TERMINALNEWS.ID – Pimpinan Formula One diperkirakan akan mengambil keputusan dalam 48 jam ke depan terkait masa depan dua balapan di Timur Tengah, yakni Bahrain Grand Prix dan Saudi Arabian Grand Prix. Keputusan ini muncul seiring meningkatnya konflik di kawasan tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Gelombang pengeboman yang melanda berbagai wilayah Timur Tengah setelah operasi militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda sejak perang dimulai dua minggu lalu.
Situasi ini membuat jadwal logistik F1 berada dalam tekanan besar. Mobil balap serta peralatan penting lainnya yang akan dikirim ke kawasan Teluk harus mulai diberangkatkan pada pertengahan pekan depan, meskipun balapan baru akan digelar pada April. Kondisi tersebut memberi waktu yang sangat terbatas bagi penyelenggara untuk menentukan langkah.
CEO F1, Stefano Domenicali, bersama Presiden Fédération Internationale de l’Automobile (FIA), Mohammed Ben Sulayem, dilaporkan sedang mempertimbangkan situasi dengan sangat hati-hati. Faktor keselamatan sekitar 3.000 personel F1 yang akan bepergian ke lokasi balapan menjadi pertimbangan utama.
Kedua pimpinan tersebut juga terus berkomunikasi dengan penyelenggara lokal di masing-masing negara. Hubungan kerja sama yang telah terjalin lama membuat keputusan ini semakin sensitif, karena tidak hanya melibatkan nilai ekonomi yang mencapai jutaan poundsterling, tetapi juga potensi risiko terhadap keselamatan manusia.
Balapan di Bahrain sendiri merupakan salah satu pelopor F1 di kawasan Timur Tengah. Bahrain Grand Prix diketahui membayar hingga sekitar £40 juta untuk menjadi tuan rumah.
Sementara itu, Saudi Arabian Grand Prix memberikan kontribusi yang bahkan lebih besar, yakni sekitar £60 juta per tahun, menjadikannya salah satu seri paling menguntungkan dalam kalender F1 yang berisi 24 balapan, bersama Qatar Grand Prix.
Menurut laporan media Inggris, besar kemungkinan dua balapan tersebut akan dibatalkan dan tidak digantikan oleh seri lain. Situasi ini berbeda dengan masa pandemi COVID-19 pada 2020, ketika F1 berhasil menyusun ulang jadwal balapan demi memenuhi kontrak hak siar televisi dan menjaga keberlangsungan olahraga tersebut.
Selain itu, Domenicali dan Ben Sulayem juga mulai menyiapkan rencana cadangan untuk dua seri penutup musim, yakni Qatar Grand Prix dan Abu Dhabi Grand Prix, yang dijadwalkan berlangsung pada akhir November hingga awal Desember. Kedua balapan tersebut berpotensi menentukan perebutan gelar juara dunia musim ini.
Namun, seorang sumber dari manajemen F1 menyebutkan bahwa pembahasan mengenai dua balapan tersebut masih terlalu dini. “Balapan itu masih cukup lama. Kami memiliki beberapa opsi, tetapi terlalu cepat untuk mempertimbangkan pembatalan,” ujarnya.
Ketegangan di kawasan Teluk semakin meningkat setelah fasilitas minyak di Bahrain diguncang ledakan akibat serangan rudal Iran yang menargetkan infrastruktur energi pekan lalu. Di sisi lain, pemerintah Arab Saudi juga merupakan mitra penting F1 melalui sponsor perusahaan minyak negara, Saudi Aramco, dengan nilai kerja sama sekitar £40 juta per musim. Kerja sama tersebut diperkirakan tidak akan terpengaruh oleh potensi pembatalan balapan.
Konflik Timur Tengah Memanas
Hingga Jumat sore, konflik di Timur Tengah terus meningkat dan kini memasuki pekan ketiga. Perang skala besar melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Pertempuran semakin intens pada akhir Februari setelah serangan udara menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa tersebut memicu aksi balasan besar-besaran di berbagai wilayah.
Sejak saat itu, Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone ke wilayah Israel, terkadang berkoordinasi dengan kelompok militan Hezbollah. Serangan tersebut menghantam wilayah utara dan tengah Israel serta memaksa jutaan warga sipil berlindung di tempat perlindungan.
Israel kemudian membalas dengan serangan udara besar-besaran yang menargetkan berbagai lokasi di Teheran dan Beirut, termasuk posisi Hezbollah di Lebanon. Laporan terbaru juga menyebutkan adanya operasi darat baru di wilayah tersebut.
Konflik kini semakin meluas setelah Iran juga menargetkan sejumlah negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait, serta infrastruktur minyak Arab Saudi.
Serangan terhadap kapal tanker minyak serta penutupan jalur strategis Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu jalur perdagangan internasional. Sementara itu, sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.


