TERMINALNEWS.ID, JAKARTA — Open Turnamen Domino Makayoa-Kie Besi di Jakarta tak sekadar menjadi ajang adu strategi di atas meja. Lebih dari itu, turnamen ini menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, membangun silaturahmi, sekaligus menjaga identitas masyarakat Maluku Utara di tanah rantau.
Permainan domino yang telah memiliki sejarah panjang juga terus berkembang. Berawal dari China pada abad ke-12 dan kemudian menyebar ke Eropa pada abad ke-18 melalui jalur perdagangan, domino akhirnya masuk ke Indonesia dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di berbagai daerah, termasuk Maluku Utara.
Seiring perkembangannya, domino kini tidak lagi dipandang semata-mata sebagai permainan rekreasi masyarakat. Dengan masuk dalam pembinaan olahraga prestasi melalui organisasi olahraga nasional, domino juga memiliki ruang untuk melahirkan atlet-atlet berprestasi.
Namun, pesan yang muncul dalam turnamen Makayoa-Kie Besi tidak berhenti pada persoalan olahraga. Di sela-sela pertandingan, Dr. Kusame dan Dr. Sujud, S.H., M.H., yang turut hadir, mengingatkan peserta dan masyarakat Maluku Utara di perantauan agar tetap menjaga sikap, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di ruang digital.
Keduanya menyoroti pentingnya memahami etika dan aturan dalam menggunakan media sosial. Kebebasan menyampaikan pendapat, menurut mereka, tetap harus diiringi tanggung jawab.
“Zaman sekarang ini, bikin tulisan online ternyata aturannya juga susah-susah gampang. Bebas menulis iya, tapi ada hukum, ada etika, ada tanggung jawabnya,” kata mereka.
Menurut keduanya, setiap ucapan maupun tulisan yang disampaikan di ruang publik turut membawa nama baik pribadi, keluarga, hingga komunitas. Karena itu, masyarakat Makayoa yang berada di perantauan diharapkan dapat menjadi contoh dalam menggunakan media sosial secara bijak.
“Sebagai bagian dari keluarga besar Makayoa di perantauan, setiap tulisan dan ucapan adalah cerminan nama baik Maluku Utara,” ujarnya.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan filosofi permainan domino. Menurut mereka, bermain domino membutuhkan strategi, kemampuan mengendalikan emosi, serta menjunjung tinggi sportivitas. Hal yang sama seharusnya diterapkan ketika seseorang berinteraksi di dunia maya.
“Di meja domino kita butuh strategi, jaga emosi, dan sportif. Di media sosial juga begitu. Jangan sampai jari lebih cepat dari pikiran,” tambahnya.
Panitia berharap Open Turnamen Domino Makayoa-Kie Besi tidak hanya menjadi wadah kompetisi, tetapi juga mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk membangun generasi Maluku Utara yang cerdas, beretika, serta tetap bangga terhadap identitas dan budayanya.
Pada akhirnya, turnamen ini membawa pesan sederhana namun kuat: persaudaraan dapat dirajut melalui olahraga, sementara martabat dijaga melalui sikap dan kata-kata.
Editor: Tommy R. Arief

