JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Upaya penanganan ikan sapu-sapu di berbagai wilayah DKI Jakarta masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari kondisi perairan hingga keterbatasan sarana.
Di Jakarta Utara, kondisi perairan yang dangkal, berlumpur, serta dipenuhi sampah menjadi tantangan utama dalam proses penangkapan. Sementara itu, di Jakarta Barat, keterbatasan lokasi penangkapan serta tingginya endapan lumpur turut mempersulit upaya pengendalian populasi ikan tersebut.
Kendala berbeda ditemukan di Jakarta Pusat, di mana kondisi air yang keruh membuat proses penangkapan menjadi kurang optimal, sehingga diperlukan peningkatan upaya penanggulangan.
Di Jakarta Selatan, dominasi ikan sapu-sapu bahkan mencapai hampir 100 persen di kawasan Setu Babakan, menandakan tingginya tingkat invasi spesies ini di perairan tersebut.
Sementara itu di Jakarta Timur, kondisi Sungai Ciliwung yang sedang pasang, berdebit tinggi, dan berarus deras menyebabkan penangkapan harus dilakukan dengan metode khusus, seperti menggunakan perahu karet bersama pegiat lingkungan.
Selain tantangan teknis, masyarakat juga diimbau untuk tidak mengonsumsi ikan sapu-sapu. Hal ini disebabkan adanya risiko gangguan kesehatan akibat kandungan logam berat, seperti timbal (Pb), yang ditemukan melebihi ambang batas aman.
Kadar timbal pada ikan tersebut dilaporkan berada di atas 0,3 mg/kg, melampaui batas yang telah ditetapkan pemerintah. Konsumsi dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.
Pemerintah pun terus mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan ikan sapu-sapu sebagai bahan makanan, sekaligus memperkuat upaya pengendalian populasi guna menjaga keseimbangan ekosistem perairan di Jakarta.**


