LONDON, TERMINALNEWS.ID – Memasuki paruh kedua musim Premier League 2025/26, dinamika kursi pelatih kembali menjadi sorotan. Kompetisi kasta tertinggi Liga Inggris dikenal kejam dan sepenuhnya berorientasi pada hasil.
Tak semua manajer bisa berharap menyelesaikan musim dengan aman, meski memiliki reputasi besar atau dukungan finansial kuat.
Pemecatan Ruben Amorim dari Manchester United setelah hanya 14 bulan menjabat menjadi contoh nyata betapa tipisnya batas kesabaran di sepak bola modern.
Di sisi lain, debut gemilang Arne Slot bersama Liverpool yang langsung mempersembahkan gelar juara liga juga mendorong pemilik klub untuk terus menaikkan standar.
Dengan mempertimbangkan performa liga, kiprah di kompetisi lain, tren hasil terkini, ekspektasi manajemen, dukungan suporter, serta warisan sang pelatih di klub, berikut peringkat manajer Premier League yang paling kecil hingga paling besar peluangnya untuk dipecat musim ini.
20. Mikel Arteta (Arsenal)
Posisi musim lalu: Runner-up
Mikel Arteta kembali membawa Arsenal finis di posisi kedua musim lalu dan melangkah hingga semifinal Liga Champions. Meski belum mempersembahkan trofi liga, performa konsisten serta start impresif musim ini—yang membuat Arsenal memimpin klasemen menuju 2026—membuat posisinya sangat aman. Mayoritas fans dan manajemen masih percaya Arteta adalah sosok tepat untuk membawa The Gunners juara.
19. Unai Emery (Aston Villa)
Posisi musim lalu: 6
Unai Emery sukses mengangkat Aston Villa kembali ke level Eropa dan kini kembali bersaing di papan atas. Meski sempat terpeleset di akhir musim lalu, performa solid Villa musim ini memastikan posisi Emery nyaris tak tersentuh.
18. Régis Le Bris (Sunderland)
Status musim lalu: Promosi dari Championship
Pelatih asal Prancis ini langsung mencuri perhatian usai membawa Sunderland kembali ke Premier League. Dengan pendekatan taktis fleksibel dan keberanian memberi peran penting pemain muda, Le Bris membawa The Black Cats bertengger di papan tengah. Keberhasilan ini membuatnya menjadi salah satu manajer paling aman.
17. Pep Guardiola (Manchester City)
Posisi musim lalu: 3
Musim lalu menjadi salah satu periode tersulit Guardiola di City, tetapi kontrak baru hingga 2027 dan kebangkitan performa musim ini—termasuk lolos ke final Carabao Cup—menjaga posisinya. Meski rumor hengkang masih beredar, ancaman pemecatan nyaris nol.
16. Keith Andrews (Brentford)
Posisi musim lalu: 10
Pengganti Thomas Frank ini tampil mengejutkan. Meski kehilangan beberapa pemain kunci, Brentford justru meraih kemenangan besar atas klub-klub elite. Andrews dinilai sukses melanjutkan fondasi yang sudah ada.
15. Michael Carrick (Manchester United)
Posisi musim lalu: 15
Ditunjuk sebagai manajer interim usai kepergian Ruben Amorim, Carrick langsung memberi dampak positif. Statusnya sebagai legenda klub dan serangkaian hasil awal yang meyakinkan membuat posisinya relatif aman hingga akhir musim.
14. Marco Silva (Fulham)
Posisi musim lalu: 11
Silva terus menjaga Fulham sebagai tim papan tengah yang stabil meski sering kehilangan pemain kunci. Dukungan penuh suporter membuatnya nyaris tak tersentuh, meski situasi kontraknya mulai jadi perhatian.
13. Liam Rosenior (Chelsea)
Posisi musim lalu: 4
Rosenior datang dengan reputasi tinggi, namun performa Chelsea masih inkonsisten. Meski mendapat kontrak jangka panjang, tekanan di Stamford Bridge selalu besar jika hasil tak kunjung stabil.
12. Andoni Iraola (Bournemouth)
Posisi musim lalu: 9
Iraola menjelma menjadi salah satu pelatih paling dihormati di Premier League. Meski kehilangan banyak pemain kunci, Bournemouth tetap kompetitif. Risiko pemecatan kecil, tetapi godaan dari klub besar bisa datang kapan saja.
11. David Moyes (Everton)
Posisi musim lalu: 13
Kembalinya Moyes membawa stabilitas di Goodison Park. Meski hasil belum spektakuler, aura positif dan perbaikan performa membuat posisinya relatif aman untuk saat ini.
10. Daniel Farke (Leeds United)
Status musim lalu: Promosi
Sempat diragukan, Farke perlahan membuktikan diri dengan membawa Leeds menjauh dari zona degradasi. Namun, rekam jejaknya di Premier League membuat manajemen tetap waspada.
9. Fabian Hürzeler (Brighton)
Posisi musim lalu: 8
Manajer termuda dalam sejarah Premier League ini tampil menjanjikan. Meski sempat mengalami kekalahan telak, Brighton tetap stabil dan percaya penuh pada proyek jangka panjangnya.
8. Arne Slot (Liverpool)
Posisi musim lalu: Juara
Ironisnya, juara bertahan justru sedang berada di bawah tekanan. Rentetan hasil buruk di awal 2026 membuat sebagian fans mulai cemas, meski kultur Liverpool yang sabar masih melindungi Slot.
7. Eddie Howe (Newcastle United)
Posisi musim lalu: 5
Meski membawa Carabao Cup dan tiket Liga Champions, performa naik-turun musim ini membuat posisi Howe mulai dipertanyakan. Dukungan finansial besar membuat ekspektasi semakin tinggi.
6. Sean Dyche (Nottingham Forest)
Posisi musim lalu: 7
Datang di tengah kekacauan, Dyche menghadapi ancaman degradasi. Jika Forest gagal menjauh dari zona merah, pemecatan bisa menjadi konsekuensi tak terelakkan.
5. Scott Parker (Burnley)
Status musim lalu: Promosi
Kuat di lini belakang, tetapi minim kualitas di Premier League. Burnley terancam degradasi dan Parker berada di bawah tekanan berat.
4. Rob Edwards (Wolves)
Posisi musim lalu: 16
Menggantikan Vitor Pereira, Edwards diwarisi skuad bermasalah. Wolves terpuruk di dasar klasemen dan degradasi tampak sulit dihindari.
3. Oliver Glasner (Crystal Palace)
Posisi musim lalu: 12
Pahlawan FA Cup Palace ini justru menyatakan akan pergi di akhir musim. Dengan performa menurun, pemecatan sebelum musim berakhir bukan hal mustahil.
2. Nuno Espirito Santo (West Ham United)
Posisi musim lalu: 14
Performa West Ham belum stabil dan ancaman degradasi masih menghantui. Nuno belum sepenuhnya aman meski ada tanda-tanda perbaikan.
1. Thomas Frank (Tottenham Hotspur)
Posisi musim lalu: 17
Tekanan terbesar ada di pundak Thomas Frank. Finis buruk musim lalu, ekspektasi tinggi, serta hasil inkonsisten musim ini membuat posisinya di Tottenham paling rawan di Premier League saat ini.


