MILAN, TERMINALNEWS.ID – Skuad Inter Milan menerima sambutan yang sangat kontras dengan pahlawan ketika kembali ke Italia pada Minggu (1/6/2025) sore waktu setempat.
Kekalahan telak 0-5 dari Paris Saint-Germain (PSG) di final Liga Champions membuat kepala para pemain tertunduk lesu setibanya di Bandara Malpensa, Milan.
Kekalahan tersebut menjadi yang paling memalukan dalam sejarah final Liga Champions. PSG tampil dominan di Allianz Arena, Munich, dan mencetak lima gol tanpa balas melalui brace Désiré Doué serta masing-masing satu gol dari Achraf Hakimi, Khvicha Kvaratskhelia, dan Senny Mayulu yang baru berusia 18 tahun.
Ini menjadi gelar Liga Champions pertama bagi PSG, sementara bagi Inter Milan, ini adalah kekalahan kedua di final dalam tiga tahun terakhir — setelah kalah dari Manchester City pada 2023.
Gagal di Liga Champions dan Serie A
Derita Inter Milan semakin lengkap karena sepekan sebelumnya mereka juga gagal menjuarai Serie A. I Nerazzurri hanya finis satu poin di belakang Napoli di klasemen akhir, membuat musim ini berakhir tanpa gelar utama.
Namun kegagalan tersebut tampaknya tidak bisa diterima oleh para pendukung. Kepulangan skuad Inter ke Italia pun berlangsung sunyi. Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, hanya satu suporter bernama Marco yang datang menyambut di bandara.
“Saya satu-satunya idiot yang datang,” ujar Marco, meskipun ia tetap memberikan tepuk tangan sebagai bentuk dukungan.
Sementara itu, fans AC Milan turut menyindir rival sekota mereka dengan membentangkan spanduk di jalan tol bertuliskan, “Selamat datang kembali juara Eropa,” sebagai bentuk ejekan atas kekalahan menyakitkan tersebut.
Masa Depan Simone Inzaghi Masih Tanda Tanya
Setelah kekalahan telak tersebut, masa depan pelatih Simone Inzaghi mulai dipertanyakan. Inzaghi telah menangani Inter sejak 2021 dan membawa timnya ke dua final Liga Champions, namun semuanya berakhir dengan kekalahan.
“Kita akan lihat beberapa hari ke depan bersama klub,” ucap Inzaghi seusai laga. “Setelah final seperti ini — yang kedua dalam tiga tahun — terlalu banyak kekecewaan untuk berpikir jernih. Akan ada waktu untuk membicarakannya dengan tenang bersama klub.”
Presiden klub, Giuseppe Marotta, menyatakan bahwa hasil ini tidak akan langsung mempengaruhi masa depan sang pelatih. “Kami akan bertemu dengan pelatih karena klub ini tidak terbiasa membiarkan manajer memasuki tahun terakhir kontraknya tanpa kejelasan,” kata Marotta.
“Tidak ada revolusi. Kami hanya akan mendengarkan apa yang ingin dia sampaikan. Sekali lagi, dari pihak kami, kami merasa bangga dan terhormat jika bisa melanjutkan kerja sama dengannya.”


