TERMINALNEWS.ID, MANCHESTER – Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan Presiden FIFA, Gianni Infantino. Dalam wawancara eksklusif dengan GiveMeSport, Burnham menilai FIFA bergerak ke arah yang keliru dan mendesak Infantino segera mengundurkan diri.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap Infantino setelah muncul rencana untuk membuka sebagian kepemilikan badan sepak bola dunia kepada investor swasta melalui proyek FIFA Forward Enterprise (FFE).
Menurut laporan GiveMeSport, rencana tersebut memicu penolakan dari sejumlah konfederasi sepak bola, termasuk UEFA, CONCACAF, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Seluruh 55 anggota UEFA bahkan dikabarkan sepakat memboikot kompetisi FIFA apabila proyek FFE tetap dijalankan.
Situasi semakin memanas setelah salah satu penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, memilih mengundurkan diri menyusul kontroversi tersebut.
Burnham Nilai FIFA Berjalan ke Arah yang Salah
Burnham menilai kepemimpinan Infantino telah membawa FIFA menjauh dari nilai-nilai dasar sepak bola.

“Melihat arah FIFA di bawah kepemimpinannya dan rencana menjual sebagian kepemilikan Piala Dunia kepada investor, semakin memperkuat keyakinan saya bahwa ia tidak memimpin organisasi ini ke arah yang benar,” ujar Burnham.
Ia menambahkan bahwa krisis kepercayaan dari UEFA dan CONCACAF menjadi sinyal serius bahwa sebagian besar komunitas sepak bola dunia tidak lagi mendukung kebijakan FIFA saat ini.
Burnham juga mengungkapkan bahwa dirinya telah memiliki keraguan sejak penyelenggaraan Piala Dunia 2022. Meski sempat memberikan kesempatan kepada Infantino untuk membuktikan kepemimpinannya, ia kini menilai situasi tersebut sudah tidak dapat dipertahankan.
Himpun Modal Rp68 Triliun
Kontroversi semakin besar setelah Infantino disebut berupaya menghimpun investasi swasta sebesar US$4,2 miliar, atau sekitar Rp68,5 triliun (kurs Rp16.300 per dolar AS), untuk mendanai proyek FFE.
Salah satu investor yang dikabarkan mendukung proyek tersebut adalah Thrive Capital milik Joshua Kushner. Selain itu, JPMorgan juga disebut berada di belakang rencana tersebut, mengingat bank investasi itu sebelumnya menjadi pendukung utama proyek European Super League yang akhirnya gagal terlaksana.
Infantino menegaskan bahwa FFE hanyalah sebuah opsi, bukan kewajiban bagi anggota FIFA. Ia juga menjanjikan federasi yang bergabung akan memperoleh pendanaan awal sebesar US$40 juta, setara sekitar Rp652 miliar.
Namun, efektivitas skema pendanaan tersebut dipertanyakan jika UEFA benar-benar merealisasikan ancaman boikot terhadap seluruh kompetisi FIFA.
Internal FIFA Bergejolak
Tekanan terhadap Infantino tidak hanya datang dari luar organisasi. Chief Operating Officer (COO) FIFA, Kevin Lamour, secara terbuka menyatakan dirinya merasa “ditipu” oleh Presiden FIFA terkait proyek tersebut.
Menurut Lamour, proyek yang memicu kontroversi bukanlah proyek resmi FIFA, melainkan inisiatif pribadi Infantino.
Ia menyebut para wakil presiden FIFA, anggota Dewan FIFA, konfederasi, federasi nasional, pemain, liga, klub, hingga suporter tidak pernah dilibatkan dalam proses tersebut. Bahkan, administrasi internal FIFA juga disebut tidak mengetahui secara utuh rencana itu.
Lamour menegaskan dirinya lebih memilih mempertahankan nilai-nilai yang diyakininya, meski harus kehilangan jabatannya.
Dukungan Infantino Mulai Melemah
GiveMeSport juga melaporkan sedikitnya 20 asosiasi anggota FIFA tengah mempertimbangkan mencabut dukungan tertulis kepada Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA berikutnya pada Maret mendatang.
Di sisi lain, muncul dorongan agar Presiden Paris Saint-Germain (PSG), Nasser Al-Khelaifi, maju sebagai calon presiden FIFA. Meski demikian, orang-orang dekat Al-Khelaifi menyatakan bahwa tokoh asal Qatar tersebut tidak memiliki ambisi untuk mencalonkan diri.
Burnham berharap FIFA segera dipimpin sosok baru yang lebih mengutamakan kepentingan sepak bola dibandingkan kepentingan bisnis.
“Sepak bola harus dilindungi agar tidak sepenuhnya dikuasai kepentingan komersial. Intinya adalah kegembiraan dalam olahraga ini serta bagaimana sepak bola dapat memberikan manfaat kembali kepada pembinaan akar rumput. Jika sepak bola hanya menjadi mesin untuk menghasilkan uang, maka kita akan kehilangan hal yang selama ini kita cintai,” ujar Burnham.

