TERMINALNEWS.ID, BEKASI — Selembar akta kelahiran, Kartu Keluarga (KK), atau Kartu Tanda Penduduk (KTP) mungkin terlihat sebagai dokumen biasa.
Namun bagi sebagian warga yang hidup dalam kondisi sosial ekonomi rentan, mendapatkannya bisa menjadi perjalanan panjang yang penuh kendala.
Kondisi itulah yang mendorong Ketua Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, Edie Karsito, memilih turun langsung mendampingi warga binaannya.
“Pada Senin (31/8/2026) siang, saya kembali mendatangi sejumlah kantor pelayanan publik di Kota Bekasi. Dari kantor kelurahan, kecamatan, hingga Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), saya membawa berkas milik warga yang tengah membutuhkan pendampingan,” ungkap Eddie Karsito.
Berkas-berkas tersebut dijelaskan Eddie Karsito bukan untuk kepentingan pribadinya. Ia tengah membantu warga binaan Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, termasuk pemulung, pengamen, dan masyarakat yang berada dalam kondisi sosial ekonomi rentan.
“Dokumen yang diurus pun beragam. Mulai dari KK, KTP, surat nikah, hingga akta kelahiran,” jelas Eddie Karsito.
Proses itu diakui Eddie Karsito bahkan telah berjalan sejak April 2026. Sebagian dokumen masih harus melalui tahapan administrasi dan melengkapi persyaratan tertentu.
Artinya, pekerjaan Edie Karsito belum berhenti setelah menyerahkan berkas.
“Saya harus kembali datang, menunggu proses, melengkapi kekurangan, kemudian memastikan pengurusan tersebut benar-benar tuntas,” jelas kakek dua cucu ini.
“Pekerjaan melayani itu menyenangkan. Kita melakukannya dengan hati. Ada sukacita tersendiri saat kita bisa melihat orang lain bahagia karena terbantu,” kata Edie.
Ketika Akta Kelahiran Menjadi Jalan Menuju Sekolah
Di antara berbagai dokumen yang diurus, akta kelahiran mendapat perhatian khusus.
Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan saat ini mendampingi sejumlah anak dari keluarga binaan agar mereka dapat bersekolah. Bagi Edie, memastikan identitas anak-anak tersebut tercatat secara resmi menjadi bagian penting dari upaya membuka akses pendidikan.
“Akta kelahiran bukan hanya catatan administratif tentang seseorang yang lahir ke dunia. Dokumen tersebut menjadi bagian dari identitas resmi yang dibutuhkan dalam berbagai urusan pelayanan publik, termasuk kebutuhan administrasi pendidikan,” kata Eddie Karsito.
Persoalan yang dihadapi anak-anak tersebut diakui Eddie Karsito sebenarnya sederhana.
“Mereka ingin sekolah. Mereka ingin belajar. Mereka ingin memiliki kesempatan yang sama dengan anak-anak lainnya. Namun, keinginan sederhana itu dapat terhambat ketika dokumen kependudukan belum lengkap,” papar Eddie Karsito.
Karena itu, bagi Edie Karsito, urusan administrasi tidak bisa dipandang sebelah mata.
Tak Mengambil Alih, Hanya Memastikan Warga Tak Berjalan Sendiri
Bagi warga yang sehari-hari harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup, mengurus dokumen kependudukan terkadang bukan menjadi prioritas.
“Pemulung harus mencari penghasilan. Pengamen harus turun ke jalan. Keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas harus memikirkan kebutuhan makan dan tempat tinggal. Urusan administrasi akhirnya tertunda. Padahal, dokumen kependudukan dibutuhkan untuk mengakses berbagai layanan publik. Di titik inilah pendampingan Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan mengambil peran,” urai Eddie Karsito.
Edie Karsito tidak datang untuk menggantikan pekerjaan aparatur pemerintah. Ia lebih memilih memastikan warga binaannya memahami proses, memenuhi persyaratan, dan tidak menyerah ketika pengurusan membutuhkan waktu lebih panjang.
“Kadang hanya menemani mengurus berkas. Kadang memastikan persyaratannya lengkap. Kalau belum selesai, kami datang lagi,” ujar Edie.
“Bagi sebagian orang, aktivitas tersebut mungkin tampak sederhana. Tetapi bagi warga yang selama ini kesulitan mengakses layanan administrasi, kehadiran seorang pendamping dapat membuat perbedaan besar,” selorohnya.
Satu Dokumen, Harapan yang Lebih Besar
Pada akhirnya, yang diperjuangkan Edie Karsito bukan semata-mata selembar dokumen.
Ada identitas yang harus dipastikan tercatat. Ada hak warga yang harus terpenuhi. Dan ada anak-anak yang membutuhkan kesempatan untuk tetap bersekolah.
“Sebuah akta kelahiran mungkin hanya terdiri dari beberapa lembar kertas. Namun bagi seorang anak, dokumen itu dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju pendidikan dan masa depan. Karena itu, perjalanan Edie masih terus berlanjut,” jelas Eddie Karsito.
Masih ada berkas yang harus dilengkapi. Masih ada kantor pelayanan yang harus didatangi. Masih ada proses yang membutuhkan kesabaran.
Namun Edie Karsito memilih untuk tetap datang. Sebab, baginya, mendampingi warga bukan sekadar membantu menyelesaikan urusan administrasi.
“Ini tentang memastikan mereka tidak kehilangan hak hanya karena kesulitan mengurus sebuah dokumen,” tandas Eddie Karsito.

