OLEH: Tommy R. Arief
BIASANYA pemimpin menulis buku tentang dirinya sendiri. Kali ini dibalik: 27 orang lain yang menulis tentang AHY. Dan di panggung itu, AHY justru mengaku kaget.
Tidak ada panggung politik, tidak ada pidato visi 2029. Yang ada 27 penulis dari profesi berbeda – dari akademisi, aktivis, pengusaha muda, sampai content creator – meletakkan kacamata mereka masing-masing di atas satu nama: Agus Harimurti Yudhoyono.
Buku itu diberi judul sederhana: Kepemimpinan AHY.
Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan itu naik ke podium bukan untuk mempromosikan diri, tapi merespon.
“Ini sebuah kejutan bagi saya,” katanya.
Kalimat pendek yang justru jadi kunci: pemimpin yang dibaca, bukan yang membaca diri sendiri.
Yang menarik, editornya Herzaky Mahendra buru-buru memotong spekulasi sebelum tumbuh liar.
“Tidak ada agenda politik praktis,” tegasnya. Klaimnya: ini murni inisiatif anak muda.
Apakah murni? Dalam politik, kata “murni” selalu diuji waktu. Tapi formatnya sendiri yang patut dicatat.
Di era semua orang ingin jadi narasumber tunggal, ada upaya membuat kepemimpinan jadi proyek kolektif – 27 perspektif, 27 filter.
Bukan biografi yang memuji, bukan kritik yang menjatuhkan. Lebih mirip peer review ala anak muda terhadap figur yang sedang memegang palu pembangunan infrastruktur nasional.
Kalau politik biasanya butuh panggung, buku ini justru butuh meja bundar.
*Tommy R. Arief kader Demokrat, Ketua Umum Orsap BSD BARISAN SETIA DEMOKRAT


