TERMINALNEWS.ID, BOGOR – Perjalanan hidup tak selalu berjalan sesuai harapan. Hal itu pula yang dialami Luki, pesinetron sekaligus penulis skenario yang pernah menghiasi layar kaca lewat sejumlah sinetron dan film televisi (FTV). Kini, pria berusia 55 tahun yang dikenal dengan nama Abah Sukma itu memilih banting setir menjadi pedagang soto mie demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.
Selama delapan bulan terakhir, Luki menjalani usaha kuliner dengan berjualan soto mie di belakang SDN Cimanggu 02, Desa Cimanggu II, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Meski tak lagi rutin tampil di layar kaca, ia mengaku nyaman menjalani profesi barunya tersebut.
“Sudah delapan bulan ini saya berjualan soto mie di belakang SDN Cimanggu 02. Alhamdulillah, dengan usaha baru ini saya mampu menafkahi istri dan anak-anak,” kata Luki kepada TERMINALNEWS.ID, Kamis (29/10/2026).
Luki bukan sosok baru di dunia hiburan Tanah Air. Ia mengawali karier sebagai pemain sinetron dan FTV pada 1994. Sejak itu, ia terlibat dalam berbagai produksi rumah produksi (PH) ternama di Jakarta.

Namanya pernah terlibat dalam sejumlah sinetron, di antaranya Kupu-Kupu Kertas dan Perjalanan produksi Multivision Plus, yang dibintanginya bersama aktor Harry Capri. Ia juga pernah bermain dalam sinetron Takdir Ilahi dan Rahasia Ilahi produksi KEP-Media, serta berbagai judul sinetron lainnya.
Selain menjadi aktor, Luki juga memiliki pengalaman sebagai penulis naskah dan skenario untuk sejumlah sinetron maupun FTV. Ia pernah terlibat dalam produksi Cinema 3 dan menjadi asisten sutradara (astrada) bagi sutradara senior almarhum Dicky Yudhasoka, yang disebutnya sebagai keponakan almarhum sutradara nasional Sjumandjaja.
Tetap berkarya di tengah kesibukan berjualan
Meski kini lebih banyak menghabiskan waktu melayani pembeli, Luki tak sepenuhnya meninggalkan dunia seni peran. Ia masih sesekali mengajar akting di sejumlah sekolah di wilayah Bogor Barat, terutama ketika mendapat permintaan untuk melatih para siswa.
Dalam beberapa bulan terakhir, ia juga mengaku telah merampungkan dua sinetron untuk sebuah desa di Kecamatan Cibungbulang. Salah satu karya tersebut berjudul Bumi dan Darah.
“Kalau ada yang meminta saya melatih akting di sanggar, saya tetap datang mengajar. Namun, saat ini saya lebih nyaman berjualan soto mie karena hasilnya bisa mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Bagi Luki, usaha yang telah dirintisnya itu kini memiliki arti tersendiri. Selain menjadi sumber penghasilan, ia juga telah memiliki pelanggan tetap yang membuatnya enggan meninggalkan usaha tersebut.
“Kalau jualan soto mie ini saya tutup, sayang sekali. Langganan saya sudah banyak,” katanya.
Keputusan untuk lebih fokus berjualan juga membuat Luki harus mempertimbangkan kembali tawaran bermain sinetron yang datang kepadanya. Sejak awal 2026, ia mengaku beberapa kali mendapat panggilan untuk tampil kembali di layar kaca, meski hanya sebagai pemeran pendukung.
Namun, karena usaha soto mienya baru dirintis, ia memilih menolak sejumlah tawaran tersebut.
“Sering saya mendapat panggilan dari unit manager sebuah produksi untuk bermain sinetron atau FTV lagi. Namun, karena usaha jualan soto mie baru saja saya mulai, dengan terpaksa tawaran itu saya tolak,” tuturnya.
Menyimpan mimpi menjadi sutradara
Di balik kesibukannya berjualan, Luki ternyata masih menyimpan cita-cita besar di dunia perfilman. Ia ingin suatu saat bisa duduk di kursi sutradara dan menggarap film maupun sinetron berdasarkan naskah yang ditulisnya sendiri.
Pengalaman selama lebih dari tiga dekade di dunia hiburan menjadi bekal berharga baginya. Berbagai teknik penyutradaraan, kata Luki, dipelajarinya secara otodidak melalui pengamatan dan keterlibatan langsung selama proses produksi sinetron maupun film.
Ia mengaku telah menyiapkan sejumlah naskah dan skenario untuk beberapa judul sinetron serta film. Karya-karya tersebut diharapkan bisa mendapat kesempatan untuk diproduksi oleh rumah produksi.
“Ilmu menyutradarai film dan sinetron sudah saya dapatkan secara otodidak di lapangan. Saat ini, saya juga telah mempersiapkan beberapa naskah dan skenario untuk sejumlah judul sinetron dan film,” ungkapnya.
Luki berharap suatu saat ada rumah produksi yang tertarik menerima dan menggarap karyanya. Jika kesempatan itu datang, ia mengaku siap kembali berkarya di industri hiburan, kali ini dengan membawa pengalaman yang telah dikumpulkannya selama bertahun-tahun.
Untuk saat ini, ia tetap menjalani hari-harinya sebagai pedagang soto mie. Baginya, bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga merupakan prioritas, tanpa harus mengubur impian yang telah lama dibangun di dunia seni peran dan perfilman. (Jefri Sukapura)

