TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Legenda Timnas Indonesia dan Persija Jayakarta, Anjas Asmara, akhirnya buka suara soal carut-marutnya pembinaan sepak bola usia dini di Indonesia.
Di usianya yang ke-74 tahun, mantan striker yang pernah merobek gawang Uruguay itu masih nyentrik dengan gaya hidupnya: golf, moge Harley Davidson, dan cerutu.
Namun di balik gaya nyentriknya, analisanya sangat tajam dan menohok.

Menurut Anjas Asmara, masalah terbesar sepak bola usia dini Indonesia saat ini bukanlah fisik atau mental, melainkan kemiskinan skill individu dan penguasaan bola.
“Untuk sepak bola usia dini ke depan, yang paling penting itu mutlak skill individu. Keterampilan mengolah bola, terutama bagaimana mencetak gol di dalam kotak penalti,” ujar Anjas Asmara.
Ia menyoroti betapa miskinnya kreativitas pemain muda kita di depan gawang jika dibandingkan dengan Jepang, yang menurutnya sudah mencapai titik sempurna dalam pembinaan.

“Jepang itu program penguasaan bolanya sempurna. Di-press setinggi apa pun oleh lawan, mereka tidak panik. Bola tetap lengket di kaki. Lah pemain kita? Begitu di-press tim kuat Asia, apalagi Afrika, langsung hilang bola,” tegas pemain yang pernah membawa Persija juara Perserikatan 1973 dan 1975 itu.
Fenomena ini, kata Anjas, menjelaskan kenapa Indonesia selalu kalah telak di level top Asia. Skor 0-6 dari Jepang, 1-5 dari Iran, 1-5 dari Australia, dan 1-5 dari Irak bukanlah kebetulan, melainkan potret jurang kualitas ball mastery.
“Kita kehilangan penguasaan bola terlalu lama. Lemah karena tidak tahan pressure. Belum ada jalan keluarnya,” lanjutnya.
Di sinilah Anjas Asmara meminta para pelatih untuk jujur pada diri sendiri.

“Pelatih harus jujur, level mereka belum bisa mengatasi pressure seperti ini. Karena mutu kualitas mereka dulu waktu masih bermain, levelnya masih cukup jauh di Asia. Bagaimana mau mengajarkan cara lepas dari pressing Jepang kalau dulu tidak pernah merasakannya?” kritik pedas sang legenda yang kini berusia 74 tahun.
Ia pun menutup dengan pesan menohok: sepak bola modern tidak lagi soal siapa yang kuat lari, tapi siapa yang paling tenang menguasai bola di bawah tekanan.
Editor: TOMMY R. ARIEF

