TERMINALNEWS.ID, TURIN – Luciano Spalletti mengakui Juventus tampil jauh di bawah standar saat dipermalukan Lazio dengan skor 0-3 pada lanjutan Serie A 2026/2027.
Pelatih Bianconeri itu menilai timnya kalah dalam hampir semua aspek permainan dan menegaskan bahwa perubahan harus segera dilakukan.
Kekalahan di Allianz Stadium, Minggu (18/10/2026), menjadi pukulan telak bagi Juventus yang sebelumnya sedang berada dalam kepercayaan diri tinggi setelah meraih kemenangan dramatis 2-1 atas Celta Vigo pada laga tandang Liga Europa, Kamis lalu.
Namun, momentum positif tersebut gagal dipertahankan. Juventus justru tidak mampu memberikan perlawanan berarti ketika menghadapi Lazio yang tampil lebih efektif dan terorganisasi.
Tiga gol kemenangan tim tamu dicetak Oliver Provstgaard melalui sundulan, Gustav Isaksen lewat tembakan menyilang, serta Fisayo Dele-Bashiru yang menuntaskan serangan balik pada menit-menit akhir pertandingan.
Spalletti sendiri tidak mendampingi tim dari pinggir lapangan karena menjalani hukuman larangan mendampingi tim akibat insiden dengan Fabio Pisacane, pelatih Cagliari. Posisi Spalletti di area teknis pertandingan diisi asistennya, Marco Domenichini.
Juventus Kalah dalam Segala Hal
Spalletti tidak berusaha menutupi kekecewaannya setelah menyaksikan penampilan buruk anak asuhnya. Ia menilai Juventus kehilangan kendali permainan, tidak memiliki gagasan yang jelas, dan gagal menunjukkan intensitas yang dibutuhkan untuk bersaing.
“Ini jelas Juventus yang inferior. Kami tidak mampu mengendalikan pertandingan maupun memiliki gagasan tentang bagaimana mengarahkan permainan,” ujar Spalletti kepada DAZN Italia.
Pelatih asal Italia itu juga menyinggung padatnya jadwal pertandingan setelah Juventus baru kembali dari Vigo pada Jumat pukul 04.00 waktu setempat.
Menurutnya, tim pelatih telah memberikan waktu pemulihan kepada para pemain dengan bantuan staf kebugaran. Spalletti juga melakukan sejumlah perubahan dengan menurunkan enam pemain baru dalam susunan tim.
Akan tetapi, upaya tersebut tidak memberikan hasil yang diharapkan.
“Kami lambat, baik secara fisik maupun mental. Dalam sepak bola, Anda harus mampu membaca pergerakan lawan dan bola. Jika terlalu lambat bereaksi, tidak menunjukkan semangat atau ritme permainan, taktik dan sistem menjadi tidak relevan,” katanya.
Kekecewaan juga terlihat dari reaksi pendukung Juventus di Allianz Stadium. Sejumlah suporter yang bertahan hingga peluit akhir melontarkan ejekan dan cemoohan kepada para pemain setelah kekalahan memalukan tersebut.
Juventus Kian Mengkhawatirkan
Hasil negatif ini membuat situasi Juventus semakin sulit. Setelah menjalani tujuh pertandingan Serie A, Bianconeri baru mengumpulkan 11 poin dan tertinggal delapan poin dari pemuncak klasemen.
Catatan tersebut bahkan lebih buruk dibandingkan pencapaian Juventus pada periode awal kepelatihan Igor Tudor musim lalu. Saat itu, Juventus masih mampu mengoleksi 12 poin dari tujuh pertandingan sebelum tekanan terhadap sang pelatih semakin meningkat.
Sementara itu, Thiago Motta mengumpulkan 13 poin setelah tujuh pertandingan pada periode singkatnya bersama Juventus. Perbandingan tersebut memperlihatkan tren penurunan performa yang harus segera dihentikan.
Spalletti menilai persoalan Juventus bukan hanya terletak pada strategi. Ia juga menyoroti kurangnya tempo permainan, minimnya kreativitas, serta mentalitas pemain ketika menghadapi kesulitan.
“Tanpa tempo, tanpa gagasan, tanpa berlari, tanpa keinginan untuk bekerja keras, dan ketika kami rapuh dalam duel serta menundukkan kepala saat keadaan tidak berjalan baik, semua itu adalah hal-hal yang tidak saya sukai,” tegasnya.
Desak Pemain Tunjukkan Reaksi
Dalam kesempatan tersebut, Spalletti juga menanggapi pandangan Gennaro Gattuso mengenai kecenderungan pemain sepak bola modern yang mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Menurut Spalletti, setiap pemain harus memiliki karakter kuat dan mampu bangkit ketika situasi tidak berjalan sesuai harapan.
“Hal terpenting adalah menunjukkan reaksi, bukan menyerahkan diri pada keadaan,” ujar Spalletti.
“Karier kami tidak hanya bergantung pada keberuntungan. Kami harus berjuang untuk mendapatkan kesempatan. Kami harus belajar dari situasi seperti ini. Ada pemain muda yang mau berjuang, tetapi ada pula yang langsung terpuruk ketika menghadapi hambatan pertama. Setiap orang memiliki karakter berbeda.”
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Spalletti menginginkan perubahan mentalitas di dalam skuad Juventus. Ia tidak ingin para pemain terus kehilangan kepercayaan diri ketika menghadapi tekanan pertandingan.
Spalletti Pertimbangkan Metode Kerja
Kekalahan dari Lazio membuat Spalletti harus mengevaluasi pendekatannya terhadap tim. Ia mengakui ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dan perubahan tidak bisa lagi dihindari.
Menurutnya, terdapat dua aspek utama yang perlu diperiksa, yakni cara berkomunikasi dengan para pemain dan metode latihan yang selama ini diterapkan.
“Jelas, kami harus melakukan analisis. Hanya ada dua kemungkinan: membahas cara kami berbicara kepada tim atau metode kerja yang digunakan. Sesuatu harus diubah, itu sudah jelas,” kata Spalletti.
Ia juga mengaku terkejut dengan buruknya penampilan Juventus, terutama karena merasa tidak mengubah pendekatannya dalam membangun hubungan dengan para pemain.
“Saya juga terkejut dengan penampilan ini. Saya harus memikirkannya secara serius karena saya tidak mengubah cara berbicara kepada para pemain. Saya ingin berkomunikasi dengan mereka dan membangun hubungan yang baik. Sejak dahulu, memang seperti itulah cara saya bekerja,” lanjutnya.
Spalletti bahkan membuka kemungkinan untuk mengevaluasi hubungannya dengan skuad secara lebih mendalam.
“Mungkin saya harus menganalisis hubungan saya sendiri dengan tim. Hubungan itu dibangun berdasarkan kejujuran dan keadilan. Mereka sendiri pasti menyadari bahwa apa yang kami lakukan hari ini tidak cukup baik.”
Kekalahan telak dari Lazio menjadi peringatan serius bagi Juventus. Dengan perolehan hanya 11 poin dari tujuh pertandingan, Bianconeri dituntut segera memperbaiki performa jika tidak ingin semakin tertinggal dalam persaingan papan atas Serie A musim ini.
Bagi Spalletti, persoalannya kini bukan sekadar mencari formula taktik yang tepat, melainkan juga mengembalikan intensitas, keberanian, dan mentalitas bertanding para pemain Juventus.

