BerandaNewsEsai & OpiniKETIKA ISTANA MULAI MEMBERSIHKAN...

KETIKA ISTANA MULAI MEMBERSIHKAN DIRINYA SENDIRI

OLEH: Tommy R. Arief 

ADA HARI-HARI dalam sejarah sebuah negara yang terasa biasa saja di kalender, tapi terasa gempa di dalamnya.

Kamis, 5 November 2026 adalah salah satu hari itu.

Pagi hari, di Jakarta Timur, seorang ayah berusia 71 tahun datang ke pengadilan. Bukan sebagai terdakwa. Sebagai saksi. Di kiri-kanannya, dua anaknya berjalan mengapit. Kaesang dan Kahiyang. Gibran tidak ada. Tapi dua anak itu cukup.

Di tangannya, bukan pidato kenegaraan. Tapi map berisi ijazah SD, SMP, SMA, dan S1-nya.

“Semua, semua,” jawabnya singkat saat wartawan bertanya apakah dia membawa ijazah asli.

Di saat yang hampir bersamaan, di Jakarta Pusat, di Mabes Polri, seorang Kapolri baru yang baru sebulan menjabat berdiri di depan para purnawirawan. Namanya Suyudi Ario Seto.

“Ini bukan persaingan,” katanya. “Ini murni penegakan hukum.”

Tiga hari sebelumnya, dia baru saja menetapkan mantan atasannya sendiri — mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo — sebagai tersangka penyadapan Presiden.

Bayangkan beban itu. Menyidik orang yang dulu adalah bosmu.

Dan di Istana, di ruangan yang tidak terlihat kamera, nama-nama mulai berpindah. 264 perwira dimutasi dalam satu telegram. Satu orang dicopot dari Kepala Staf Kepresidenan. Satu nama lain — Teddy — mulai diperbincangkan, apakah masih ada atau sudah mulai disingkirkan.

Tiga panggung. Tiga cerita. Tapi sebenarnya, ini satu cerita yang sama.

Cerita tentang sebuah negara yang sedang mencoba membersihkan dirinya sendiri.

Baca Juga :   GENERASI MUDA DAN AGEN PERDAMAIAN Oleh : Inggar Saputra

Panggung Pertama: Seorang Ayah

Kita bisa berdebat soal ijazah Jokowi sampai besok. Asli atau palsu, itu urusan hakim dan laboratorium forensik.

Tapi yang tidak bisa diperdebatkan pagi itu adalah gambarnya: Seorang bapak yang ditemani anak-anaknya masuk ke ruang sidang untuk membuktikan bahwa dia pernah sekolah.

Itu gambar yang menyedihkan, sekaligus mengharukan.

Menyedihkan, karena di negara yang sehat, seorang mantan Presiden tidak perlu mengangkat ijazah SD-nya tinggi-tinggi di depan kamera agar dipercaya.

Mengharukan, karena di saat seperti itu, yang mendampingi bukan ajudan, bukan pengacara, bukan massa. Tapi anak-anaknya.

Kahiyang yang berkacamata hitam. Kaesang yang berkemeja putih. Mereka tidak bicara. Mereka hanya berjalan di samping ayahnya, seolah berkata: Bapak tidak sendiri.

Di dalam ruang sidang, Jokowi minta izin hakim untuk menunjukkan ijazahnya kepada pengunjung. Bukan untuk gaya. Tapi karena dia pernah berjanji: “Saya akan tunjukkan.”

Dan dia menepati janjinya.

Panggung Kedua: Seorang Kapolri Baru

Sementara Jokowi sedang bersaksi, Suyudi sedang menjelaskan kepada para sesepuh Polri.

Kenapa dia harus menjelaskan kepada purnawirawan dulu? Karena yang dia tangkap bukan maling ayam. Yang dia tangkap adalah mantan Kapolri.

Di Indonesia, menangkap mantan Kapolri itu seperti membongkar rumah sendiri di depan tetangga. Malu, sakit, tapi harus dilakukan kalau atapnya sudah bocor.

Maka Suyudi menggandeng Bambang Hendarso Danuri, mantan Kapolri 2008-2010, Ketua Umum Persatuan Purnawirawan Polri. Pesannya jelas: Yang membersihkan Polri adalah Polri sendiri, dengan restu para sesepuhnya.

Baca Juga :   TEMBAKAN JITU

Lalu sehari sebelum pengumuman tersangka, Suyudi sudah menandatangani telegram mutasi 264 perwira.

Orang awam bilang: “Oh, rotasi biasa.”

Orang yang paham Istana bilang: “Tidak. Itu sterilisasi.”

