BerandaNewsNasionalKamala Harris Terima Kekalahan...

Kamala Harris Terima Kekalahan dalam Pemilu

WAHINGTON, TERMINALNEWS.ID – Wakil Presiden Kamala Harris tampak menghela napas dalam-dalam saat memberikan pidato pengakuan kekalahan pada Rabu (hari lalu) di Howard University.

Suaranya sedikit bergetar, dan ia tampak menahan emosi saat mengingat kembali percakapan teleponnya dengan Donald Trump.

“Saya tahu banyak dari kita sedang merasakan berbagai emosi saat ini. Saya mengerti itu,” ujar Harris, menekankan dalam pidato pengakuan tersebut. “Namun, kita harus menerima hasil pemilu ini.”

Harris yang sebelumnya sangat keras mengkritik Trump, bahkan menyebutnya sebagai seorang fasis, tiran kecil, dan tidak stabil secara mental, ternyata tidak mampu mengubah jalannya pemilu.

Trump unggul di hampir semua negara bagian medan pertempuran, meski Harris telah mengerahkan berbagai upaya kampanye termasuk jadwal yang padat dan anggaran kampanye yang besar.

Muncul berbagai spekulasi dan tudingan setelah hasil pemilu. Apakah Presiden Joe Biden seharusnya mundur lebih awal? Apakah Harris sudah cukup mendekati pemilih dari kalangan Demokrat? Apakah pencalonan Harris untuk Presiden sejak awal sudah tidak realistis?

Baca Juga :   UMKM Pertamina Sukses Promosikan Serat Nanas Hingga Raih Transaksi Rp5,7 Miliar di Belanda

Harris yang awalnya tidak merencanakan untuk maju dalam pemilu Presiden hingga tahun 2028, tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan harus memimpin kampanye untuk mengalahkan Trump dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Alih-alih mengandalkan pemilih laki-laki pekerja kulit putih yang sebelumnya mendukung Biden, Harris berfokus membangun koalisi baru, dengan menggaet pemilih perempuan suburban, pemilih kulit hitam, dan juga Republikan anti-Trump.

Selama kampanye terakhir, Harris berkeliling dengan tokoh-tokoh besar seperti keluarga Obama dan bahkan mantan anggota Kongres Republik, Liz Cheney, alih-alih mengandalkan Biden. Ia mengusung isu-isu seperti kesehatan perempuan, kecakapan Trump dalam memimpin, dan perlindungan demokrasi Amerika.

Namun, meskipun bekerja keras sebagai Wakil Presiden, Harris tidak mendapatkan dukungan yang cukup besar dari pemilih yang ia tuju. Pemilih perempuan suburban, pemilih kulit hitam, laki-laki kulit hitam, pemilih Hispanik, serta kalangan independen, pemilih moderat dari Partai Republik, hingga pemilih dari kalangan buruh dan Gen Z tidak menunjukkan antusiasme yang dibutuhkan untuk memenangkan pemilu ini.

Baca Juga :   Ferry Juliantono: Milad 120 Tahun Syarikat Islam Jadi Momentum Perkuat Sinergi Dengan Pemerintah

Seorang ahli strategi progresif, Angelo Greco, berkomentar setelah pidato Harris di Howard, “Semua pemilih ‘Kamala rahasia’ ternyata lebih banyak pemilih Trump yang tak terungkap.”

Para pendukung Harris berpendapat bahwa ia tidak sepenuhnya disalahkan atas hasil ini. Ia mewarisi struktur kampanye yang telah terbentuk oleh Biden, termasuk tim kepemimpinan yang terpecah dan staf senior yang tidak berpengalaman dalam mengorganisir komunitas-komunitas minoritas.

Demokrat sudah menyadari bahwa pemilu ini akan sangat ketat. Harris pun sejak awal mengakui bahwa ia berada di belakang. “Biden mengalami penurunan, ia mundur, kami bersatu, kami melakukan yang terbaik dalam waktu hanya tiga bulan,” ujar Mini Timmaraju, Presiden Reproductive Freedom for All, di pagi hari setelah pemilu.

Baca Juga :   Kemkomdigi Gas poll, Jalankan Program Hasil Terbaik dan Cepat Presiden Prabowo

Partai Demokrat kini harus mengevaluasi mengapa pemilih Amerika merespons dengan cara yang demikian terhadap Harris. “Dan saya rasa itu bukan hanya kesalahan dia,” tambah Timmaraju.

Harris sudah lama menyadari bahwa nasib politiknya akan terkait erat dengan hasil pemilu Biden. Ia telah bekerja keras selama 2,5 tahun terakhir untuk memastikan hal itu tidak terjadi.

Namun akhirnya, keputusan terpenting dalam kariernya justru dibuat oleh Presiden Biden, dan Harris bahkan bukan orang terakhir yang ada di ruangan itu.

Dengan kekalahan ini, Kamala Harris kini harus menghadapi kenyataan bahwa perjuangannya untuk menjadi Presiden Amerika Serikat harus tertunda.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution Meninggalkan Ruang Rapat Paripurna DPRD Sumut, Ini Kata Politisi Nasdem Sumut

NasDem : Hentikan Sikap Arogansi Gubernur Sumut Medan – Keputusan Gubernur Sumut...

Taksi Gelap Viral di Medsos Diduga Rugikan Penumpang, Kepala Terminal Kalideres Imbau Gunakan Angkutan Resmi

Laporan wartawan Terminalnews.id/Budi Utomo TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Viral di media sosial sebuah...

Kementerian UMKM dan BPOM Percepat Akses Perizinan UMK Pangan Olahan

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama...

Kasus Kasat Narkoba Tangsel Diusut Bareskrim, Polri: Anggota Terlibat Narkoba Akan Ditindak Tegas

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri terus...

- A word from our sponsors -