TERMINALNEWS.ID, LONDON – Lagu anthem Liga Champions Eropa menjadi salah satu musik paling ikonik dalam dunia sepak bola. Dentuman orkestra megah yang selalu diputar sebelum kickoff pertandingan telah menciptakan suasana sakral bagi para pemain maupun suporter di seluruh dunia.
Bahkan, striker Erling Haaland disebut begitu mengidolakan anthem tersebut hingga menjadikannya nada dering ponselnya.
Kisah unik itu terjadi pada 2019 ketika kapten Red Bull Salzburg, Andreas Ulmer, sedang berjalan bersama bayi yang baru lahir di pusat kota. Sebuah mobil berhenti di lampu merah dengan jendela terbuka sambil memutar anthem Liga Champions dengan suara keras. Pengemudinya ternyata Haaland, yang saat itu masih menjadi rekan setim Ulmer di Salzburg.
Beberapa hari kemudian, Haaland langsung mencetak hattrick pada debutnya di Liga Champions sebelum akhirnya berkembang menjadi bintang bersama Manchester City.
Tidak hanya Haaland, sejumlah megabintang seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, hingga Gareth Bale juga pernah mengungkapkan kekaguman mereka terhadap anthem Liga Champions.
Lirik Anthem Liga Champions dalam Tiga Bahasa
Saat melakukan rebranding kompetisi pada 1992, UEFA ingin menciptakan identitas baru yang megah dan berkelas. Mereka memutuskan anthem tersebut harus menggunakan tiga bahasa resmi UEFA, yakni Inggris, Prancis, dan Jerman.
Komposer asal Inggris, Tony Britten, kemudian menciptakan lirik sederhana berisi kata-kata seperti “the champions”, “the best”, dan “the main event”.
Meski liriknya cukup repetitif, mayoritas penggemar hanya mengenali bagian “The Champions” karena tertutup aransemen orkestra yang begitu dominan dan emosional.
Terinspirasi Musik Penobatan Raja Inggris
Anthem Liga Champions ternyata memiliki inspirasi dari musik klasik abad ke-18 berjudul Zadok the Priest karya komposer legendaris George Frideric Handel.
Musik tersebut awalnya dibuat untuk upacara penobatan Raja Inggris George II pada 1727.
UEFA kala itu ingin menghadirkan nuansa elegan dan prestisius pada kompetisi elite Eropa, terutama setelah sepak bola sempat identik dengan hooliganisme di akhir 1980-an.
Tony Britten mengaku dirinya hanya “komposer sewaan” saat menerima proyek tersebut. Namun, ia berhasil menciptakan lagu yang akhirnya menjadi simbol terbesar sepak bola Eropa.
Proses rekaman dilakukan di London bersama paduan suara Academy of St Martin in the Fields dan Royal Philharmonic Orchestra.
Lagu yang Menghasilkan Royalti Besar
Kesuksesan anthem Liga Champions ternyata memberikan keuntungan finansial besar bagi Tony Britten. Ia mengaku royalti dari lagu tersebut membantunya membiayai berbagai proyek film dan musik lainnya.
Meski demikian, Britten mengaku tidak pernah menyangka lagu berdurasi sekitar 40 detik itu akan menjadi fenomena global.
Ia bahkan pernah mencoba membuat versi baru bernuansa funk dan beat modern, tetapi stasiun televisi dan penyiar tetap memilih versi orisinal yang dianggap paling ikonik.
Perubahan Anthem Liga Champions 2024/25
Pada musim 2024/25, UEFA akhirnya memperkenalkan sedikit pembaruan pada anthem Liga Champions bersamaan dengan perubahan format kompetisi.
Namun, perubahan tersebut sangat minim. Tidak ada tambahan musik elektronik ataupun dubstep. UEFA hanya memperkaya instrumen orkestra agar terdengar lebih modern tanpa menghilangkan nuansa klasik yang sudah melekat selama puluhan tahun.
Daftar Juara Liga Champions Sejak 1992
Berikut klub tersukses di era Liga Champions modern sejak 1992:
- Real Madrid – 9 gelar
- Barcelona – 4 gelar
- AC Milan – 3 gelar
- Bayern Munich – 3 gelar
- Manchester United – 2 gelar
- Liverpool – 2 gelar
- Chelsea – 2 gelar
- Paris Saint-Germain – 1 gelar
- Inter Milan – 1 gelar
- Borussia Dortmund – 1 gelar
Anthem Liga Champions kini bukan sekadar musik pembuka pertandingan. Lagu tersebut telah menjadi simbol kejayaan sepak bola Eropa yang mampu membangkitkan emosi pemain, pelatih, hingga jutaan penggemar di seluruh dunia.


