TERMINALNEWS.ID, NEW JERSEY – Argentina memastikan tempat di final Piala Dunia setelah membalikkan keadaan untuk mengalahkan Inggris dengan skor 2-1 pada laga semifinal. Kemenangan dramatis ini sekaligus mengakhiri rekor panjang Bayern Munchen yang selalu memiliki wakil di setiap final Piala Dunia sejak 1982.
Inggris sempat berada di atas angin setelah Anthony Gordon membawa The Three Lions unggul pada menit ke-55. Gol tersebut tercipta berkat umpan silang akurat dari Morgan Rogers, membuat pasukan Thomas Tuchel semakin dekat dengan penampilan kedua mereka di final Piala Dunia sepanjang sejarah.
Namun, Argentina bangkit di penghujung pertandingan. Enzo Fernandez menyamakan kedudukan pada menit ke-85 sebelum Lautaro Martinez, yang masuk sebagai pemain pengganti, mencetak gol kemenangan pada menit ke-92. Hasil itu mengantarkan Argentina ke final ketiga mereka dalam empat edisi Piala Dunia terakhir.
Di partai puncak, Argentina akan menghadapi Spanyol.
Kekalahan Inggris juga membawa dampak pada catatan sejarah klub-klub Eropa. Gol Lautaro Martinez memastikan Inter Milan tetap memiliki setidaknya satu pemain yang tampil di setiap final Piala Dunia sejak 1982 hingga 2026, sehingga rekor klub Italia tersebut terus berlanjut.
Sebaliknya, tersingkirnya Inggris membuat Harry Kane gagal tampil di final. Kondisi ini mengakhiri rekor Bayern Munchen, yang selama 44 tahun selalu memiliki pemain di setiap final Piala Dunia sejak edisi 1982.

Inggris kini akan menghadapi Prancis dalam perebutan tempat ketiga yang dijadwalkan berlangsung di Miami pada Sabtu, 18 Juli.
Mantan penyerang Inggris Wayne Rooney mengaku kecewa melihat timnya gagal mempertahankan keunggulan.
“Kami berada dalam posisi yang sangat bagus, tetapi kemudian kami tidak tahu harus berbuat apa. Kami terlalu bertahan dan membiarkan mereka menekan. Mereka terus menciptakan peluang dan akhirnya kami runtuh. Sangat mengecewakan,” ujar Rooney kepada BBC Sport.
Legenda Inggris Alan Shearer menilai Argentina pantas lolos ke final.
“Saya pikir tim yang lebih baik memang menang. Kita harus jujur mengenai hal itu. Argentina beberapa kali membentur tiang dan Inggris juga sempat beruntung. Mereka tidak panik, tetap berpegang pada rencana permainan, dan pergantian pemain mereka berjalan efektif. Mereka memang layak berada di final, meski menyakitkan untuk mengatakannya,” kata Shearer.
Mantan kiper Inggris Joe Hart turut menyoroti pendekatan pelatih Thomas Tuchel setelah timnya unggul.

Menurut Hart, keputusan Inggris untuk bermain terlalu defensif mengingatkannya pada kritik yang dulu kerap diterima Gareth Southgate.
“Gareth Southgate sering dikritik karena memilih bertahan saat Inggris unggul di laga besar. Saya rasa tidak ada yang berubah dalam momen seperti ini. Sebesar apa pun pujian untuk Thomas Tuchel, perubahan yang ia lakukan begitu cepat menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya timnya masih bisa memberikan ancaman kepada Argentina,” ujarnya.


