BerandaNasionalWiME dan KALAWAY Institute...

WiME dan KALAWAY Institute Dorong Lintas Generasi Bicara Perubahan Iklim Indonesia

JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Women in Mining and Energy Indonesia (WiME) dan Yayasan Kalbu Atma Winaya (KALAWAY Institute) mendorong dilakukannya dialog lintas generasi tentang perubahan iklim Indonesia.

Munculnya inisiatif kelompok muda berdialog telah mencakup tingkatan edukasi, inovasi, solusi, hingga kolaborasi.

Dukungan pemerintah sangat diperlukan dalam aspek penguatan kebijakan, pengambilan keputusan, dan penghubung lintas generasi.

Dorongan itu muncul dalam gelaran Cross-Generational Dialogue on Climate “Back to Nature” di Jakarta, pekan lalu (20/7).

Diskusi tersebut merupakan hasil kerja sama WiME Indonesia dengan KALAWAY Institute, disponsori oleh HEYVA, dan didukung oleh berbagai gerakan anak muda, diantaranya Bangun Kota, Sa Perempuan Papua, Bali Coffee Club, Manajemen Talenta Papua, Pijar Foundation, Futurist Hub, Aiesec, Akan.id, dan Himpunan Mahasiswa HI UIN Jakarta.

“Perempuan adalah salah satu agen perubahan dengan peran dan potensi yang strategis, baik dalam rumah tangga maupun industri sektor energi kita,” ungkap Hidayatul Mustafidah Rohmawati dari WiME Indonesia.

Menurut Hidayatul, perempuan Indonesia dapat mengambil bagian utama dalam aksi-aksi perubahan iklim global dari tataran lokal, yaitu sebagai manajer energi rumah tangga.

Baca Juga :   Menag: Jangan Membisniskan Haji, Karena Haji Urusan Suci, Harus Suci Pelaksanaannya

“Dalam kultur Indonesia, perempuan mengelola pemakaian energi rumah tangga sehingga seharusnya sangat berkompeten pada saat memilih sumber energi dan biaya yang dikeluarkan,” jelasnya.

Hidayatul juga mendorong perempuan Indonesia menjadi penghubung lintas generasi sehingga tumbuh percakapan antara pemerintah, swasta, dan masyarakat luas yang diwakili oleh generasi muda.

Perjanjian Paris dan Komitmen Indonesia

Negara-negara tengah berusaha mengurangi emisi gas rumah kaca yang dianggap sebagai biang utama perubahan iklim global.

Hal itu terangkum dalam Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim yang ditandatangani oleh 195 negara anggota PBB, termasuk Indonesia, pada tahun 2016.

Komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen dengan usaha sendiri, dan hingga 41 persen dengan bantuan internasional pada tahun 2030.

Dalam rencana percepatan, pada Agustus 2024, pemerintah Indonesia akan merevisi target pengurangan sebesar 31,89 persen dengan usaha sendiri, dan 43,20 persen dengan bantuan internasional pada tahun 2030.

Baca Juga :   Kapolri Buka Puasa Bersama Insan Pers, Tegaskan Media Mitra Strategis Polri

Peneliti Kalaway Institute Jouhannes Faidiban mengatakan perubahan iklim bukanlah sebuah ancaman jangka panjang dan juga bukan konsep abstrak yang terbatas dalam jurnal ilmiah maupun perdebatan politik.

Krisis iklim adalah sebuah kenyataan yang telah mengubah lanskap, mengubah cuaca, dan menjadi ancaman ekosistem bumi kita.

“Kaum muda yang bekerja di sektor tambang dan energi, di tangan kalian terdapat pilihan. Apakah kalian terlibat dalam penghancuran alam dengan praktek-praktek usang yang memprioritas keuntungan atau menjadi agen perubahan dengan menerima tantangan berkelanjutan dan menjadi pemimpin dalam transisi menuju masa depan yang lebih adil dan regeneratif,” kata Faidiban.

Direktur WiME Indonesia, Noormaya Muchlis menyampaikan, diskusi perubahan iklim perlu jembatan untuk estafet lintas generasi sehingga terjadi dialektika.

“Kami ingin mendengar langsung dari anak muda, bukan saja tentang pemahaman mereka tentang perubahan iklim, tetapi juga konsep dan peran yang telah dilakukan dalam menghadapi perubahan iklim. Hasil diskusi tadi sangat jelas, di mana teman-teman muda saling berkolaborasi menjaga alam dari krisis iklim,” tambah Noormaya.

Baca Juga :   Artha Graha Peduli dan PT Makmur Elok Graha Berbagi Berkah Melalui Pasar Murah Sembako

Alan Firmasyaah, Plt. Direktur KALAWAY Insitute menjelaskan bahwa acara berlangsung sekitar 5 jam diawali dengan pemeriksaan kesehatan, pemaparan konsep dengan metode TED Talks, peluncuran keanggotaan WiME dan dimeriahkan penampilan akustik dan puisi.

TED Talks sendiri diisi oleh Jouhanes Faidiban (Researcher Kalaway Institute), Hidayatul Mustafidah (WiME Indonesia), Indra Dwi Prasetyo (Youth & Education Enthusiasts), Dr. Alni Magdalena (Heyva), Abi Sutanrai (Presiden Bangun Kota), Yuanita Budiman (Global Future Fellows, Pijar Foundation) dan Khoiria Oktaviani (Strategic Communication Manager Kementerian ESDM RI).

Tentang WiME Indonesia

Yayasan Perempuan di Tambang dan Energi Indonesia (PERTAGI) atau yang lebih dikenal dengan jenama Women in Mining and Energy (WiME) Indonesia mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam sektor energi dan pertambangan di Indonesia.

WiME Indonesia mendorong kerjasama antara perusahaan, pemerintah, dan pemangku kepentingan untuk pengarusutamaan gender dengan melakukan edukasi dan advokasi.

Tentang KALAWAY

Merupakan yayasan nirlaba yang berfokus pada pendidikan, toleransi, dan keberagaman.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Pemulung Binaan di Shelter Humaniora Mulai Program Tabungan dan Dana Tali Kasih

TERMINALNEWS.ID, BEKASI - Kegiatan kebersamaan bersama para pemulung binaan di Shelter...

Satdik 1 Kodiklatal Tanjung Uban Gelar Pelantikan dan Penyumpahan Dikmata TNI AL XLVI

TERMINALNEWS.ID, TANJUNG UBAN - Satdik 1 Kodiklatal Tanjung Uban menggelar Upacara...

Farida Farichah Hadiri Sesi Diskusi Bersama Ketua Koperasi Serba Usaha Talenta GMIT

TERMINALNEWS.ID, KUPANG - Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Farida Farichah menghadiri sesi...

Gagas JIF Tour dan Junior International Football Expo, TJE yang Ingin Jadikan Jakarta ‘Dubai-nya Sepak Bola Asia’

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA — Pegiat sepak bola usia dini, Taufik Jursal Effendi...

- A word from our sponsors -

spot_img