Suyudi mengunci dulu struktur, baru mengumumkan tersangka. Supaya tidak ada yang bisa menghapus barang bukti, menggerakkan pasukan, atau membocorkan penyidikan.

Itu bukan rotasi. Itu cara seorang pemimpin baru berkata: Sekarang komandonya di saya.

Panggung Ketiga: Istana Yang Sepi

Dan inilah panggung yang paling sunyi, tapi paling menentukan.

Di Istana, perubahan tidak pernah diumumkan dengan toa. Perubahan terlihat dari foto.

Siapa yang berdiri di belakang Presiden? Siapa yang hilang dari foto? Siapa yang tiba-tiba tidak lagi mendampingi?

Minggu ini, yang hilang dari foto adalah Listyo Sigit. Dicopot dari Kepala Staf Kepresidenan.

Yang mulai dipertanyakan adalah Teddy. Seskab. Orang yang memegang kunci akses ke Presiden.

Apakah Teddy diganti? Sampai hari ini, belum ada pengumuman resmi. Jangan percaya gosip media sosial yang bilang sudah diganti.

Tapi pertanyaan itu sendiri sudah cukup untuk menunjukkan sesuatu: Prabowo sedang masuk ke Tahap Kedua.

Tahap Pertama: Ganti Kapolri, mutasi 264 perwira, copot KSP.
Tahap Kedua: Bersihkan lingkaran terdekat.

Setiap Presiden melakukannya. Tahun pertama, dia memakai orang-orang warisan. Tahun kedua, dia mulai memakai orang-orangnya sendiri. Bukan karena dendam. Karena dia harus memastikan kendali pemerintahan sepenuhnya berada di tangannya.

Dan di tengah semua itu, muncul nama AHY.

Baca Juga :   MARABOSE: Jejak Mendayung Sultan Makian Menaklukkan Bacan

AHY kemarin tampil paling keras: “Bongkar siapa yang perintah, apa motifnya, untuk siapa hasil sadapan digunakan!”

Orang lalu berspekulasi: “AHY mau naik jadi Seskab?”

Padahal, bisa jadi AHY tidak sedang mengejar jabatan. Dia sedang pasang badan. Sebagai Ketua Umum Demokrat, dia bilang kepada Prabowo: Kami bersama Bapak.

Dalam politik, kadang orang yang paling keras membela justru bukan orang yang sedang mencari jabatan. Tapi orang yang sedang menunjukkan kesetiaan.

Jadi, Apa Yang Sebenarnya Terjadi Hari Ini?

Jika kita satukan tiga panggung itu, jawabannya sederhana:

Indonesia sedang dibenahi. Bukan karena sudah bagus, tapi karena sudah tidak bisa lagi dibiarkan rusak.

Polri dibenahi dari dalam. Hukum ditegakkan sampai ke mantan Presiden harus bersaksi. Istana dibenahi dari lingkaran terdekat.

Apakah ini akan berhasil? Tidak ada yang tahu.

Yang kita tahu adalah: Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, kita melihat institusi berani membongkar dirinya sendiri. Polri menyidik Polri. Mantan Presiden datang ke pengadilan. Semua partai — dari Gerindra sampai PDIP — kompak minta usut tuntas.

Itu bukan Indonesia yang sudah beres.

Itu Indonesia yang baru sadar: Kalau tidak dibenahi sekarang, kapan lagi?

Dan pembenahan itu, seperti kata pepatah lama di Istana: Tidak selalu terlihat dari pernyataan terbuka.

Kadang, dia terlihat dari siapa yang dipindahkan, siapa yang dipertahankan, dan siapa yang mulai kehilangan pengaruh.

Hari ini, kita sedang menyaksikan ketiganya, sekaligus.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Lionel Messi Masih Jadi Raja Kolektor Trofi, Ungguli Dani Alves dan Cristiano Ronaldo

TERMINALNEWS.ID, LONDON - Lionel Messi masih menempati posisi teratas dalam daftar...

Cristiano Ronaldo Bisa Tak Mendapat Laga Perpisahan Bersama Timnas Portugal

TERMINALNEWS.ID, LISABON - Masa akhir perjalanan Cristiano Ronaldo bersama Timnas Portugal...

ADA APA? APA ADA? KAPOLRI SUYUDI MUTASI 264 PERWIRA SEKALIGUS — BUKAN ROTASI BIASA

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA - Kalau cuma 5-10 orang dimutasi, itu rotasi biasa....

Shea Lacey Bersinar di Manchester United, Kai Rooney Mulai Tebar Ancaman dari Akademi

Manchester United mulai menuai hasil dari pembinaan pemain mudanya. Shea Lacey...

- A word from our sponsors -