ACEH TAMIANG,TERMINALNEWS.ID -| Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menyisakan persoalan serius bagi warga di Kabupaten Aceh Tamiang. Di Desa Serba dan Pematang Durian, akses terhadap sumber pangan bergizi, terutama protein, masih menjadi tantangan bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Penyuluh Kesehatan Puskesmas Sekerak, Aceh Tamiang, Ersyad, mengatakan warga harus menempuh perjalanan cukup jauh hanya untuk memperoleh bahan pangan. Jarak tempuh menuju pusat distribusi pangan bahkan bisa mencapai dua jam.
“Dari Desa Pematang Durian itu bisa lebih 1–2 jam,” ujar Ersyad.
Menurut dia, keterbatasan akses tersebut dipicu rusaknya infrastruktur pascabencana. Jembatan penghubung menuju desa terputus akibat banjir bandang sehingga warga maupun relawan harus memutar jalur yang lebih panjang.
“Jembatan akses ke sana putus sehingga tim harus memutar arah, jadi lebih tiga kali lipat jauhnya,” kata dia.
Kondisi ini membuat bantuan pangan yang sampai ke masyarakat lebih banyak berupa makanan praktis, seperti mi instan dan susu kental manis, karena mudah didistribusikan serta memiliki masa simpan lebih lama.
Padahal, konsumsi pangan tersebut secara terus-menerus dinilai kurang ideal, terutama bagi anak-anak dan balita yang membutuhkan asupan gizi lengkap untuk menunjang pertumbuhan.
Ersyad menjelaskan, konsumsi susu kental manis dalam jangka panjang berpotensi mengganggu pola makan anak. Kandungan gula yang tinggi dapat menimbulkan rasa kenyang semu sehingga anak enggan mengonsumsi makanan bergizi lainnya.
“Jangka pendeknya bisa ke stunting. Karena konsumsi susu kental manis bisa menghasilkan efek kenyang yang palsu. Anak-anak nantinya bakal mengutamakan kental manis ketimbang makan,” ujarnya.
Kondisi terbatasnya sumber protein bagi anak-anak juga diakui oleh Ketua PC Muhammadiyah Sama Dua Aceh Selatan, Denni Taufiqurrahman, yang turut menjadi relawan di wilayah terdampak.
Menurut Denni, keterbatasan akses membuat masyarakat sulit mendapatkan bahan pangan yang kaya protein.
“Terkait kebutuhan protein, ya ala kadarnya. Apalagi saat Ramadan ini, anak-anak juga sebagian ada yang puasa, ada juga yang tidak puasa, tapi untuk kebutuhan ini masih sangat minim,” kata Denni.
Selain persoalan pangan, warga juga masih menghadapi krisis air bersih. Kerusakan infrastruktur akibat banjir membuat sejumlah sumber air tidak lagi dapat dimanfaatkan secara normal.
“Jadi sempat saya bertanya beberapa desa, kebutuhan yang paling urgent itu apa saja? Dari pihak kepala desa mengatakan fasilitas air,” ujar Denni.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang tidak hanya menyangkut perbaikan infrastruktur, tetapi juga memastikan akses masyarakat terhadap pangan bergizi dan air bersih agar kondisi kesehatan warga, terutama anak-anak, tetap terjaga dan sehat.


