JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Persaingan di Pilkada Jakarta 2024 semakin kompetitif, terutama antara pasangan calon Ridwan Kamil-Suswono dan Pramono Anung-Rano Karno.
Berbeda dari Pilkada sebelumnya, kali ini tidak ada isu identitas sosial yang dominan dalam kontestasi politik ibu kota.
Berdasarkan survei Litbang Kompas yang dilansir kompas.id yang dilaksanakan pada 20-25 Oktober 2024, satu bulan sebelum pemungutan suara pada 27 November mendatang, pasangan Pramono Anung-Rano Karno yang diusung oleh PDI-P menguasai 38,3 persen dukungan pemilih.
Sementara itu, pasangan Ridwan Kamil-Suswono berada tidak jauh di belakang dengan dukungan 34,6 persen, menunjukkan persaingan yang sangat ketat.
Di sisi lain, pasangan independen Dharma Pongrekun-Kun Wardana masih tertinggal jauh dari kedua pesaingnya.
Uniknya, Pilkada kali ini menunjukkan wajah politik yang lebih damai dibanding Pilkada DKI Jakarta 2017 yang penuh dengan isu identitas sosial seperti agama dan etnis.
Kini, dukungan pemilih dari beragam latar belakang suku di Jakarta seperti Jawa, Tionghoa, Batak, Bugis, dan Minang, terbagi rata di antara dua pasangan calon utama.
Hal ini menandakan bahwa konsentrasi dukungan berbasis identitas sosial tidak lagi menjadi faktor utama.
Di samping itu, perbedaan latar belakang usia pemilih juga memberikan warna tersendiri dalam Pilkada kali ini.
Kaum muda, khususnya generasi Z, lebih banyak memilih pasangan Ridwan-Suswono, sementara kelompok usia yang lebih tua cenderung mendukung pasangan Pramono-Rano.
Fenomena ini menunjukkan pola preferensi yang menarik di tengah masyarakat Jakarta yang semakin heterogen.
Pilkada Jakarta 2024 menjadi ajang penting yang bukan hanya menentukan pemimpin baru ibu kota, tetapi juga mencerminkan perkembangan dinamika politik tanpa sentimen identitas yang sering kali memecah belah.


