MANCHESTER, TERMINALNEWS.ID – Legenda Manchester City, Joe Hart, menegaskan dirinya tidak tertarik kembali ke sepak bola secara penuh waktu, meski sempat membuat kejutan dengan turun tangan sebagai pelatih kiper sementara di klub lamanya, Shrewsbury Town.
Mantan kiper nomor satu Inggris dan Man City itu sempat menjadi sorotan setelah membantu Shrewsbury sebagai pelatih kiper dadakan dalam laga melawan Salford City.
Joe Hart, yang mencatatkan 58 penampilan untuk Shrewsbury sebelum pindah ke Liga Inggris pada 2006, membantu pemanasan kiper Matthew Cox dan Will Brook dalam kemenangan 2-1 timnya.
Sejak pensiun, Joe Hart aktif sebagai pundit di TNT Sports dan program Match of the Day milik BBC. Namun, ia menegaskan bahwa kehadirannya di Shrewsbury hanya bersifat sementara.
“Itu satu malam saja dan hanya untuk satu malam,” ujar Joe Hart.
Joe Hart menjelaskan bahwa hubungan emosionalnya dengan klub memang ada karena berasal dari Shrewsbury. Namun, dinamika klub yang terus berubah membuatnya tak lagi memiliki koneksi kuat seperti dulu.
Shrewsbury sendiri tengah berjuang setelah terdegradasi dari League One ke League Two musim lalu. Hart mengaku membantu karena kedekatannya dengan manajer Gavin Cowan, rekan lamanya saat bermain bersama pada 2004.
Saat posisi pelatih kiper kosong karena keterbatasan dana klub, Hart menawarkan bantuan jika memang dibutuhkan.
“Saya bilang, kalau saya tersedia dan kalian butuh saya, saya bisa membantu. Tapi dengan pemahaman bahwa itu hanya untuk satu malam,” jelas Joe Hart.
Meski tidak mencatat clean sheet, Shrewsbury meraih kemenangan liga kelima beruntun dan menjauh dari zona degradasi.
Kiper 38 tahun itu mengaku gugup karena tak ingin mengganggu momentum tim yang sedang berjuang di papan bawah League Two. Namun kini, setelah klub menunjuk pelatih kiper baru, perannya sudah selesai.
Hart menutup karier profesionalnya dengan manis bersama Celtic, meraih trofi utama ketujuh termasuk Piala Skotlandia dalam laga kontra Rangers.
Sepanjang kariernya, Hart memenangkan dua gelar Liga Inggris bersama Manchester City. Jika dikonversi ke rupiah dengan kurs sekitar Rp20.000 per pound sterling, nilai hadiah juara Liga Inggris yang bisa mencapai sekitar £40 juta (sekitar Rp800 miliar) per musim untuk klub menunjukkan betapa besar pencapaian finansial di level tertinggi tersebut—meski pembagian dana tentu dilakukan ke seluruh tim dan operasional klub.
Meski begitu, Hart tak tergoda untuk kembali bermain, termasuk bersama tim veteran Wythenshawe Vets yang diperkuat sejumlah mantan pemain seperti Stephen Ireland, Joleon Lescott, dan lainnya.
“Tidak, saya tidak tertarik bermain lagi. Saya mencintai sepak bola, tapi saya tipe orang yang kalau sudah masuk, akan total seperti saat masih profesional. Itu tidak sehat,” tegasnya.
Ia juga menilai jika bermain lagi, ia justru akan mengambil tempat orang lain yang masih menikmati posisi tersebut.
Selain menjadi pundit, Hart kini fokus pada proyek barunya bertajuk Mind over Everything. Dalam proyek dokumenter dan podcast tersebut, ia mendalami pola pikir atlet elite seperti petinju Callum Smith, petarung MMA Dakota Ditcheva, dan atlet strongman Luke Stoltman.
Program itu mengeksplorasi pola pikir juara, ketangguhan mental, serta cara menghadapi tekanan di dunia olahraga dan hiburan.
“Saya sangat menyukainya. Ditanya apakah ingin kembali jadi kiper? Tidak. Tapi apakah saya ingin melakukan ini setiap hari? Tentu saja,” kata Hart.
Ia mengaku lebih menikmati menggali cerita dan pengalaman orang lain ketimbang membicarakan dirinya sendiri.
Meski masih akan tampil di ajang amal Soccer Aid dan terbuka untuk laga testimonial mantan rekan setimnya, Hart menegaskan satu hal: ia tak ingin kembali ke rutinitas sepak bola profesional.
“Saya tidak ingin berada di dunia itu setiap hari lagi,” pungkasnya.

