MANCHESTER, TERMINALNEWS.ID – Pada era 2000-an, menjadi pemain Brasil di Barcelona adalah salah satu “pekerjaan” paling beruntung di dunia sepak bola.
Nama-nama besar seperti Rivaldo dan Dani Alves menikmati kejayaan membela klub sekaligus tim nasional di level tertinggi.
Kala itu, hubungan antara Brasil dan Barcelona seindah laut dan matahari terbenam.
Banyak pemain Latin yang bermimpi berkarier di Spanyol pada pergantian abad.
Namun, bagi Kleberson, keputusan untuk menolak mimpi itu justru menjadi titik balik yang mengubah jalan kariernya.
Setelah membantu Brasil menjuarai Piala Dunia 2002, dunia seakan berada di genggamannya.
Sayangnya, saran seorang rekan setim membawanya ke jalan yang berbeda.
Awalnya, Ronaldinho dijadwalkan bergabung dengannya di Manchester United pada 2003.
Namun di saat-saat terakhir, Ronaldinho membatalkan rencana tersebut dan memilih Barcelona.
Sampai hari ini, Kleberson masih bercanda bahwa Ronaldinho berutang satu janji kepadanya.
Padahal, performa Kleberson di Piala Dunia 2002 sangat mengesankan.
Di final melawan Jerman, ia nyaris mencetak gol lewat tembakan jarak jauh dan menjadi kreator gol kedua Ronaldo.
Pelatih Brasil saat itu, Luiz Felipe Scolari, bahkan mengatakan, “Kleberson selalu jadi nama pertama yang saya pilih, bahkan sebelum Ronaldo.”
Saat itu, banyak klub top mengincarnya, termasuk Celtic, Leeds United, Newcastle, hingga Barcelona. Namun, pilihan Kleberson jatuh kepada Manchester United setelah mendengar rencana Ronaldinho.
Dalam wawancara dengan FourFourTwo, Kleberson berkata, “Saat itu hanya ada dua pilihan: Manchester United dan Leeds. Pilihan saya mudah.”
Manchester United sebenarnya mengincar Ronaldinho sebagai pengganti David Beckham yang hijrah ke Real Madrid. Namun Barcelona bergerak cepat, merebut Ronaldinho.
Akhirnya, United mendatangkan dua pemain Brasil muda: Kleberson dan Cristiano Ronaldo dari Madeira.
Sayangnya, nasib Kleberson berbeda jauh. Sementara Cristiano Ronaldo meroket menjadi bintang dunia dengan lima Ballon d’Or, karier Kleberson justru meredup.
Ia kesulitan beradaptasi dengan kerasnya Liga Inggris, dihantam cedera, dan hanya tampil 30 kali selama dua musim, mencetak dua gol sebelum dilepas ke Besiktas pada 2005.
Kisah pahit Kleberson diwarnai insiden dengan Roy Keane. Eric Djemba-Djemba, rekan setimnya, mengenang bahwa Keane pernah memarahi Kleberson dengan kata-kata kasar saat pertandingan.
“Di ruang ganti dia baik, tapi di lapangan, kalau bisa, kau pasti ingin menembaknya,” ujar Djemba-Djemba kepada The Sun.
Dalam wawancara dengan Manchester Evening News tahun 2019, Kleberson mengaku kesulitan menyesuaikan gaya bermainnya di United.
“Saya mencoba menjadi pemain yang lebih agresif, lebih banyak tekel, lebih banyak umpan, tapi itu bukan gaya saya. Saya tidak bisa berubah,” katanya.
Statistik Karier Kleberson:
| Tahun | Klub | Penampilan |
|---|---|---|
| 1999-2003 | Atletico Paranaense | 80 |
| 2003-2005 | Manchester United | 30 |
| 2005-2007 | Besiktas | 67 |
| 2007-2012 | Flamengo | 86 |
| 2011 | Atletico Paranaense (pinjaman) | 18 |
| 2012-2013 | Bahia | 23 |
| 2013 | Philadelphia Union (pinjaman) | 11 |
| 2014-2015 | Indy Eleven | 18 |
| 2016 | Fort Lauderdale Strikers | 5 |
Setelah gagal di Eropa, Kleberson melanjutkan kariernya di Brasil dan Amerika Serikat sebelum pensiun pada 2016.
Kini, ia tetap aktif di dunia sepak bola, menjabat sebagai asisten pelatih Pascal Jansen di klub New York City FC di Major League Soccer (MLS).


