Peluncuran Novel “Diana Memang Manja” Bukan Nostalgia, Tapi Keberanian Baru
JIKA POLITIK adalah panggung, maka malam 29 Oktober 2026 di Cikeas itu adalah panggung yang berbeda. Tidak ada pidato soal APBN, tidak ada analisis soal koalisi. Yang ada hanya seorang pria 77 tahun, dengan pulpen di tangan, bercerita tentang seorang perempuan bernama Diana.
Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, meluncurkan novel pertamanya, “Diana Memang Manja”.
Di luar, banyak media menulisnya sebagai “novel cinta untuk mengenang Ani”. Itu tidak salah, tapi terlalu sempit.
Yang terjadi di Cikeas malam itu lebih dalam dari sekadar mengenang.
1. Diana Bukan Ani, Diana Adalah Kita
SBY dengan jujur bilang, Diana memang lahir dari lagu Koes Plus yang ia dengar sejak tahun 1973 sebagai taruna. Tapi Diana yang ia temui di Wonosobo selama 5 jam riset itu adalah potret perempuan Indonesia yang ditinggal, yang harus tetap manja meski dunia tidak ramah.

Diana yang ditinggal suami, berjuang sendirian, mirip dengan SBY yang ditinggal Ani pada 1 Juni 2019. Di titik inilah fiksi dan kenyataan bertemu tanpa harus menjadi autobiografi.
SBY tidak menulis memoar. Ia menulis cermin.
2. Pesan Keberanian yang Salah Dipahami
Media online banyak mengutip kalimat SBY: “Lebih bagus do something daripada do nothing”.
Tapi konteksnya hilang.
Kalimat itu SBY ucapkan bukan untuk memotivasi pengusaha atau politisi. Ia ucapkan untuk dirinya sendiri, seorang mantan jenderal dan presiden yang di usia senja harus berani menjadi pemula lagi – menjadi novelis.
Ia bilang: “Saya bukan mualaf, dari tentara, politisi menjadi seniman. Seni itu masa lalu saya. Yang betul adalah the return of the lost artist. Kembalinya seniman setelah mengembara ke mana-mana.”
Sejak kelas 5 SD, SBY sudah menulis cerpen berbahasa Jawa. Ia melukis, ia mencipta lagu. Politik hanya persinggahan 20 tahun dalam perjalanan 77 tahun seorang seniman.
Maka pesan keberanian itu sebenarnya adalah: Berani memulai lagi dari nol, meski semua orang hanya mengenalmu sebagai sesuatu yang lain.
3. Kenapa Novel Ini Penting di 2026?
Di tahun ketika politik Indonesia penuh dengan putusan MK, manuver wapres, dan polarisasi, SBY justru memilih mundur selangkah dan menulis novel cinta.
Itu bukan pelarian. Itu adalah perlawanan paling halus.
Di tengah politik yang gemar membelah, SBY menulis tentang merawat kenangan. Di tengah politik yang gemar melupakan, SBY menulis tentang bagaimana “she is gone, but I never forget”.
Dan di situ letak keberaniannya.
Buku ini diterbitkan Kompas Gramedia dan akan beredar 4 November 2026. Tapi nilainya bukan pada berapa eksemplar terjual.
Nilainya adalah pada pesan bahwa seorang pemimpin pun boleh rapuh, boleh merindukan, dan boleh memilih untuk tetap berkarya dengan cara yang paling manusiawi: menulis cerita cinta.
Finito? Belum. Karena seniman yang kembali, tidak pernah benar-benar selesai. (Tommy R. Arief)

