DUBAI, TERMINALNEWS.ID – Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel semakin meningkat. Teheran kembali melontarkan ancaman keras terhadap Washington dan Yerusalem di tengah perang yang terus berkecamuk di kawasan Timur Tengah.
Televisi pemerintah Iran pada Kamis (5/3/2026) menayangkan pesan dari seorang ulama terkemuka Iran yang menyerukan pembalasan terhadap Israel dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pernyataan tersebut muncul ketika Iran menghadapi serangan udara gabungan dari AS dan Israel.
Ayatollah Abdollah Javadi Amoli dalam pesannya menegaskan bahwa Iran sedang menghadapi ujian besar dan harus menjaga persatuan nasional.
“Kita berada di ambang ujian besar dan harus menjaga persatuan serta aliansi ini sepenuhnya,” ungkap Ayatollah Abdollah Javadi Amoli.
Dalam pernyataan yang keras, Ayatollah Abdollah Javadi Amoli bahkan menyerukan pertumpahan darah terhadap pihak yang dianggap musuh oleh Iran.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang sebuah kapal tanker Amerika Serikat di bagian utara Teluk Persia hingga terbakar. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi dari pihak AS terkait klaim tersebut.
Dalam pernyataannya yang disiarkan media pemerintah, IRGC juga menegaskan bahwa pada masa perang, jalur pelayaran di Selat Hormuz akan berada di bawah kendali Republik Islam Iran.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global, karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati perairan tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa Washington akan “sangat menyesal” atas serangan torpedo terhadap kapal fregat Iran, Dena.
Serangan tersebut terjadi di perairan internasional pada Rabu (4/3/2026) dan menyebabkan kapal tersebut tenggelam. Sebagian besar awak kapal diduga tewas dalam insiden itu.
Araghchi menyebut serangan tersebut dilakukan tanpa peringatan dan menyebutnya sebagai “tindakan kejam”.
Ancaman lain datang dari Duta Besar Iran untuk Korea Selatan, Saeed Koozechi. Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menerima “banyak peti jenazah” jika memutuskan mengirim pasukan darat ke Iran.
Koozechi juga membela serangan Iran terhadap negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, dengan menyebut langkah tersebut tidak dapat dihindari.
Ia bahkan mendesak Korea Selatan — sekutu utama AS — agar lebih vokal menuntut penghentian apa yang disebutnya sebagai agresi ilegal terhadap Iran.
Sebelumnya, seorang pejabat militer Iran mengatakan negaranya siap menargetkan fasilitas nuklir Israel di Dimona jika AS dan Israel mencoba menggulingkan pemerintahan Iran.
Reaktor nuklir di Dimona diyakini sebagai bagian penting dari program nuklir Israel yang selama ini tidak pernah secara resmi diakui maupun dibantah oleh pemerintah Israel.
Pada Kamis, Iran kembali meluncurkan gelombang baru serangan rudal ke Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Sirene serangan udara dilaporkan berbunyi di Tel Aviv dan Yerusalem setelah sejumlah rudal Iran terdeteksi masuk ke wilayah udara Israel.
Sebagai balasan, militer Israel mengumumkan telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap target infrastruktur di Teheran. Ledakan dilaporkan terdengar di sejumlah lokasi di ibu kota Iran.
Militer Israel juga menyerang target milisi Hezbollah di Lebanon.
Konflik yang terus meningkat ini telah menewaskan lebih dari 1.000 orang di Iran, lebih dari 70 orang di Lebanon, dan sekitar belasan orang di Israel.
Perang tersebut juga mulai mengguncang perekonomian global. Gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 15 persen sejak konflik dimulai.
Selain itu, ratusan ribu pelancong dilaporkan terdampar di berbagai negara Timur Tengah akibat penutupan wilayah udara dan gangguan transportasi.
Militer Israel disebut sedang mempersiapkan operasi militer terhadap Iran setidaknya selama satu hingga dua minggu ke depan, dengan target menghantam ribuan fasilitas milik rezim Iran.
Namun Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan durasi operasi tersebut belum ditentukan.
“Bisa empat minggu, bisa enam minggu, bahkan delapan minggu. Pada akhirnya kami yang menentukan tempo operasi,” ujar Hegseth.
Meski demikian, pejabat militer AS dan Israel menyebut jumlah serangan yang diluncurkan Iran mulai berkurang setelah sejumlah fasilitas peluncur rudal dan drone berhasil dihancurkan.
Di Israel, pemerintah mulai melonggarkan pembatasan aktivitas warga. Tempat kerja diperbolehkan kembali beroperasi jika memiliki tempat perlindungan, sementara sekolah masih tetap ditutup.


