OLEH: Tommy R. Arief
Sejarah tidak pernah ditulis oleh jemari yang gemetar. Kalimat itu benar. Tapi yang lupa kita ajarkan ke anak muda hari ini: sejarah juga tidak ditulis oleh mereka yang hanya pandang di media sosial.
Jauh sebelum fajar kemerdekaan menyingsing, jauh sebelum kita kenal istilah viral, benih itu sudah disemai. 20 Mei 1908. Budi Utomo. Dokter Wahidin. Mereka meleburkan ego Jawa, Sumatera, Maluku, Papua menjadi satu mimpi liar yang saat itu dianggap gila: Indonesia.
20 tahun Kemudian, Mimpi Liar itu Dipalu
28 Oktober 1928. Di sebuah rumah sempit di Batavia, para pemuda Nusantara menautkan jiwa. Bukan lewat Zoom. Bukan lewat hashtag. Mereka berikrar: Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Indonesia.
Itu bukan kalimat rapuh. Itu adalah komitmen abadi yang dibayar dengan darah.
Dan hari ini, 28 Oktober 2026, sudah lewat. Panggung sudah sepi. Spanduk Sumpah Pemuda sudah diturunkan. Lalu apa?
Partai Demokrat dalam peringatan resminya mengingatkan manifesto yang justru paling relevan setelah perayaan selesai: “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda Untuk Indonesia.”
Tiga kata yang kalau dibedah, menampar kita semua:
1. Patriotik: Bukan soal ganti foto profil Garuda setahun sekali. Patriotik adalah setia pada nilai luhur bangsa saat tidak ada yang melihat. Saat tawaran kerja di luar negeri lebih tinggi. Saat bisa korupsi tapi memilih jujur.
2. Gigih: Anak muda sekarang tidak kekurangan ide. Yang kurang adalah daya tahan. Gigih berarti tidak tumbang saat diterpa badai zaman, saat dihujat netizen, saat gagal seleksi kerja 10 kali.
3. Berempati: Ini yang paling hilang. Berempati adalah kepekaan untuk merangkul sesama demi keadilan sosial. Bukan untuk konten. Tapi untuk hidup. Lihatlah ke Timur. Di Ternate dan Ambon, ada 150 anak yatim usia 7-9 tahun yang kini dapat home base mewah 22 kamar gratis dari Akademi Merah Putih x Benfica. Mereka butuh empati kita, bukan likes kita.
Sumpah Pemuda bukan seremoni tahunan. Ia adalah estafet yang tidak pernah finish.
Jika 1928 mereka mengikrarkan bahasa persatuan, maka 2026 tugas kita adalah mengikrarkan kerja persatuan.
Karena pemuda bukan sekadar masa depan. Pemuda adalah pemilik masa kini yang sedang menentukan apakah sejarah bangsa ini akan terus dipahat, atau kembali ditulis dengan jemari gemetar.
Sumpah itu belum usai.
*TOMMY R.ARIEF/Kader Demokrat/Ketua Umum BSD BARISAN SETIA


