TEL AVIV, TERMINALNEWS.ID – Perhatian dunia selama konflik antara Iran dan Israel selama ini banyak tertuju pada rudal balistik dan daya hancurnya. Namun di balik itu, drone milik Teheran justru menghadirkan tantangan berbeda—bahkan dalam beberapa hal lebih kompleks.
Sejak perang pecah pada 28 Februari, Iran dilaporkan telah meluncurkan sekitar 550 drone ke wilayah Israel, menurut Institute of National Security Studies (INSS), di samping ratusan rudal balistik. Dalam skala regional yang lebih luas, ribuan drone lainnya juga telah diarahkan ke negara-negara Teluk serta aset militer Amerika Serikat.
Di saat yang sama, Israel juga harus menghadapi serangan harian drone dari kelompok Hizbullah di perbatasan utara. Ancaman ini datang dari jarak lebih dekat, sehingga meningkatkan tekanan terhadap sistem pertahanan udara.
Meski bergerak lebih lambat dan umumnya tidak sedestruktif rudal, drone tetap berbahaya karena sulit dideteksi dan dilacak. Selain itu, sistem pertahanan harus menyesuaikan cara intersepsi karena drone tidak mengikuti jalur parabola seperti proyektil biasa.
Pakar militer Dara Massicot menyebut bahwa perang drone kini mempersulit hampir semua aspek operasi militer—mulai dari alokasi aset angkatan udara hingga perlindungan infrastruktur penting.

Drone Iran memang membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencapai Israel, sehingga ancamannya relatif lebih kecil. Namun, bagi negara-negara Teluk, situasinya jauh lebih serius. INSS mencatat lebih dari 3.500 serangan drone telah terjadi di kawasan tersebut sejak perang dimulai.
Sebaliknya, drone Hizbullah yang diluncurkan dari Lebanon justru lebih berbahaya karena waktu deteksi yang sangat singkat. Dalam beberapa pekan terakhir saja, kelompok itu dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 100 drone ke Israel.
Perkembangan pesat teknologi drone memicu perlombaan senjata baru. Kini, drone tidak lagi sekadar alat pembawa amunisi, tetapi juga menjadi senjata itu sendiri—terutama melalui drone kamikaze atau “one-way attack”.
Drone jenis ini dirancang untuk langsung menghantam target dan meledak saat kontak, sehingga berfungsi sekaligus sebagai kendaraan dan senjata.
Untuk menghadapi ancaman tersebut, Israel mengandalkan sistem pertahanan berlapis. Sistem ini mencakup:
- Iron Dome, untuk mencegat roket jarak pendek dan drone
- David’s Sling, untuk ancaman udara yang lebih kompleks
- Iron Beam, sistem laser berdaya tinggi dengan biaya intersepsi jauh lebih murah
Selain itu, jet tempur dan helikopter serang juga digunakan untuk memburu drone di udara.
Di level lebih lokal, Israel menggunakan sistem seperti Drone Dome dan Drone Guard yang mampu mendeteksi serta menetralisir drone, baik dengan metode “soft-kill” (seperti gangguan GPS) maupun “hard-kill” (menghancurkan langsung).
Belajar dari Perang Rusia-Ukraina
Konflik Rusia-Ukraina menjadi laboratorium nyata dalam perang drone modern. Rusia kerap meluncurkan drone secara massal, sering kali dikombinasikan dengan rudal, untuk membebani sistem pertahanan Ukraina.
Dari pengalaman tersebut, muncul kesimpulan bahwa sistem pertahanan berlapis sangat penting. Deteksi dini menjadi kunci, karena memberikan waktu lebih panjang untuk merespons serangan.
Namun, mendeteksi drone bukan perkara mudah. Ukurannya yang kecil membuatnya sering disalahartikan sebagai burung di radar. Untuk mengatasi hal ini, Ukraina bahkan mengembangkan sistem deteksi berbasis suara (akustik).
Berkat pengalaman tersebut, Ukraina kini menjadi rujukan global dalam menghadapi ancaman drone. Sejumlah negara Timur Tengah bahkan telah meminta bantuan Kyiv untuk melindungi infrastruktur penting mereka.
Drone Shahed Buatan Iran Paling Terkenal
Salah satu drone paling dikenal adalah Shahed-136 buatan Iran. Drone ini relatif murah—diperkirakan hanya sekitar 20.000 hingga 50.000 dolar AS per unit—namun efektif jika digunakan dalam jumlah besar.
Rusia bahkan mengadaptasi desain ini menjadi drone Geran dengan sejumlah peningkatan, termasuk teknologi anti-jamming.
Iran diduga belajar dari taktik Rusia, seperti meluncurkan gelombang drone dan rudal secara bersamaan untuk “membanjiri” pertahanan udara, serta menerbangkan drone di ketinggian rendah agar lebih sulit dideteksi.
Masalah Utama Hadapi Drone Adalah Biaya
Salah satu masalah utama dalam menghadapi drone adalah biaya. Menggunakan rudal mahal untuk menembak jatuh drone murah dianggap tidak efisien.
Sebagai solusi, Ukraina mengembangkan drone pencegat dengan biaya jauh lebih rendah, sekitar 1.000 hingga 4.000 dolar AS per unit. Bahkan, teknologi laser seperti Iron Beam berpotensi menekan biaya intersepsi hingga hanya beberapa dolar per tembakan.
Meski demikian, para analis menilai drone tidak akan menjadi penentu kemenangan perang secara mandiri. Senjata ini tetap akan digunakan bersamaan dengan sistem ofensif lain seperti rudal balistik.
Dengan perkembangan teknologi yang terus melaju, perang drone diprediksi akan menjadi salah satu elemen paling menentukan dalam konflik modern—memaksa negara-negara untuk terus beradaptasi dalam menghadapi ancaman yang semakin canggih dan sulit diprediksi.


