TERMINALNEWS.ID, SUKABUMI – Derasnya arus Sungai Cicatih menjadi tantangan sekaligus ruang belajar bagi peserta Ekspedisi Cicatih Elpala.
Memasuki etape ketiga pada Kamis (9/7/2026), tim mulai mengarungi aliran sungai di kawasan Leuwi Lalay, Sukabumi, Jawa Barat, sebagai bagian dari perjalanan panjang yang menghubungkan hulu Sungai Cimelati hingga berakhir di Pelabuhan Ratu.
Namun, ekspedisi ini bukan sekadar menaklukkan medan. Selama delapan hari, 4–11 Juli 2026, para peserta membawa misi yang lebih besar, yakni mendokumentasikan kekayaan alam Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), menyuarakan pentingnya konservasi, sekaligus menyiapkan regenerasi organisasi pencinta alam melalui pengalaman langsung di lapangan.
Kegiatan yang digagas Rumah Elpala bersama anggota aktif Elpala SMA Negeri 68 Jakarta ini juga menjadi proses produksi film dokumenter yang merekam perjalanan melintasi hutan hujan tropis, tebing, air terjun, hingga derasnya Sungai Cicatih.
Perjalanan mendapat dukungan dari Balai TNGHS, Kementerian Kehutanan, serta organisasi pencinta alam Wanadri. Sebelum memasuki pengarungan sungai, peserta lebih dahulu menempuh jalur pendakian menuju Pos 5 di kawasan taman nasional, melewati hutan primer sebelum akhirnya turun menuju aliran Sungai Cicatih untuk memulai pengarungan bersama tim Wanadri.
Pendiri Elpala, Dar Edi Yoga, mengatakan ekspedisi ini dirancang sebagai ruang pendidikan karakter melalui alam terbuka.
“Ekspedisi ini bukan hanya tentang perjalanan menyusuri hutan dan sungai, tetapi bagaimana alam menjadi ruang belajar untuk membentuk karakter, kepemimpinan, disiplin, serta kepedulian terhadap lingkungan. Konservasi bukan sekadar teori, melainkan tanggung jawab yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata,” ujarnya.
Menurut Yoga, keterlibatan alumni dan anggota muda menunjukkan semangat organisasi terus hidup lintas generasi.

“Rumah Elpala hadir untuk menjaga kesinambungan sejarah dan semangat Elpala. Melalui ekspedisi dan film dokumenter ini, kami ingin meninggalkan catatan yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya agar semakin mencintai alam Indonesia,” katanya.
Sementara itu, sutradara film dokumenter Ekspedisi Cicatih Elpala, Eka Bama Putra, menuturkan film yang tengah diproduksi tidak hanya menyajikan lanskap alam dan petualangan, tetapi juga merekam nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh selama perjalanan.
“Kami ingin menghadirkan karya yang menunjukkan bahwa alam Indonesia memiliki kekayaan luar biasa yang harus dijaga bersama. Setiap langkah perjalanan, tantangan di lapangan, dan kebersamaan tim memiliki cerita tentang perjuangan, persaudaraan, serta komitmen menjaga lingkungan,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Wanadri. Ketua Wanadri Perwakilan Jakarta, Fery Irawan, menilai ekspedisi tersebut menjadi contoh bahwa pelajar mampu melaksanakan kegiatan petualangan yang serius melalui persiapan dan latihan yang matang.
Ia menegaskan, setiap ekspedisi harus tetap mengutamakan aspek keselamatan agar sesuai dengan kemampuan peserta.
“Ekspedisi penjelajahan haruslah dalam kerangka safety sehingga aman bagi mereka yang baru melakukan sesuai kemampuan. Harapannya, pelaku ekspedisi bisa terus mengembangkan kemampuan diri serta bermanfaat dalam ekspedisi maupun kehidupan mereka,” kata Fery.
Tim inti ekspedisi terdiri atas Muhammad Nabil, Galuh Parto Legawa, Tiffany Sheena, dan Muhamad Sabil, dengan dukungan tim lapangan, tim operasional base camp, serta relawan Rumah Elpala yang menangani logistik, komunikasi, dan koordinasi selama kegiatan berlangsung.
Ekspedisi dijadwalkan berakhir pada Sabtu (11/7/2026) di Pelabuhan Ratu. Selain menuntaskan perjalanan dari hulu ke hilir, kegiatan ini diharapkan meninggalkan warisan berupa film dokumenter yang tak hanya merekam petualangan, tetapi juga mengajak generasi muda memahami pentingnya menjaga hutan dan sungai sebagai sumber kehidupan.
Bagi Elpala, jejak yang ditinggalkan bukan sekadar lintasan di peta, melainkan nilai-nilai keberanian, tanggung jawab, solidaritas, dan kepedulian terhadap alam yang diharapkan terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.


