TERMINALNEWS.ID, ZURICH – FIFA dilaporkan telah memberhentikan salah satu pejabat seniornya, Kevin Lamour, setelah yang bersangkutan secara terbuka mengkritik rencana investasi privat yang digagas Presiden FIFA Gianni Infantino.
Lamour sebelumnya menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) FIFA. Ia menjadi salah satu pejabat internal yang paling keras menentang proposal Infantino terkait pengelolaan hak komersial turnamen FIFA melalui skema investasi privat.
Kontroversi bermula dari laporan The Times yang menyebut Infantino berencana menjual sebagian saham minoritas dalam ajang Piala Dunia melalui jalur investasi privat. Rencana tersebut disebut akan dijalankan melalui FIFA Forward Enterprise (FFE), perusahaan yang direncanakan mengelola hak komersial berbagai turnamen FIFA sekaligus menawarkan sebagian kepemilikannya kepada investor.
Jika terealisasi, skema tersebut berpotensi memberikan Infantino posisi sebagai komisaris FFE dengan penghasilan yang jauh lebih besar dibandingkan gajinya sebagai Presiden FIFA.

Rencana Investasi Tuai Penolakan
Proposal tersebut langsung menuai reaksi keras dari berbagai pihak di dunia sepak bola. Sejumlah asosiasi anggota FIFA menyatakan Infantino belum menyampaikan rencana tersebut secara memadai kepada mereka.
Infantino kemudian disebut mengirim surat kepada 211 asosiasi anggota FIFA. Dalam surat tersebut, ia menjanjikan pembayaran masing-masing 30 juta poundsterling kepada asosiasi yang mendukung proposalnya. Rencana tersebut membutuhkan suara mayoritas untuk dapat disahkan.
Namun, dukungan terhadap proposal itu dilaporkan mulai menyusut. Bahkan, dalam beberapa hari setelah FIFA mengumumkan rencana tersebut, muncul penolakan dari sejumlah asosiasi dan federasi sepak bola.
Situasi semakin memanas setelah UEFA dikabarkan mempertimbangkan boikot terhadap sejumlah agenda FIFA, termasuk Piala Dunia putra dan putri.
Dukungan terhadap Infantino juga disebut mulai berkurang menjelang pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027. Presiden CONCACAF, Victor Montagliani, termasuk salah satu nama yang disebut-sebut tengah mempertimbangkan untuk menjadi penantang Infantino.
Dua Pejabat Senior FIFA Kritik Infantino
Kritik terhadap Infantino bahkan datang dari dua pejabat senior FIFA.
Salah satunya adalah penasihat senior Carlos Cordeiro yang mengundurkan diri dari jabatannya. Cordeiro menyebut proposal investasi tersebut sebagai “kesepakatan yang buruk bagi sepak bola” dan menegaskan dirinya tidak terlibat dalam penyusunannya.
Sementara itu, Kevin Lamour memberikan kritik yang lebih terbuka. COO FIFA tersebut menyebut rencana investasi privat Infantino sebagai “proyek satu orang”.
Lamour bahkan menyatakan siap kehilangan jabatannya karena sikap tersebut.
“Bukan hanya proyek ini tidak boleh dilanjutkan, tetapi kini saatnya para pemimpin politik sepak bola mengajukan pertanyaan yang tepat dan mengambil keputusan yang tepat,” ujar Lamour.
Ia juga menambahkan bahwa jika sikapnya tersebut membuat dirinya kehilangan pekerjaan, ia siap menerimanya.
“Jika itu berarti saya kehilangan pekerjaan, biarlah. Saya akan memahami dan menghormati keputusan tersebut. Setidaknya saya bisa tidur nyenyak malam ini.”
FIFA Nyatakan Berpisah, Lamour Disebut Dipecat
Kini, FIFA mengonfirmasi bahwa hubungan kerja dengan Lamour telah berakhir.
Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, melalui surat kepada staf pada Senin (17/8/2026), menyatakan FIFA dan Lamour “telah sepakat untuk berpisah”. Ia juga menyebut keputusan tersebut diambil setelah melalui pertimbangan matang dan dengan tetap menghormati Lamour secara pribadi maupun profesional.
Namun, laporan Sky News menyebut fakta di balik perpisahan tersebut berbeda. Menurut laporan itu, Lamour sebenarnya dipecat oleh FIFA setelah mengkritik Infantino dan rencana investasi privatnya.
FIFA sendiri tidak memberikan penjelasan lebih lanjut ketika dimintai komentar. Dalam pernyataan resminya, FIFA hanya mengatakan bahwa hubungan kerja dengan Lamour sebagai COO berakhir pada 17 Agustus 2026.
“FIFA berterima kasih kepada Kevin atas dua tahun masa baktinya dan mendoakan yang terbaik untuk masa depannya.”
Lamour sebelumnya bergabung dengan UEFA pada 2006 dan bekerja di bawah kepemimpinan Presiden UEFA saat itu, Michel Platini. Ia kemudian menjadi bagian dari tim kampanye Infantino ketika mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA pada 2014.
Pada 2024, Lamour ditunjuk sebagai Chief Operating Officer FIFA.
Kepergian Lamour menambah tekanan terhadap Infantino di tengah kontroversi rencana investasi privat dan semakin dekatnya pemilihan Presiden FIFA 2027.

