TERMINALNEWS.ID, CIANJUR — Ada cara berbeda yang dipilih rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) untuk menutup perjalanan mereka di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat.
Bukan sekadar menikmati pemandangan atau menelusuri jejak situs megalitikum, mereka memilih berhenti sejenak, memanjatkan doa, dan merenungkan keadaan bangsa.
Kamis malam, 24 September 2026, setelah menaklukkan sekitar 700 anak tangga, rombongan tiba di Teras 5 Gunung Padang. Di tengah suasana malam Jumat Kliwon dan menjelang purnama, doa bersama dipimpin Dar Edi Yoga.
Doa itu ditujukan untuk Indonesia. Mereka berharap negeri ini senantiasa dijauhkan dari bencana, perselisihan, dan perpecahan. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi ruang refleksi tentang pentingnya merawat persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
“Ketika kita sampai di tempat seperti ini, kita diingatkan untuk berhenti sejenak. Kita bukan hanya mendoakan diri sendiri, tetapi juga bangsa dan negara. Indonesia harus dijaga bersama,” ujar Dar.
Ratusan Anak Tangga, Banyak Renungan
Perjalanan menuju Teras 5 didampingi Kepala Juru Pelihara Gunung Padang, Nanang Sukmana. Ratusan anak tangga yang harus dilewati menjadi bagian dari pengalaman tersendiri bagi rombongan.
Kelelahan fisik justru membuka ruang untuk melihat perjalanan dari sisi lain. Bagi Dar, mendaki Gunung Padang bukan sekadar berpindah dari tempat yang rendah menuju tempat yang lebih tinggi.
Setiap langkah, menurut dia, mengajarkan manusia untuk melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas.
“Semakin tinggi kita melangkah, semakin kecil manusia dibandingkan alam,” katanya.
Pengalaman itu juga dirasakan TB Adhi dan James Tobing, yang baru pertama kali mengunjungi Gunung Padang. Ratusan anak tangga yang mereka lalui terasa sepadan ketika sampai di Teras 5.
“Ini pertama kali saya datang ke Gunung Padang. Perjalanan sekitar 700 anak tangga tentu terasa secara fisik. Tetapi ketika sampai di atas, suasananya berubah,” kata Tb Adhi yang mengaku harus berjuang keras untuk sampai di atas.
Suasana malam menjelang purnama membuat pengalaman tersebut semakin berkesan. Terlebih, perjalanan kemudian diisi dengan doa bersama untuk bangsa dan negara.
James Tobing juga merasakan ketenangan yang berbeda ketika berada di kawasan situs megalitikum tersebut. Menurut James Tobing, suasana Gunung Padang memberikan kesempatan untuk sejenak menjauh dari rutinitas dan memandang berbagai persoalan dengan pikiran yang lebih tenang.
“Cahaya malam itu juga terasa tidak biasa. Ada ketenangan yang membuat kita lebih mudah merenungkan keadaan bangsa,” ujarnya.
Dari Durian hingga Pesan Persatuan
Setelah doa selesai, suasana menjadi lebih cair. Rombongan menikmati durian yang dibawa dari kawasan sekitar Gunung Padang.
Buah berduri itu kemudian menjadi bahan perenungan tersendiri bagi Dar. Ia melihat durian sebagai gambaran sederhana tentang kehidupan: bagian luarnya keras dan penuh duri, tetapi di dalamnya terdapat sesuatu yang lembut dan bernilai.
“Duri diperlukan untuk melindungi. Tetapi jangan sampai kita hanya sibuk mempertajam duri dan lupa menjaga isi di dalamnya,” tutur Dar.
Pesan itu kemudian mengarah pada kehidupan berbangsa. Indonesia, dengan segala perbedaan pandangan, kepentingan, budaya, dan keyakinan, membutuhkan ruang untuk saling menghormati.
Perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi bagian dari kekuatan ketika persaudaraan tetap dijaga.
Malam semakin larut ketika rombongan meninggalkan kawasan Teras 5. Mereka turun dari Gunung Padang membawa pengalaman yang lebih luas daripada sekadar perjalanan wisata.
Ada doa yang dipanjatkan, ada renungan yang dibawa pulang, dan ada pesan sederhana yang terus mengiringi perjalanan mereka: mencintai Indonesia bisa dimulai dari hal-hal kecil—menjaga ucapan, menghormati perbedaan, merawat persaudaraan, dan tidak lelah mendoakan negeri.
Rombongan yang terdiri atas Anrico Pasaribu, Hilman Hidayat, James Tobing, TB Adhi, Arman Suparman, Dar Edi Yoga, Toni Bramantoro, Rinto Hartoyo Agus, Rio Winto, Rudolf Simbolon, dan Cahaya Adi Wibowo itu pun meninggalkan Gunung Padang di bawah cahaya malam.
Di ketinggian dan kesunyian situs megalitikum tersebut, mereka menemukan satu pesan yang sederhana: Indonesia akan tetap kuat ketika perbedaan tidak menghapus persaudaraan.

