TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Maulid Nabi Muhammad SAW 5 September 2026 di Masjid Raya Tebet ditutup dengan cara yang paling Maluku Utara: bukan dengan pidato, tapi dengan makan Papeda bersama di cafe milik seorang non-muslim.
Di Bangi Kopi, Jl. Raya Pasar Minggu milik Ci Fanny The — muslim dan non-muslim duduk satu meja. Basudara.
JAKARTA Terminal News – Ada pemandangan yang lebih indah dari suksesnya Maulid Nabi Muhammad SAW pada 5 September 2026 di Masjid Raya Tebet kemarin.

Pemandangan itu terjadi siang ini di Jl. Raya Pasar Minggu.
Ketua Panitia Nabil M. Salim resmi membubarkan panitia Maulid. Tempatnya bukan di aula, melainkan di Bangi Kopi milik Ci Fanny.The
Siapa Ci Fany The? Ia adalah salah satu pengusaha sukses di Jakarta. Ia seorang non-muslim.juga ada Doktor Kusame yg non muslim tokoh dari Halmahera Utara
Dan di situlah letak indahnya.
Siang ini, di cafe milik Ci Fanny, aroma shalawat Maulid bertemu dengan harum ikan bakar rica dan Papeda yang mengepul. Panitia Maulid yang semuanya muslim, duduk makan bersama, dilayani dengan penuh tawa oleh pemilik cafe yang non-muslim.
Tidak ada sekat. Tidak ada canggung.

Inilah yang orang Maluku Utara sebut: Muslim dan non-muslim semua basudara. Marimoi NGONE Futuru.
“Acara Maulid kita 5 September kemarin di Masjid Raya Tebet sukses karena kebersamaan. Penutupnya harus juga mencerminkan ajaran Rasulullah tentang toleransi. Saya sengaja pilih Bangi Kopi milik Ci Fanny, beliau non-muslim, tapi beliau adalah keluarga kami. Inilah wajah Maluku Utara yang sebenarnya,” ujar Nabil M. Salim.
Acara pembubaran panitia ini juga dirangkaikan dengan arisan Kitorang Bacarita Diaspora Maluku Utara.
Ci Fanny sendiri terlihat sibuk memastikan Papeda tidak putus, kuah kuning tetap panas, dan semua tamu kebagian. Ia tersenyum ketika para ibu-ibu berkerudung berterima kasih.

Di meja itu, Papeda menjadi simbol. Lengket, menyatukan, tidak bisa dipisahkan — seperti halnya toleransi orang Malut.
Maulid Nabi selesai di masjid pada 5 September lalu. Tapi maknanya baru benar-benar hidup hari ini di Bangi Kopi Pasar Minggu: bahwa cinta kepada Rasulullah SAW juga berarti menjaga persaudaraan dengan sesama manusia, apa pun agamanya.
Laporan Tommy R.Arief dari Cafe Bangil, Jl. Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan

