kedua Kroasia, yang pernah melahirkan legendanya Davor Suker di World Cup 1998, sudah dua kali unggul melawan Albania dan Italia. Namun, gagal mempertahankan keungulan, justru di injury time, penambahan waktu. Versus Albania, sudah unggul 2 – 1, gagal dipertahankan di menit 90+5. Sudah unggul atas Italia 1 – 0, kebobolan di menit 90+8.
“Sepak bola itu kejam,” kata Zlatko Dalic, arsitek Kroasia
KEDUA
Di babak 16 Besar, hampir setiap negara yang gagal ke babak 8 Besar, selalu melakukan kesalahan-kesalahan fundamental, yang seharusnya tidak perlu dilakukan. Namun, justru dilakukan oleh para pemainnya. Salah satu sebabnya, bahwa dalam babak knock out, versi mBah Coco, adalah setiap pertandingan dalam final.
Jika tidak siap fisik dan mental, serta tidak memiliki kerjasama yang rapi. Maka, malapetaka akan tiba.
Sebelum menit terakhir, belum dibunyikan wasit. Maka, setiap negara belum punya hak menjadi pemenang, dan setiap tim jangan merasa jumawa, untuk meraih kemenangan.
Pernah nonton final UEFA Champions League, Manchester United (Inggris) vs Bayern Munich (Jerman), di musim 1998 – 99, yang berlangsung di Nou Camp, Barcelona, 26 Mei 1999. Bayern Munich, sudah unggul sejak menit ke-6, lewat Mario Basler. Hingga, penambahan waktu – injuty time. Namun, menit 90+1, Teddy Sheringham menyamakan kedudukan. Dan dua menit kemudian menit 90+3, Ole Gunnar Solskjaer membungkam Oliver Kahn.
Saat Inggris menghadapi Slovakia, mirip dengan final Champions League. Lagi-lagi, yang melakukan hal serupa adalah Inggris. Di saat, Slovakia sudah unggul 0 – 1, lewat gol Ivan Schranz, menit 25. Ada sekitar 20% dari 30 ribu “hooligans” – suporter Inggris, sudah frustasi dan keluar dari stadion Arena AufSchalke – Gilsenkirchen. Nyatanya, menit 90, Harry Kane cetak gol, dan menit 90+5, Jude Bellingham cetak gol salto akrobatiknya.
KETIGA
Babak 8 Besar, kesalahan paling fatal, saat ada “perang urat syaraf” di luar lapangan. Ketika Oliver Kahn, mantan kiper Jerman menilai, bahwa rata-rata pemain Spanyol kecil-kecil, dan tidak berpengalaman. Maklum, sepak bola di generasi milenial dan Gen Z, medsos adalah salah satu pengganggu mental pemain.
Ternyata, Lamine Yaman, mengunggah akun medsosnya. Justru tidak menyerang Oliver Kahn, namun, justru sebaliknya. “Terima kasih kritikannya, mudah-mudahan bisa melecut kami yang kecil dan tidak berpengalam, dalam memenangkan pertandingan.” Hasilnya, umpan Yamal, menit 51, membuahkan gol penyama lewat Daniel Olmo. Sekaligus memupus kritikan Oliver Kahn.
KEEMPAT
Di semi final, ada dua kesalahan yang dilakukan Perancis, saat menghadapi Spanyol, dan saat Belanda melawan Inggris.
Menurut mBah Coco, Perancis sejak awal anggap remeh Spanyol, karena pemain-pemainnya dianggap belum matang, dan tubuhnya kecil-kecil. Awalnya, saat komentar Adrien Rabiot, gelandang kreatif yang bermain untuk Juventus, sudah “menghina” Lamine Yamal.
“Jika ingin lolos ke final, Yamal harus bekerja ekstra keras melebihi penampilan sebelumnya,” kata Rabiot. Dan, akhirnya dibuktikan Yamal, menit 21, sebelum mencetak gol “anak alien”, Yamal, justru mengecoh dan menipu Rabiot terlebih dahulu.
Sedangkan, kesalahan fatal dari Belanda, saat arsitek Belanda, Ronald Koeman menarik Memphis Depay, menit 35, digantikan Joey Feerman. Padahal, sejak di penyisihan grup D, versi mBah Coco, adalah striker yang selalu dibenci pemain bertahan lawan. Karena, Depay, lincah, ulet, ngeyelan dan napas badak serta membahayakan pertahanan lawan.
KESIMPULAN
Dalam permainan sepak bola modern saat ini, yang sudah tidak peduli dengan jejak formasi dari W-M, dari taktik 2 – 8, kemudian 2 – 3 – 5, atau 3 – 4 – 3, sampai formasi jenius 4 – 4 – 4 (Liverpool), hingga ada karakter permainan Catenaccio, Jogo Bonito, Panzer Diezel, Total Football, hingga Tiki-taka. Maka, wajib ada cara main yang dijadikan pembeda di jaman “now.”
1.Jangan sekali-kali dari masalah non-teknis, seperti mengkritik lewat media social, entah itu Instagram, twitter dan facebook, untuk meremehkan dan terkesan menghina pemain lawan yang akan dihadapi. Hasilnya, akan berbalik
2. Setiap individu pemain, wajib menjaga fisik dan staminanya, untuk bisa bermain sepanjang 90 menit, atau pun 120 menit saat perpanjangan waktu. Dengan cara, 100% tidak boleh mengumpan ke temannya salah atau meleset.
3.Jangan pernah melakukan kesalahan mengontrol bola, atau menerima bola dari temennya. Dan, yang terakhir, setiap pemain wajib punya kuda-kuda kakinya, dan menjaga keseimbangan badan, untuk memenangkan dan mengawal bola, selama mungkin, sepanjang 90 atau 120 menit. Sekali saja bola direbut lawan, maka malapetaka akan tiba.
4. Cerita di atas, akan disalurkan ke Cocomeo News (facebook, Instagram), Cocomeo Channel (youtube), Radio Bola Koaidi (streaming), dan TerminalNews (portal berita) yang dikelola mBah Coco di Kandang Ayam.
Njuk, piye jal?

