JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Sekretaris Panitia Pelaksana Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2025, Taufik Jursal, menyoroti pentingnya kompetisi usia muda sebagai fondasi utama pembinaan sepakbola nasional.
Menurutnya, banyak klub di Indonesia belum memiliki sistem pembinaan berjenjang yang memadai, sehingga potensi pemain muda sulit berkembang secara maksimal.
“Klub tanpa kompetisi usia muda itu seperti motor tanpa lampu di malam gelap,” ujar Taufik Jursal.
Dikatakannya, melalui ajang Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2025, panitia berupaya memberikan kesempatan kepada klub-klub muda untuk mempersiapkan manajemen klub, pelatih, dan pemain agar memiliki pengalaman bertanding lebih banyak.
Dalam satu musim, kompetisi ini diikuti oleh 16 klub, dengan masing-masing tim berpeluang bermain hingga 30 kali dalam setahun atau setara dengan 2.030 menit jam bertanding.
“Inilah cara terbaik untuk membentuk mental, keterampilan, dan kesiapan pemain muda,” jelas Taufik Jursal.
Lebih jauh, Taufik menilai kondisi sepak bola nasional saat ini sedang mengalami krisis pembinaan.
Taufik Jursal menyoroti bahwa program ambisius seperti target menuju Piala Dunia sering kali tidak diimbangi dengan sistem pembinaan yang realistis dan berkelanjutan.
“Kita harus jujur, program menuju Piala Dunia sering kali hanya sebatas ambisi tanpa memperhatikan realita di lapangan,” tuturnya.

Menurutnya, ada sejumlah persoalan mendasar yang harus segera dibenahi:
-
Kebijakan naturalisasi yang berlebihan telah menggeser fokus pembinaan pemain muda lokal.
-
Kompetisi profesional nasional kini lebih mengedepankan penampilan pemain asing, sementara kontribusinya terhadap peningkatan kualitas klub Indonesia di level Asia masih minim.
-
ASPROV dan ASKOT belum berperan optimal dalam mendukung pengembangan sepak bola daerah.
-
Minimnya kompetisi usia muda berjenjang membuat regenerasi pemain berbakat terhambat.
-
Krisis manajemen klub di level akar rumput; hanya 3–5 klub yang memiliki sistem pembinaan dan manajemen yang jelas.
Riset Ulang Potensi Sepak Bola Indonesia
Taufik menegaskan, sepak bola Indonesia membutuhkan riset ulang terhadap potensi nasional.
“Kita punya sumber daya besar, tapi tanpa arah dan riset pembinaan yang terukur, kita hanya akan terus berjalan di tempat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kehadiran kompetisi seperti Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2025 bisa menjadi salah satu solusi konkret untuk memperbaiki sistem pembinaan pemain muda di Indonesia.
Dengan program terstruktur dan berkelanjutan, diharapkan Indonesia mampu melahirkan kembali pemain-pemain hebat seperti legenda striker Risdianto, yang hingga kini masih dianggap belum tergantikan.


