SEPERTI PETIR keras sekali kabar duka itu menerpa telinga saya, Sabtu (13/1/24) malam. Sungguh rasanya saya ingin tenggelam ke dalam bumi.
Hance, begitu saya dan kami menyapa Rosihan Kailinto Nurdin, seorang sahabat sejati, berpulang ke Rahmatullah. Sungguh, saya sama sekali tak mengira sahabat yang satu ini berpulang.
Selasa (9/1/24), saya sempat menemuinya di RS. Primaya, Depok. Bersama Lusi sang istri, kami berbincang. Perawat sebelumnya memberitahu agar Hance tidak banyak bicara. Jantung dan Parunya bermasalah.

Bukan Hance kalau tidak melawan. Tapi, saya berulang mememintanya diam. “Udah, jangan ngelawan Ces,” kata saya berulang kali.
Dari balik alat bantu pernafasan senyum Hance terus mengembang. Selintas tak ada yang mengkhawatirkan.
“Akhirnya ngerasain juga di rawat, Ji,” katanya perlahan.
Sepanjang sejarah, Hance belum pernah sekalipun di rawat. Kami, para sahabat di MK-5 (jl. Minangkabau 5, Manggarai) rumah kediaman Rinta sahabat kami yang dijadikan markas komando STP 1980-90, sering menyebut Hance ini punya ‘pendamping’ hingga kuat.
“Penyakit takut sama dia!” begitu candaan kami.
Berulangkali, saya dan Hance mengantar sahabat-sahabat kami ke perkampungan terakhir. Raja Amin atau biasa kami sapa King Amin, saya, Hance, dan Ifa mengantarkan hingga pemakaman.
Saat Ifa juga berpulang, saya dan Hance menjemput dan mengeluarkan jenazah dari RSPAD. Saat itu musim kovid, saya dan Hance berjibaku hingga jelang tengah malam membantu Difa, putra sulung sahabat kami itu.
“Kapan ya waktu kita?” begitu kata Hance saat bersama jenazah keluar dari RSPAD.
Kami pun singgah untuk makan malam di depan Taman Makam Pahlawan Kalibata.
“Ji, kita pasti akan sama dengan mereka. Gak ada yang bisa membantu kita kecuali amal ibadah dan doa anak sholeh dan sholehah,” ujar Hance sebelum menyantap makanannya.
Saat kami berpisah di Stasiun Pasar Minggu, Hance menutup pintu mobil saya sambil berujar: “Pasti datang waktu kita, Ji,” katanya sambil terus berjalan masuk ke stasiun kereta api.
LUAR BIASA
Bagi saya, Hance sungguh sahabat sejati. Tahun 1978, saat saya masuk STP, sebagai senior Hance benar-benar memberikan kenyamanan yang luar biasa. Sesaat saja kami bisa langsung dekat. Seperti ada yang menuntun dari dalam hati hingga tak terasa 44 tahun sudah kami bersahabat.
Ada tiga kisah hidup yang saya jalani di mana Hance punya peran sangat luar biasa. Kesaksian yang indah ini, in syaa Allah akan saya sampaikan kelak di akhirat.
Pertama, Hance memperkenalkan saya dengan mahasiswi tingkat satu STP, Irda namanya. Di lapangan sepakbola Kanisius, Kampus tercinta STP itulah Allah telah menetapkan jodoh saya melalui Hance.
Kedua, ketika Desember 1979 saya diterima di Majalah Olahraga Olympic, sebagai sahabat dan senior Hance meminjamkan tustel Nikonnya untuk saya pakai. Lewat tustel itulah, foto-foto saya bisa menyebar secara nasional.
Ketiga, satu hari di tahun 1980, saat Oom Andi Cella Nurdin, tugas ke Jakarta. Hance meminta saya bicara dengan ayahnya terkait pergantian motor. Namun ia tidak spesifik meminta motor seperti apa.
Di Asem Reges, Oom Nurdin meminta saya untuk memilih. Saya menunjuk Honda C70, yang saat itu sedang top-topnya. Warna merah, juga menjadi warna paling kondang.
Dulu beli motor tidak seperti sekarang, bayar lalu bawa pulang motornya. Dulu, kita harus menunggu berminggu-minggu setelah pembayaran. Melaui proses berbelit, motor akhirnya tiba di Asrama tempat Hance tinggal di daerah Kramat Sentiong.
Selepas kuliah, Hance mengajak saya ke asramanya. Saat itu Hance masih menggunakan Suzuki 350 cc. “Tuh motorlu,” katanya setelah tiba di asrama.
Rupanya Hance menginginkan Suzuki 350 lagi, bukan Honda bebek. Tentu saya bingung, namun Hance dengan tenang menyerahkan motor itu untuk saya pakai. Ya, hampir dua tahun motor itu menemani tugas-tugas saya.
Sungguh, tak ada orang sehebat Hance.
Kini Hance telah merampungkan tugasnya di dunia. Sabtu 1 Rajab 1445 Hijriah, tepat pukul 18.30, Rosihan Kailinto Nurdin bin Andi Cella Nurdin, berpulang dalam tenang. Ia kembali pada Sang Khalik pemilik seluruh lehidupan dan kematian seluruh makhluk di jagad raya.
Selamat jalan sahabat, semoga Allah ampuni seluruh khilafmu, Allah terima amal-ibadahmu, Allah tempatkan Engkau di sisiNYA, Aamiin ya Rabb.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, wa inna ila rabbina lamunqalibun, allahummaktubhu ‘indaka fil muhsinin, waj’al kitabahu fi ‘illiyyiin, wakhlufhu fi ahlihi fil ghabirin, wa la tahrimnaa ajrahu wala taftinna.
Allahumaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, lahul faatihah.
* M. Nigara, Wartawan Senior

