BerandaNewsEsai & OpiniMasih Ingatkah Jalan yang...

Masih Ingatkah Jalan yang Sudah Kita Tempuh? Adakah Sambil Berjalan Kita Juga Mempersiapkan Jalan Pulang?

SETELAH BERJALAN jauh bertahun – tahun, masih ingatkah jalan yang sudah kita tempuh? Adakah sambil berjalan kita juga mempersiapkan jalan pulang?

Maria Hartiningsih ketika ia menulis buku JALAN PULANG (Jkt, Januari 2017) adalah seorang wartawati Harian Kompas. Kini ia sudah beberapa tahun menikmati masa pensiun. Terakhir saya bertemunya tahun ini di Kolese Kanisius – Menteng, Jakarta.

Buku ini merupakan kisah perjalanan spiritualnya mengikuti beberapa perziarahan. Ia berziarah sepanjang 108 km berjalan kaki mengikuti jalur Camino di Prancis menuju Katedral Santiago de Compostela di Spanyol (September 2013). Setiap tahunnya ribuan orang dari banyak negeri berziarah ke tempat ini berjalan kaki. Pengalaman bernilai didapat Maria dan dikisahkan dalam buku ini.

Baca Juga :   Harry Kane Akhirnya Angkat Trofi, Liga Inggris Hadirkan Inovasi Baru untuk Selebrasi Gol

Sejak tahun lalu dimulai dari Stasiun Tugu di Kota Jogya menuju Gua Maria Sendang Sono di Kabupaten Kulon Progo, para peziarah berjalan kaki sejauh 31 km. Penggagasnya menyebut kegiatan ini dgn nama Mlampah. Ternyata banyak yg berminat, sehingga setiap bulan diadakan terus. Umat di kota lain menyambutnya bahkan membuat kegiatan sama. Makanya ada Mlampah dari Stasiun Maja menuju Gua Maria Kanada di Kabupaten Lebak, Banten. Ada Mlampah dari Katedral di Kota Bandung menuju Biara Karmel di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Mlampah juga ada di Malang dan Bali.

Maria berziarah ke Lourdes dan Plum Village juga di Prancis. Plum Village adalah biara Buddhis. Di biara ini ada beberapa sahabatnya asal Indonesia calon biksu dan biksuni.

Baca Juga :   Pesepeda Versus Subsidi Kesehatan Dan Subsidi BBM

Di bab terakhir dari buku berhalaman 461, Maria berkunjung ke Aljazair yang kuat dengan peradaban Islam.

Kalau tak salah ingat, Maria dan koleganya sesama jurnalis Kompas bernama Myrna (saya lupa nama belakangnya) pernah beberapa hari tinggal bersama Bunda Teresa di Kalkuta – India. Keduanya menuliskan pengalaman tersebut bersambung di Harian Kompas.

Karena usianya 9 tahun halaman – halaman buku ini sudah menguning. Kertas koran tidak bisa bohong tentang usianya. Kuning adalah lambang menua hidup kertas koran. Begitu juga kita, manusia menua ditandai dengan berbagai hal. Yang pasti kesehatan dan kekuatan jauh menurun. Ini hukum alam asalkan kearifan hidup dan kebaikan justru kita tingkatkan.
Berbagai cara orang mempersiapkan jalan pulang. Ada yang merasa memiliki 74 kg emas murni hasil rampokan adalah bekal untuk jalan pulang. Entah dia mau pulang ke rumah siapa?

Baca Juga :   Analis Pemred Facebook Indonesia : Main Bola Tak Boleh Salah

Selamat pagi 14 Juli 2026
Salam
Tonnio Irnawan

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Debut di Brasil, WOLF HOWL HARMONY Sukses Memukau Penggemar Anime Friends 2026

TERMINALNEWS.ID, SAO PAOLO – Grup vokal asal Jepang, WOLF HOWL HARMONY,...

Fyan Ahmad Rilis Single “Pengantin Surga”, Angkat Makna Cinta sebagai Doa dan Komitmen

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA - Penyanyi sekaligus pencipta lagu Fyan Ahmad kembali menghadirkan...

WOOAH! Hadirkan Nuansa Musim Panas Ceria Lewat Penampilan Penuh Energi

TERMINALNEWS.ID - Grup idola K-pop WOOAH! kembali mencuri perhatian penggemar dengan...

Nina Dobrev Kepergok Mesra dengan Pria yang Diduga Kekasih Baru di New York

TERMINALNEWS.ID, NEW YORK – Aktris Nina Dobrev kembali menjadi sorotan publik setelah...

- A word from our sponsors -

spot_img