OLEH : NABIL M. SALIM
Di TENGAH gempuran musik disko dan orkes tunggal, ada satu warisan leluhur yang terus diperjuangkan untuk hidup di pesisir Halmahera Selatan: Tarian Togal.
Bukan sekadar tarian, Togal adalah identitas. Tarian adat Suku Makian ini berkembang bahkan sebelum Indonesia merdeka, dan menjadi simbol kegembiraan, persaudaraan, dan kekuatan masyarakat Makayoa.
Apa itu Togal?
Secara etimologis, Togal berasal dari kata ‘Toga’ yang berarti jubah kehormatan dan ‘Gala’ yang berarti pesta besar. Dalam bahasa Makian, Togal dikenal dengan istilah “Fiyol”. Masyarakat Makian mengistilahkan seni ini sebagai “Pesta Rakyat”.
Musiknya Tifa dan Apa? Ini Paket Wajib 5 Unsur
Banyak yang tanya, kalau musik Katreji itu biola-tifa-ukulele, kalau Togal apa?
Jawabannya, Togal punya pakem sendiri yang lebih lengkap. Musik Togal bukan cuma Tifa. Ini susunan lengkapnya menurut penutur adat Ibu Ida dan Sanggar Budaya Waidoba:
1. TIFA (Tukang Pukul Tifa) – Gendang utama, pembawa tempo dan semangat. Dipukul berbarengan, kadang 4 pemukul tifa sekaligus.
2. FIOL / FIYOL / BIOLA (Bairis Fiol) – Ini JIWA-nya Togal. Tanpa pemain biola, tidak ada pesta Togal. Fiol mengalunkan melodi yang membuat kaki penonton tak tahan ikut bergoyang.
3. GAMBUS / SARAGI / JUK (Tukang Bakuti) – Sebagai pengiring harmoni, pemberi warna Melayu-Arab yang kental di pesisir Maluku Utara.
4. ATIPA, SULING, UKULELE – Di beberapa kampung seperti di Desa Gane Dalam dan Orimakurunga, ditambahkan alat tiup dan petik ini untuk memperkaya irama.
5. DENDANG & SYAIR (Tukang Batogal) – Tidak lengkap tanpa syair dan pantun Makian. Tukang batogal mendendangkan pantang-larang, petuah adat, dan cerita orang Makian, diistilahkan dalam bahasa Makian “Do’oma dokuka” yang artinya anak kecil.
Jadi rumusnya: Tifa + Fiol + Gambus = Paket Wajib. Suling dan dendang sebagai pelengkap sakral.
Krisis terjadi di sini. Di pesisir Gane Barat Utara, Halmahera Selatan, tersisa hanya dua orang yang bisa bermain Fiol, usia mereka sudah 50 dan 60 tahun. Anak muda yang mau belajar bairis fiol atau gambus sudah tidak ada lagi.
Benteng Terakhir di Kayoa Selatan
Upaya pelestarian terbaru datang dari Sanggar Budaya Waidoba. Pada 26-27 Oktober 2026 lalu, mereka sukses menggelar Festival Budaya Kampung Orimakurunga di Desa Orimakurunga, Kecamatan Kayoa Selatan.
Mengusung tema “Merawat Tradisi, Melestarikan Budaya, Menghidupkan Pangan Lokal”, festival yang didukung Dana FPK Kementerian Kebudayaan RI ini menampilkan tiga unsur utama: Tarian Togal, Tarian Soya-Soya, dan tradisi pengolahan pangan lokal.
“Tarian Togal bukan sekadar tontonan. Melalui gerakan, iringan musik Fiol-Tifa-Gambus dan kebersamaan para penari, Togal menjadi simbol kegembiraan dan persaudaraan,” ujar Ketua Panitia M. Rizki Hasyim.
Bahkan, Sanggar Waidoba kini mengusulkan agar Tarian Togal masuk sebagai muatan lokal di sekolah SD hingga SMA, agar anak-anak tidak hanya mendengar cerita, tapi belajar langsung main tifa dan gesek fiol.
Desa Busua di Kayoa Barat yang dulu dikenal sebagai benteng penjaga budaya Togal, kini budayanya mulai surut tergeser pesta joget. Padahal di dalam irama Fiol dan Tifa itu ada aturan, etika, dan rasa hormat yang membentuk karakter kolektif masyarakat Makian.
Berbeda dengan Katreji yang merupakan warisan Portugis (Quadrille), Togal adalah murni identitas Orang Makian. Keduanya kini menjadi dua sisi mata uang budaya Makayoa: satu dari pengaruh luar yang dilestarikan, satu lagi dari jati diri sendiri.
Bagi MAKAYOA BERSATU Jakarta yang akan menggelar Pesta Kuliner dan Budaya pada 8 November 2026 di Hotel Sahid Jaya Jakarta, Togal dengan iringan Tifa-Fiol-Gambus harus menjadi menu utama selain Katreji.
*NABIL M. SALIM – Ketua Dewas MAKAYOA BERSATU
Editor: Tommy R. Arief – Terminal News
Dituturkan: Ibu Sita Muksin (Asli Bacan Halsel) & Sanggar Budaya Waidoba

