BerandaLifestyleJepang Pilih Jalur Berbeda...

Jepang Pilih Jalur Berbeda dalam Perlombaan Robot Humanoid, Fokus pada AI dan Aplikasi Berisiko Tinggi

TERMINALNEWS.ID, TOKYO – Di tengah pesatnya perkembangan robot humanoid yang dipimpin China, Jepang justru memilih strategi berbeda.

Alih-alih berlomba memproduksi robot dalam jumlah besar, Negeri Sakura lebih memusatkan perhatian pada pengembangan teknologi robot untuk kebutuhan industri, penelitian, hingga pekerjaan berisiko tinggi.

Strategi ini sebenarnya telah dimulai sejak 2018. Saat itu, Honda memutuskan menghentikan pengembangan ASIMO, robot humanoid legendaris yang selama lebih dari dua dekade menjadi simbol kemajuan teknologi Jepang.

Setelah proyek ASIMO berakhir, Honda mengalihkan teknologi yang telah dikembangkan ke sistem robot avatar yang dapat dikendalikan dari jarak jauh. Dengan dukungan kecerdasan buatan (AI), robot tersebut dirancang untuk membantu manusia menjalankan tugas-tugas berisiko tinggi tanpa harus berada langsung di lokasi.

Langkah serupa juga ditempuh berbagai perusahaan dan lembaga riset di Jepang. Mereka lebih memilih mengembangkan robot untuk sektor yang membutuhkan tingkat presisi dan keandalan tinggi, seperti pembangkit listrik tenaga nuklir, laboratorium penelitian, eksplorasi luar angkasa, hingga layanan kesehatan.

Baca Juga :   Maia Estianty Ubah Gaya Hidup di Usia 50 Tahun, Fokus Jaga Kesehatan Tulang dan Sendi

Salah satu penerapan teknologi tersebut terlihat dalam proyek pembersihan reaktor nuklir Fukushima Daiichi. Jepang menggunakan lengan robot sepanjang 22 meter untuk mengambil sampel material radioaktif dari dalam reaktor yang tidak mungkin dimasuki manusia karena tingginya tingkat radiasi.

Di bidang penelitian, robot humanoid Maholo LabDroid telah dimanfaatkan di Tokyo Institute of Science untuk melakukan eksperimen laboratorium secara otomatis sepanjang malam. Robot ini mampu mengoperasikan peralatan laboratorium standar tanpa memerlukan modifikasi khusus, sehingga dinilai dapat mempercepat proses penelitian, termasuk pengembangan obat-obatan baru.

Sementara itu, startup Jepang GITAI mengembangkan robot untuk mendukung misi luar angkasa. Perusahaan tersebut terlibat dalam pengembangan lengan robot untuk Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) serta kendaraan penjelajah Bulan.

Baca Juga :   AI Ubah Fungsi Smartwatch, Ini Deretan Jam Pintar Terbaik yang Diprediksi Populer pada 2026
153260da 6e73 4314 94cb db447ae90e85
Jepang Pilih Jalur Berbeda dalam Perlombaan Robot Humanoid, Fokus pada AI dan Aplikasi Berisiko Tinggi

Di sisi lain, China semakin memperkuat dominasinya di pasar robot humanoid global. Keunggulan negara itu didukung rantai pasok industri yang matang berkat perkembangan sektor kendaraan listrik dan drone. Infrastruktur tersebut memungkinkan perusahaan-perusahaan China memproduksi robot humanoid dalam jumlah besar dengan biaya lebih rendah, kemudian mengujinya secara langsung di pabrik, gudang, dan berbagai lingkungan kerja.

Pada 2026, China diperkirakan menguasai sekitar 80–90 persen produksi robot humanoid dunia. Sejumlah perusahaan, seperti Unitree, bahkan telah membukukan keuntungan, sementara produsen lain terus memperluas penetrasi ke pasar internasional.

Meski demikian, Jepang belum menyerah dalam persaingan teknologi robot. Pemerintah menargetkan sebanyak 10 juta robot berbasis AI dapat beroperasi pada 2040 dengan dukungan investasi lebih dari 4 miliar dolar AS.

Fokus utama Jepang bukan semata membangun robot humanoid, melainkan mengembangkan sistem kecerdasan buatan yang dapat diterapkan pada berbagai jenis robot untuk kebutuhan industri, layanan kesehatan, hingga perawatan lansia.

Baca Juga :   Peran Penting Universitas Menghasilkan Bukti Ilmiah Tentang Dampak Kesehatan Kental Manis terhadap anak

Toyota Research Institute juga menjadi salah satu aktor penting dalam upaya tersebut. Lembaga riset ini bekerja sama dengan Boston Dynamics untuk mengembangkan model perilaku berbasis AI pada robot humanoid Atlas.

56e535c8 6f9f 4e57 bd15 f317f47a3283
Jepang Pilih Jalur Berbeda dalam Perlombaan Robot Humanoid, Fokus pada AI dan Aplikasi Berisiko Tinggi

Perbedaan strategi ini menunjukkan bahwa arah pengembangan robotika global tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi robot dalam jumlah besar. Jika China berfokus pada skala produksi dan Amerika Serikat mendorong pertumbuhan perusahaan robotika bernilai miliaran dolar, Jepang memilih membangun fondasi teknologi yang menitikberatkan pada keandalan, presisi, dan penerapan di lingkungan berisiko tinggi.

Pendekatan tersebut memunculkan pertanyaan menarik bagi industri robotika dunia: apakah Jepang benar-benar tertinggal dalam perlombaan robot humanoid, atau justru sedang menyiapkan fondasi teknologi yang akan menjadi keunggulan ketika pasar robot memasuki fase yang lebih matang.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Devina Hermawan Bagikan Resep Bolognese Eggs, Lauk Praktis dengan Saus Gurih Cocok Disantap Bersama Nasi

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA - Chef sekaligus kreator konten kuliner Devina Hermawan kembali...

POCO M9 Dirumorkan Meluncur dengan Kamera 70MP dan Baterai 6.000mAh

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – POCO dikabarkan tengah mempersiapkan smartphone terbaru di lini...

Tiffany Young Umumkan Album Solo Perdana Edge of Calm, Siap Gelar Konser di Jakarta September 2026

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Kabar gembira bagi para penggemar Tiffany Young di...

Sony Music Indonesia dan Jepang Satukan RACH? dan idom di Single ‘Call It Love’

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Sony Music Indonesia kembali memperkuat kolaborasi musik lintas...

- A word from our sponsors -

spot_img