TERMINALNEWS.ID, JAKARTA — Sepak bola Indonesia kembali berduka. Iwan Setiawan, pelatih yang namanya sudah puluhan tahun hilir-mudik di Liga Indonesia, telah berpulang.
Bagi banyak orang, Iwan mungkin hanya deretan nama di daftar pelatih. Tapi bagi anak-anak asuhnya, dia adalah guru, bapak kedua, dan rumah kedua di ruang ganti.
Perjalanan Iwan di bola dimulai sejak muda. Anak Medan kelahiran 5 Juli 1968 ini pernah berseragam Timnas Junior PSSI. Bahkan ia sempat merasakan atmosfer Eropa saat timnya diuji klub-klub besar, salah satunya Bayern Leverkusen. Pengalaman itu menempa mentalnya: tidak takut hadapi tim besar, dan tidak pernah berhenti belajar.
Setelah gantung sepatu, Iwan tidak pernah jauh dari lapangan. Ia memilih jalur kepelatihan. Dan di situlah hidupnya benar-benar dihabiskan.
Dari Persija Junior 1997, lalu Persija senior, Persebaya, Borneo FC, Persela Lamongan, Persibo Bojonegoro, Persema Malang, hingga terakhir Sriwijaya FC. Hampir 3 dekade ia keliling Indonesia. Membangun tim dari nol, menempa pemain muda, sampai menghadapi tekanan dan ekspektasi tinggi suporter.
Yang dikenang orang bukan hanya soal taktik. Tapi soal hati.
“Coach Iwan galak waktu latihan, tapi paling duluan nanyain kalau kita cedera atau ada masalah di rumah,” ujar salah satu mantan pemainnya.
Di foto terakhir yang beredar, ia masih dengan ciri khasnya: jaket training dan tangan memegang papan taktik. Seolah sampai akhir, pikirannya tetap satu: bagaimana membuat timnya lebih baik.
Serikat Masyarakat Bola Indonesia melalui Ketua Umum Tommy R. Arief menyampaikan duka mendalam. Kepergian Iwan bukan hanya kehilangan seorang pelatih berlisensi AFC A Pro, tapi juga kehilangan salah satu penjaga semangat sepak bola pembinaan di Indonesia.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Selamat jalan, Coach Iwan. Terima kasih untuk semua didikan, teriakan di tepi lapangan, dan cinta kepada bola. (Tommy RA)

