JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Tiga manajer Sekolah Sepak Bola (SSB) peserta Liga Jakarta 2026 membeberkan alasan utama timnya mengikuti kompetisi usia muda berdurasi panjang tersebut. Ketiganya adalah Tengku Khairul Wisal (Bintang Ragunan), Risat Sucahyo (BTC), dan Edwar Martinus (Satria Sanggeni).
Bintang Ragunan turun di dua kategori sekaligus, U-17 dan Liga Soeratin U-15. Adapun BTC dan Satria Sanggeni bersaing di U-17. Hingga putaran kedua, BTC dan Satria Sanggeni mampu bertahan di papan atas klasemen.
Tengku Khairul Wisal menyatakan kualitas penyelenggaraan menjadi alasan utama Bintang Ragunan bergabung. “Kami sangat antusias mengikutsertakan anak didik di kompetisi yang digelar dengan serius, lapangannya strategis dan bagus, serta biaya terjangkau,” ujarnya.
Risat Sucahyo menyebut Liga Jakarta menempatkan pembinaan usia muda di atas faktor komersial. “Biaya terjangkau, tempat pertandingan nyaman dan mudah diakses, serta peserta yang sudah punya nama,” katanya.
Edwar Martinus menegaskan tujuan Satria Sanggeni adalah menambah jam terbang. “Kami ingin mencoba tantangan melawan tim SSB di luar Tangerang Selatan,” ujarnya.
Target Utama Bukan Juara
Ketiga manajer sepakat bahwa target utama bukanlah gelar juara. Tengku Khairul Wisal menyatakan pelatih memiliki target utama dan sekunder. “Target utama adalah memastikan semua siswa memiliki progres dalam teknik, skill, dan fisik sesuai usia, serta rasa gembira bermain sepakbola. Sepakbola tidak boleh menjadi beban,” tegasnya.
Risat Sucahyo menambahkan pembentukan karakter menjadi prioritas BTC. “Anak didik belajar character building, tekanan mental, dan sportifitas—respect, teamwork, honesty, responsibility—hal yang tidak dipelajari dalam latihan,” jelasnya.
Edwar Martinus menyebut pembinaan Satria Sanggeni diarahkan pada kegiatan positif dan jalur karier sepak bola yang lebih tinggi.
Waktu Latihan Terbatas
Tantangan terbesar yang dihadapi ketiga manajer sama: keterbatasan waktu latihan. Tengku Khairul Wisal menyebut jadwal latihan anak didik bentrok dengan jam belajar dan ekstrakurikuler. “Cukup sulit membentuk tim yang kuat dalam menghadapi setiap pertandingan, dan ini juga dirasakan SSB lain,” akunya.
Edwar Martinus merasakan hal serupa. “Di usia 16-17 tahun, banyak kegiatan di luar sepak bola, sehingga jadwal latihan tidak pernah lengkap,” katanya.
Risat Sucahyo menyebut BTC menerapkan prinsip “fleksibel tapi tegas” dalam menyelaraskan kepentingan tim dan siswa didik.
Pendanaan dan Mekanisme Pelatih
Soal pendanaan, BTC mengambil porsi terbesar pembiayaan melalui manajemen dan pengurus, dengan kontribusi siswa didik dalam batas wajar serta donasi orang tua yang mampu. Bintang Ragunan mengandalkan komitmen dukungan dana orang tua yang disepakati sebelum event.
Satria Sanggeni tidak memiliki mekanisme khusus dalam pemilihan pelatih. “Pelatih saat ini sudah bersama pemain lebih dari dua tahun, dan tidak ada target yang dibebankan,” kata Edwar Martinus.
BTC menekankan integritas dan visi yang sama dengan manajemen sebagai faktor terpenting dalam pemilihan pelatih, di samping sertifikasi kepelatihan.
Aspirasi Orang Tua
Bintang Ragunan mengikat orang tua dengan komitmen sebelum event: mendukung sampai selesai, mendukung pendanaan, mematuhi aturan panitia, dan tidak bersikap negatif. “Pelatih wajib memainkan pemain yang masuk line up dan terdaftar meski kualitasnya belum mumpuni. Tidak mengapa kalah, yang penting semua menjalankan peran dengan baik,” ujar Tengku Khairul Wisal.
BTC memilih komunikasi terbuka, termasuk mewajibkan orang tua menyaksikan anaknya bertanding. “Jika ada yang tidak paham, kami persilakan memilih yang terbaik bagi anaknya dan kami tetap mendukung,” kata Risat Sucahyo.
Liga Jakarta 2026 masih bergulir setiap pekan dengan 14 pertandingan per tim di putaran pertama, belum termasuk putaran kedua.

