TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Film Anak-Anak Bambu hadir sebagai tontonan keluarga yang sarat nilai pendidikan dan kemanusiaan. Mengangkat kisah kehidupan anak-anak yatim di Rumah Bambu, film ini menawarkan pesan tentang pentingnya membangun karakter generasi yang tangguh, peduli, dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Penggagas Rumah Bambu, Abah Jatnika, mengatakan film ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi generasi muda yang dinilai mulai kehilangan daya juang. Melalui filosofi bambu, ia ingin menanamkan nilai kebersamaan, ketangguhan, dan kebermanfaatan bagi sesama.
“Bambu mengajarkan banyak hal. Ia tumbuh berumpun, saling menguatkan, lentur menghadapi badai, tetapi tetap kokoh berdiri. Nilai-nilai itulah yang ingin kami wariskan kepada anak-anak Indonesia,” ujar Abah Jatnika.
Selain mengangkat filosofi bambu, film ini juga memperkenalkan budaya Indonesia melalui senam yang dikembangkan Abah Jatnika. Gerakannya merupakan perpaduan berbagai aliran pencak silat Nusantara, dipadukan dengan teknik pernapasan, sehingga diharapkan menjadi salah satu identitas olahraga asli Indonesia.
Produser Elma Theana mengungkapkan bahwa Anak-Anak Bambu merupakan film pertamanya yang terinspirasi langsung dari kisah nyata di Rumah Bambu. Menurutnya, film ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga membawa misi sosial.

“Film ini lahir dari kisah nyata yang saya lihat sendiri di Rumah Bambu. Kami ingin mengajak masyarakat lebih peduli kepada anak-anak yatim. Karena itu, selama masa promosi kami juga mengadakan program mengajak anak-anak yatim menonton film di bioskop,” kata Elma.
Film ini dijadwalkan tayang pada 23 Juli, bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional.
“Ya mudah-mudahan tanggal 23 nanti setelah teman-teman datang ke sini bisa membantu untuk mempromosikan film kami di tanggal 23 pas di Hari Anak Nasional. Dari sekarang sih saya sudah keliling 10 kota ya untuk promosi film ini dan alhamdulillah gerakan yang kita lakukan adalah mengajak anak yatim nonton di bioskop gitu,” seloroh Elma.
Sutradara Dyan Sunu Prasetyo mengatakan ada dua alasan utama dirinya tertarik menggarap film tersebut. Pertama, karena semangat untuk menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak Indonesia, khususnya mereka yang tinggal di panti asuhan. Kedua, karena filosofi bambu yang dinilainya sangat dekat dengan karakter bangsa Indonesia.
“Film ini ingin menunjukkan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang, harapan, dan masa depan. Filosofi bambu menjadi simbol bagaimana kita saling menopang dan tetap kuat menghadapi ujian hidup,” ujarnya.
Sejumlah pemain juga mengaku mendapatkan pengalaman berharga selama proses produksi. Ayushita, yang memerankan karakter Bunda Neta, menilai film ini mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki proses pendewasaan dan perubahan.

Sementara Irgi Fahrezi menegaskan bahwa kekuatan utama film ini terletak pada pesan moralnya.
“Kami sepakat membuat karya yang berkualitas dan memiliki pesan. Film ini bukan hanya tentang anak-anak panti, tetapi juga tentang pentingnya lingkungan yang mampu menjadi sistem pendukung bagi tumbuh kembang anak,” kata Irgi.
Pemeran anak Muhammad Adhiyat, yang berperan sebagai Gebang, menyebut kata “keluarga” sebagai pelajaran terbesar yang ia dapatkan selama syuting.
“Keluarga tidak selalu harus memiliki hubungan darah. Orang-orang di sekitar yang membuat kita nyaman juga bisa menjadi keluarga,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Nadhira, yang selain berakting juga membawakan lagu tema film. Menurutnya, Anak-Anak Bambu mengajarkan arti persahabatan dan semangat untuk selalu bergembira.
Deretan pemain lain seperti Indra Birowo, Sonny Septian, Fairuz A. Rafiq, hingga King Faaz turut meramaikan film ini. Mereka menilai Anak-Anak Bambu menyampaikan pesan bahwa cinta, keluarga, dan kepedulian menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter anak.

Melalui kisah yang hangat dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, Anak-Anak Bambu diharapkan menjadi tontonan keluarga yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk lebih peduli terhadap tumbuh kembang anak-anak Indonesia.


