OLEH: Tommy R. Arief
DI TENGAH hiruk-pikuk jelang FIFA ASEAN Cup 2026, nama Timnas Indonesia lagi panas-panasnya. Kita tuan rumah. Kita ditarget juara. Dan skuad kita sekarang isinya campur: lokal, diaspora, naturalisasi.
Tapi ada satu suara yang selalu beda: Rocky Gerung.
Filsuf dari Manado ini pernah nembak langsung saat Timnas imbang lawan Arab Saudi dan Australia di Kualifikasi Piala Dunia 2026:
“Kita sekarang ini tengah larut dalam euforia sepak bola, tetapi euforia itu seolah menutupi kenyataan bahwa yang bermain di lapangan bukanlah tim nasional yang kita impikan sebenarnya”
Kalimat itu viral karna jujur dan nyakitin.
Lebih tegas lagi dia bilang:
“Naturalisasi yang sekarang kita lihat ini seolah-olah merupakan bentuk penipuan terhadap sensasi euforia sepak bola kita”
Maksud Rocky Apa Sih?
1. Bukan Benci Menang
Rocky nggak masalah kalau Garuda menang. Yang dia kritik itu “rasa” kita pas menang. Kita terlalu mabuk kemenangan sampe lupa nanya: ini tim siapa?
2. Soal Identitas
Buat dia, “Tim Nasional” harusnya cerminan pembinaan dari bawah. Dari SSB, dari Liga 1, dari anak kampung. Kalau isinya pemain paspor, menurut dia itu jalan pintas. Dan jalan pintas = penipuan pada proses.
3. Sindiran ke Sistem
Kata “penipuan” disini bukan nuduh pemain. Tapi nuduh sistem. Kita nutupin gagalnya pembinaan usia dini dengan beli pemain jadi. Euforia jadi tameng biar nggak dikritik.
Relevan Nggak Buat FIFA ASEAN Cup 2026?
Sangat. Karna turnamen 25 September – 5 Oktober ini masuk kalender FIFA. Artinya John Herdman bisa manggil Jay Idzes, Kevin Diks, Maarten Paes semua.
Pertanyaanya balik ke kita:
Kalau nanti kita juara FIFA ASEAN Cup dengan 7 pemain naturalisasi di starting XI, itu kemenangan “Indonesia” atau kemenangan “proyek naturalisasi”?
Itu pertanyaan yang Rocky lempar dari 2024 dan sampe sekarang belum dijawab.
Rocky Gerung emang tukang “rusuhin pesta”. Pas semua lagi joget euforia, dia nanya: “Musiknya siapa yang muter?”
Setuju atau nggak sama dia, satu hal pasti: dia maksa kita buat mikir. Bukan cuma nonton skor.
Gimana menurutmu? Setuju ini “penipuan” atau justru “solusi cerdas”?
*Tommy R.Arief, wartawan senior pemerhati sepakbola nasional


